Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel mengancam jalur minyak terpenting dunia. Harga energi melonjak, ekonomi global berada di bawah bayang-bayang krisis.
TEHERAN (gokepri) – Iran pada 11 Maret memperingatkan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel dapat berubah menjadi perang panjang yang akan “menghancurkan” ekonomi global. Peringatan itu disampaikan setelah rangkaian serangan militer membuat lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz hampir terhenti.
Ancaman tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki hari ke-12 sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
- Mojtaba Khamenei, Pewaris di Tengah Api Teheran
- Harga BBM Subsidi Tak Naik sampai Lebaran
- Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasokan Energi Asia
Harga minyak dunia langsung melonjak sejak operasi militer itu dimulai. Pasar energi global bereaksi cepat terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dari Teluk Persia, wilayah yang selama puluhan tahun menjadi pusat produksi energi dunia.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam sistem energi global. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dilalui sekitar 20 persen suplai minyak dunia. Selain minyak, jalur tersebut juga menjadi rute penting bagi perdagangan gas alam dan sekitar sepertiga pasokan pupuk global yang mendukung produksi pangan dunia.
Namun dalam beberapa hari terakhir, aktivitas pelayaran di kawasan itu hampir berhenti. Serangan rudal dan drone Iran, serta ancaman ranjau laut, membuat perusahaan pelayaran dan perusahaan energi mengkaji ulang keamanan jalur tersebut.
Iran bahkan menembaki dua kapal komersial yang memasuki kawasan Teluk. Menurut otoritas Iran, kapal-kapal itu tetap melintas setelah mengabaikan peringatan dari angkatan lautnya. Salah satu kapal yang terkena serangan adalah kapal kargo Thailand, Mayuree Naree. Angkatan laut Oman kemudian mengevakuasi 20 awak kapal dari kapal tersebut.
Foto yang dirilis Angkatan Laut Thailand memperlihatkan asap hitam tebal membubung dari badan kapal yang terbakar di tengah laut.
Di tengah eskalasi itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha menenangkan kekhawatiran pasar. Ia mengatakan konflik tersebut akan segera berakhir dan menjanjikan keamanan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Dalam kunjungannya ke Ohio, Trump menyatakan militer Amerika telah menyerang 28 kapal Iran yang diduga menanam ranjau laut. Menurut dia, hampir tidak ada lagi target militer Iran yang tersisa untuk diserang.
“Perang ini akan segera berakhir,” kata Trump dalam wawancara dengan media Axios.
Namun pernyataan itu tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap Israel. Militer Israel menyatakan masih memiliki banyak target militer di Iran dan berencana memperluas operasi.
“Kami akan memperluas operasi kami,” kata juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin dalam konferensi pers yang disiarkan televisi.
Sementara itu, Iran justru mengisyaratkan kemungkinan perang yang lebih panjang. Ali Fadavi, penasihat komandan Korps Garda Revolusi Iran, mengatakan Amerika Serikat dan Israel harus mempertimbangkan risiko konflik berkepanjangan.
“Amerika Serikat dan Israel harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka akan terlibat dalam perang jangka panjang yang akan menghancurkan ekonomi Amerika dan ekonomi dunia,” kata Fadavi kepada televisi pemerintah Iran.
Ketegangan tersebut memicu kepanikan di pasar energi global. Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melakukan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah organisasi itu.
Sebanyak 400 juta barel minyak akan dilepas ke pasar guna menahan lonjakan harga energi. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan langkah itu bertujuan meredam dampak langsung gangguan pasokan.
“Ini adalah tindakan besar untuk meredakan dampak langsung dari gangguan pasar,” kata Birol kepada wartawan.
Namun ia menekankan bahwa langkah tersebut hanya bersifat sementara. Stabilitas pasar energi, menurut dia, hanya bisa kembali jika lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal.
“Hal paling penting untuk memulihkan aliran minyak dan gas yang stabil adalah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz,” ujarnya.
Eskalasi konflik juga meluas ke berbagai kawasan Timur Tengah. Iran mengancam akan menargetkan pusat ekonomi dan bank yang dianggap memiliki kaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Ancaman itu mendorong sejumlah perusahaan internasional mulai mengevakuasi karyawan mereka dari Dubai.
Serangan juga dilaporkan terjadi di berbagai titik di kawasan Teluk. Drone jatuh di dekat Bandara Dubai dan melukai empat orang. Serangan drone juga menghantam tangki bahan bakar di Pelabuhan Salalah di Oman.
Konflik turut menyeret Lebanon setelah kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran menyerang Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian membalas dengan serangan udara ke Beirut.
Siaran langsung AFPTV pada 11 Maret menangkap momen ledakan besar di pusat kota Beirut ketika sebuah bangunan apartemen dihantam serangan udara. Warga setempat menggambarkan kepanikan yang terjadi saat serangan berlangsung.
“Saya berlari dari satu ruangan ke ruangan lain, menarik istri dan anak saya keluar dan menyembunyikan mereka di balik dinding,” kata Fawzi Asmar, pemilik toko roti di jalan yang sama dengan lokasi serangan.
Menurut otoritas Lebanon, dalam sepuluh hari pertempuran antara Israel dan Hezbollah sedikitnya 634 orang tewas. Lebih dari 800 ribu warga tercatat mengungsi dari rumah mereka.
Di dalam negeri Iran sendiri, situasi politik juga memanas. Pemerintah memperingatkan akan menindak keras setiap bentuk protes. Kepala kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan menyatakan para demonstran akan diperlakukan sebagai “musuh”.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum muncul di hadapan publik. Pejabat Iran menyatakan ia mengalami luka tetapi berada dalam kondisi aman.
Kementerian Kesehatan Iran sebelumnya melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh kantor berita internasional.
Di Teheran, ribuan warga tetap turun ke jalan untuk menghadiri upacara pemakaman para komandan militer yang tewas dalam serangan. Prosesi itu menjadi salah satu kerumunan terbesar sejak perang dimulai, berlangsung di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Dengan Selat Hormuz nyaris tertutup dan konflik yang meluas ke berbagai negara, kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global terus meningkat. Jika jalur energi utama dunia itu tetap terganggu dalam waktu lama, krisis energi yang lebih besar tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. AFP
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 13 Persen, Pasar Cemas Selat Hormuz Terganggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








