Ojek Online Singapura di Bursa Amerika

Grab Altimeter
Seorang perempuan menggunakan ponselnya di Stasiun Manggarai, DKI Jakarta, 2017 lalu. (Foto: Reuters)

Sederet korporasi Asia dan Amerika Serikat mengempit saham Grab Holdings. Aksi investasi jumbo bernilai triliunan rupiah ini menjadi kendaraan bagi Grab melantai di bursa saham Amerika Serikat. Beriringan dengan kabar merger Gojek-Tokopedia dan selanjutnya berebut pangsa pasar di Indonesia.

Batam (Gokepri.com) – Grab sudah mendapat lampu hijau kesepakatan merger dengan skema perusahaan cek kosong atau dikenal Special-Purpose Acquisitioon (SPAC). Kesepakatan sempat di bawah radar media meski akhirnya diamini banyak pihak.

Adalah Altimeter Growth Corp yang mengamankan kesepakatan dengan Grab, perusahaan ojek online, kurir makanan dan minuman sampai jasa pembayaran digital. Altimeter adalah perusahaan yang berkantor di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Aksi korporasi ini super megah bagi Grab karena membuat valuasinya meroket hampir USD40 miliar atau sekitar Rp560 triliun sekaligus membuka jalan bagi perusahaan Singapura ini melantai di Wall Street, bursa efek Amerika Serikat. Grab sudah berstatus decacorn sejak tahun lalu. Decacorn adalah perusahaan startup dengan valuasi di atas USD10 miliar.

Merger ini menjadi sejarah karena aksi SPAC dengan nilai terbesar. Bahkan meningkatkan total pendanaan di Wall Street pada 2021. Tahun ini baru berjalan empat bulan, tapi total dana yang dihimpun Wall Street sudah mencapai USD99 miliar. Sedangkan tahun lalu hanya USD83 miliar. Juga melewati transaksi SPAC Lucid Motor, pabrik mobil listrik, yang mendapat valuasi USD24 miliar pada Februari lalu.

Ada banyak korporasi di belakang Altimeter yang ikut opsi SPAC mendanai Grab. Mereka adalah Temasek Holdings, BlackRock, Fidelity International, Mubadala dari Abudabi dan Permodalan Nasional Bhd dari Malaysia. Semuanya berpartisipasi patungan mendanai Grab dengan total investasi USD4 miliar atau setara Rp56 triliun. Skemanya adalah penawaran ekuitas publik. Altimeter Capital menjadi investor terbesar dengan USD750 juta.

“Investor mengincar eksposur internet dari konsumen Asia sehingga mendiversifikasi pendanaannya lewat beberapa perusahaan,” ujar Varun Mittal, kepala divisi fintech bisnis EY Consultant, seperti dikutip dari Reuters, Selasa 13 April 2021.

Sementara itu, Grab menyatakan keputusan menjadi perusahaan publik dengan melantai di bursa karena didorong performa keuangan yang kokoh tahun lalu.

Transaksi dengan SPAC ini membuktikkan strategi Anthony Tan-salah satu pendiri Grab-, yang agresif menangkap pertumbuhan ekonomi digital dan meningkatkan pangsa pasar dengan pendanaan bernilai miliaran dolar demi menjaga loyalitas pelanggan serta berinvestasi di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi bagus.

Dalam laporan Reuters, Tan mengungkapkan pendanaan tersebut digunakan untuk meningkatkan dua kali lipat jangkauananannya sekaligus memperkokoh layanan finansial teknologinya seperti bank digital dan pembayaran mobile.

Tan dan rekan-rekannya meluncurkan Grab pertama kali berupa aplikasi taksi di Malaysia pada Juni 2012. Tan merintis bisnis ini bersama rekan-rekannya yang merupakan alumni Harvard Business School. Grab dengan cepat berkembang. Tahun lalu, Grab mendapat valuasi lebih dari USD16 miliar karena mendapat pendanaan dari SoftBank Group Corp dan Didi Chuxing dari China.

Sedang Altimeter Growth dan Grab lewat opsi SPAC akan menjadi entitas baru dengan kepemilikan bersama. Valuasi Grab diperkirakan meroket USD39,6 miliar berdasarkan penilaian ekuitas di bursa saham.

“Asia Tenggara adalah salah satu ekonomi digital yang tumbuh paling cepat di dunia. Populasi penduduk dua kali dari Amerika Serikat, tapi penetrasi bisnis antar makanan, transaksi elektronik dan layanan digital ponsel masih jauh di bawah AS dan China,” papar Brad Gerstner, pemilik Altimeter, seperti dikutip dari Reuters.

Transaksi ini akan membuat Grab mendapat dana tunai sekitar USD4,5 miliar atau sekitar Rp63 triliun. Reuters melaporkan, kesepakatan ini sudah disetujui direksi Altimeter dan Grab lalu dirampungkan pada Juli 2021. “Grab kini tumbuh sejalan dengan dengan pertumbuhan Asia Tenggara yang punya daya tarik,” ungkap Greg Moon, perwakilan SoftBank Investment Advisers. Grab menjadi pusat perhatian setelah pada 2018 mengakuisisi Uber setelah keduanya berkompetisi selama lima tahun.

“Buat kami, ini tentang investor global dengan brand global,” ujar Tan soal keputusan Grab melantai di bursa AS.

Medan Perang di Indonesia

Dengan gurita bisnis di delapan negara, lebih dari 400 kota, Grab menjadi perusahaan start-up paling berharga. Tak cuma bermain di jasa ojek online, Grab telah merambah layanan antar makanan, jasa kuris, pembayaran digital dan kini menjadi pemain asuransi dan pembiayaan.

Langkah melantai di bursa efek AS juga membuat Grab punya modal jumbo untuk menggarap pangsa pasar utama yakni Indonesia dan bersaing dengan Gojek. Gojek juga tak ketinggalan langkah karena tengah menyusun strategi merger dengan Tokopedia, perusahaan start-up e-commerce terbersar di Indonesia.

Kabar merger Gojek dan Tokopedia makin santer muncul ke publik sejak tahun lalu. Valuasi setelah merger diperkirakan mencapai USD40-50 miliar. Gojek nilai bisnisnya kini mencapai USD10 miliar dan sudah meraih status decacorn. Merger ini membuka peluang bagi kedua unicorn bersaing di ekonomi digital global.

Ekonom dari Institute for Development of Economics dan Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan penyatuan Gojek dan Tokopedia menjadi salah satu integrasi ekosistem digital terbesar.

Menurut Bhima, merger tersebut juga menjadi ancang-ancang yang baik bagi kedua pihak untuk melantai di pasar modal. Dari perkiraan, merger Gojek dan Tokopedia akan menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga di Bursa Efek Indonesia setelah PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. “Valuasi yang lebih besar berdampak pada potensi pendanaan publik yang jumbo juga, apalago kalau listing di bursa sekelas Wall Street,” ujar Bhima seperti dikutip dari Tempo. (Can/Reuters/Tempo)

BAGIKAN