Batam (gokepri.com) – Gojek berencana memakai kendaraan listrik di platformnya pada 2030. Punya misi zero-emisi supaya lebih mudah melantai di bursa.
Rencana kendaraan listrik itu muncul setelah Gojek mengumumkan laporan sustainability pertamanya pada Jumat 29 April 2021. Laporan itu adalah laporan berkala yang diterbitkan oleh perusahaan dengan tujuan berbagi tindakan dan hasil tanggung jawab sosial perusahaan mereka.
Laporan ini mempublikasikan informasi perseroan memutuskan untuk berkomunikasi mengenai komitmen dan tindakan mereka di bidang sosial dan lingkungan. Dalam laporan itu, Gojek memasukkan visi zero-emisssion atau nol-emisi. Menurut laporan Reuters pekan lalu, laporan Gojek itu menjadi langkah agar perusahaannya bisa lebih dekat untuk melantai di bursa saham.
Co-Chiex Executive Gojek Kevin Aluwi mengungkapkan perusahaannya berencana mengalihkan semua mobil dan motor di platformnya menjadi kendaraan listrik pada 2030 dengan menggandeng pabrik kendaraan listrik dan institusi pembiayaan.
“Target kami adalah bekerja sama dengan berbagai pemain berbeda dalam industri dan pemerintah untuk mengurangi biaya EV menjadi sekitar 30% lebih rendah daripada kendaraan bermesin pembakaran internal dengan memprioritaskan pasar dalam negeri Gojek,” kata Aluwi dikutip dari Reuters, Sabtu (30/4/2021).
Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini sedang dalam pembicaraan untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia, termasuk bagaimana membangun infrastruktur seperti pertukaran baterai dan stasiun pengisian.
Gojek, yang juga menawarkan layanan pengiriman makanan dan pembayaran, mengatakan memiliki lebih dari 2 juta pengemudi di seluruh Indonesia, Vietnam, Thailand dan Singapura, dan didukung oleh investor ternama termasuk Google Alphabet Inc dan Tencent Holdings Ltd.
Aluwi, yang ikut mendirikan Gojek pada 2011, mengatakan perseroan memiliki program percontohan EV di Indonesia dengan BUMN enegeri Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN), pembuat skuter Gesits, Viar, NIU Technologies dan Honda Motor Co Ltd, ditambah pembuat mobil Toyota Motor Corp dan Mitsubishi Motors Corp.
“Kekhawatiran utama bagi pengemudi yang beralih ke EV melibatkan daya dan infrastruktur serta biaya,” kata Aluwi. “Untuk membantu pembiayaan, Gojek sedang menjajaki kesepakatan dengan leasing, yang berpotensi melalui unit layanan keuangannya,” sambungnya.
“Kami tahu bahwa pembangunan ekosistem kendaraan listrik ini mulai dari bahan mentah hingga produksi baterai hingga produksi kendaraan adalah sesuatu yang oleh banyak pemerintah dilihat sebagai bagian besar dari masa depan di Indonesia,” kata Aluwi.
Pemerintah Indonesia memiliki rencana untuk mulai memproses pasokan biji nikel untuk digunakan dalam baterai litium sebagai bagian dari tujuan jangka panjang untuk menjadi hub kendaraan listrik global.
Chief Sustainability Gojek, Tanah Sullivan, mengatakan perseroan juga telah meluncurkan program untuk mengurangi plastik sekali pakai dalam pengiriman makanan untuk membantu mencapai target nol limbah dan nol emisi pada tahun 2030.
Sedangkan kompetitor Gojek, Grab juga berencana memiliki 26.000 kendaraan listrik di Indonesia pada tahun 2025.
“Basis pengemudi Gojek dan Grab cukup besar. Ini akan membantu mencapai skala ekonomi untuk pengembangan dan penjualan sepeda motor listrik, ” kata Septian Hario Seto, Wakil Kepala Bidang Koordinasi Penanaman Modal dan Pertambangan di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Pemerintah membantu Gojek dalam pembicaraan dengan pembuat baterai China, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) untuk memasok baterai EV. (Can)
|Baca Juga:









