Pemerintah memastikan harga BBM subsidi tak naik hingga Lebaran meski harga minyak dunia sempat menembus 100 dolar AS. Kekhawatiran publik dan bayang-bayang konflik Timur Tengah memicu lonjakan pembelian di sejumlah daerah.
JAKARTA (gokepri) – Suasana sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa daerah sempat lebih ramai dari biasanya dalam beberapa hari terakhir. Sebagian pengendara datang lebih awal. Ada yang mengisi tangki penuh, ada pula yang sekadar memastikan pasokan bahan bakar masih tersedia. Kabar tentang lonjakan harga minyak mentah dunia dan memanasnya konflik di kawasan Teluk menyebar cepat di media sosial, memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri.
Pemerintah mencoba meredam kegelisahan itu. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik setidaknya hingga Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Pernyataan itu disampaikan Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/3), sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden dan sejumlah menteri.
Baca Juga:
- Harga Minyak Melonjak 13 Persen, Pasar Cemas Selat Hormuz Terganggu
- Eskalasi Timur Tengah Berpotensi Guncang Harga Minyak Dunia
“Pemerintah, kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan, saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM, sampai dengan Hari Raya insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa,” kata Bahlil kepada wartawan.
Ia menegaskan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi meskipun harga minyak mentah dunia sempat melampaui 100 dolar Amerika Serikat per barel. Menurut Bahlil, kebijakan itu merupakan bentuk kehadiran negara untuk menjaga daya beli masyarakat. “Sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tetapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga,” ujarnya.
Pernyataan serupa datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut kemampuan anggaran negara untuk menanggung subsidi energi masih cukup kuat, terutama untuk periode Ramadhan hingga Lebaran.

“Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 dolar AS per barel asumsi kita,” kata Purbaya di lokasi yang sama.
Menurut dia, kenaikan harga minyak yang terjadi dalam beberapa hari terakhir belum cukup signifikan untuk memaksa perubahan kebijakan anggaran. Pemerintah, kata Purbaya, akan mengamati lebih dulu tren harga minyak global sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons gerakan saham,” ujarnya. Ia menjelaskan harga minyak mentah dunia masih sangat fluktuatif. Dalam waktu singkat harga bisa melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel, lalu turun kembali ke kisaran 90 dolar.
Pemerintah, kata dia, memerlukan waktu untuk membaca arah pergerakan harga secara lebih stabil. “Kalau turun lagi bagaimana? Kan berubah terus. Jadi kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa,” ujar Purbaya.
Jangan Panic Buying
Di tengah dinamika harga minyak global itu, pemerintah juga berupaya menenangkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan bakar secara berlebihan. Bahlil secara khusus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying setelah muncul kabar konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak.
“Saya menyarankan dan meminta tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan cadangan BBM nasional berada pada kisaran 21 hingga 25 hari. Angka itu, menurut dia, bukan berarti pasokan akan habis setelah periode tersebut. Cadangan itu merupakan sistem stok berjalan yang terus diperbarui melalui produksi dan impor.
Bahlil juga menyinggung situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk kabar pembatasan akses di Selat Hormuz oleh Angkatan Laut Iran. Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Namun, ia menilai kondisi itu tidak serta-merta mengganggu pasokan BBM Indonesia.
Menurut dia, Indonesia sebagian besar mengimpor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, sementara produk BBM jadi diperoleh dari negara-negara Asia Tenggara serta produksi dalam negeri. “Jadi harusnya tidak perlu sampai panic buying begitu,” ujarnya.
Di tingkat distribusi, perusahaan pelat merah PT Pertamina Patra Niaga juga menyampaikan pesan serupa. Perusahaan itu memastikan stok BBM dan elpiji di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat, dalam kondisi aman menjelang Ramadhan hingga Lebaran.
Area Manager Communication Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, mengatakan pasokan energi tetap stabil di wilayah operasional mereka. “Stok BBM dan elpiji di wilayah Regional Jabar termasuk di Cianjur dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai setelah hari raya,” ujarnya.
Meski demikian, Pertamina mencatat adanya peningkatan pembelian BBM di sejumlah SPBU di Kabupaten Cianjur dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kemungkinan terganggunya pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Satria menegaskan peningkatan permintaan itu tidak mempengaruhi ketersediaan stok. Distribusi BBM tetap berjalan melalui sistem stok bergerak. Setiap hari, kata dia, pasokan baru terus masuk untuk menggantikan stok yang terpakai.
Pasokan BBM untuk SPBU di Cianjur, misalnya, dikirim dari Terminal BBM Padalarang menggunakan mobil tangki. Hingga kini, pendistribusian disebut berjalan lancar tanpa hambatan, termasuk saat cuaca ekstrem melanda sebagian wilayah Jawa Barat.
Menjelang arus mudik Lebaran, Pertamina juga mulai memperkuat pasokan di sejumlah titik SPBU yang diperkirakan mengalami lonjakan konsumsi. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan BBM selama periode mudik dan arus balik.
Perusahaan itu sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun BBM atau elpiji bersubsidi. Selain merugikan masyarakat lain, praktik tersebut juga berpotensi melanggar hukum. “Kami menjamin pasokan aman selama bulan puasa sampai beres Lebaran,” kata Satria. ANTARA
Baca Juga: Harga Minyak, Ujian Baru Stabilitas Ekonomi Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








