Ford Gunakan Nikel Indonesia untuk Baterai Mobil Listrik, Kucurkan Modal Rp67,6 Triliun

Ford investasi di Indonesia
Mobil listrik Ford. Foto: Bloomberg

BATAM (gokepri) – Ford Motor Co, pabrikan mobil terbesar kedua Amerika Serikat menyepakati kesepakatan penyertaan modal senilai Rp67,6 triliun untuk membangun smelter nikel di Indonesia. Mengincar nikel Indonesia sebagai bahan baku baterai mobil listriknya.

Ford Motor Co., produsen mobil Amerika Serikat (AS), bergabung dengan PT Vale Indonesia Tbk dan Zhejiang Huayou Cobalt untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel senilai USD4,5 miliar atau sekitar Rp67,6 triliun di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dalam proyek ini, Ford akan berinvestasi di kawasan Asia Tenggara untuk pertama kalinya, seiring dengan meningkatnya minat para produsen mobil dalam mengamankan bahan baku untuk memproduksi baterai kendaraan listrik. Bagi Ford, ini menjadi upaya untuk mengejar ketertinggalannya dari pemimpin pasar mobil listrik dunia, Tesla.

HBRL

Baca Juga: GALANGAN KAPAL BATAM: Banjir Pesanan Minim Tenaga Ahli

Smelter yang akan dibangun menggunakan teknologi high-pressure acid leaching (HPAL) yang akan memproduksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, salah satu bahan baku penting untuk membuat baterai kendaraan listrik. Investasi ini diharapkan dapat membantu Ford untuk memastikan bahwa nikel yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik ditambang dan diproduksi dalam standar ESG yang sama, sebagai bagian dari bisnis Ford di seluruh dunia.

Christoper Smith, Chief Government Affairs Officer Ford Motor Company mengungkapkan optimismenya dalam kesepakatan penyertaan modal bersama Vale dan Huayou.

“Pertama, ada aspek di Indonesia yang merupakan bagian penting untuk menciptakan rantai pasok kendaraan listrik,” katanya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (30/3/2023).

Alasannya adalah Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, material penting dalam baterai kendaraan listrik (EV). Dengan demikian, sambung Smith, keputusan Ford menjalin kerja sama stratgis dengan Vale dan Huayou sangat tepat dalam memenuhi kebutuhan komponen EV berkandungan nikel.

“Ini merupakan langkah penting kami untuk ikut berinvestasi [kendaraan listrik] di Indonesia,” ujarnya.

Adapun, Pabrik HPAL Blok Pomalaa akan beroperasi di bawah kendali PT Kolaka Nickel Indonesia. Tunduk pada persetujuan regulator, proyek ini dapat menghasilkan hingga 120 kiloton MHP per tahun. Persiapan lokasi awal Proyek HPAL Blok Pomalaa telah dimulai, dan konstruksi penuh diharapkan dapat dimulai tahun ini, dengan operasi komersial dimulai pada 2026.

Kolaborasi ini akan menyediakan bahan-bahan penting untuk peralihan industri otomotif ke EV, meningkatkan industri manufaktur EV Indonesia, dan mendukung rencana Ford untuk menghasilkan laju produksi 2 juta EV pada akhir 2026 dan skala lebih lanjut secara bertahap.

Lebih lanjut, proyek pemrosesan nikel tiga arah, bersama dengan perjanjian pasokan terpisah yang sedang dikembangkan dengan Ford dan Huayou untuk bahan aktif katoda prekursor yang penting untuk pembuatan baterai lithium-ion, secara kolektif akan digabungkan dengan sumber nikel Ford lainnya.

“Kerangka kerja ini memberikan kendali langsung kepada Ford untuk mendapatkan nikel yang dibutuhkan, dengan salah satu pendekatan industri berbiaya terendah, dan memungkinkan kami memastikan nikel telah ditambang sejalan dengan target keberlanjutan perusahaan kami, menetapkan standar ESG yang tepat saat kami mengukur,” kata Lisa Drake, Vice President industrialisasi Ford Model e EV dalam keterangannya.

Penerapan prinsip environment, social, corporate governance (ESG) oleh Vale Indonesia menjadi bagian penting yang memikat Ford untuk membenamkan modalnya di Tanah Air.

Febriany Eddy, CEO PT Vale Indonesia Tbk. mengatakan bahwa standard lingkungan, sosial, dan tata kelola telah menjadi ‘DNA’ perseroan sehingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik berjalan seiring dengan pengatasan tantangan krisis iklim global.

“Hasilnya adalah kolaborasi unik dengan pembuat mobil global Ford dan pemroses mineral global terkemuka Huayou untuk berinvestasi bersama dalam proyek ini. Kerja sama global ini sejalan dengan visi Indonesia untuk membangun ekosistem EV domestik dan menjadikan PT Vale sebagai kontributor penting dalam mengatasi tantangan dekarbonisasi dunia, dengan investasi yang akan menghasilkan manfaat ekonomi lokal dan memastikan pemanfaatan sumber daya nikel Indonesia secara optimal,” jelasnya.

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan telah melarang ekspor bijih nikel yang belum diproses sejak 2020 untuk memastikan pasokan bagi investor yang ada dan calon investor, sementara itu juga menarik pembuat EV global seperti Tesla dan Grup BYD Cina untuk berinvestasi. Indonesia berusaha mengembangkan industri hilir logam yang pada akhirnya bertujuan untuk memproduksi baterai dan kendaraan listrik, di mana baterai menyumbang sekitar 40 persen dari harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca Juga: BATERAI MOBIL LISTRIK: Huayou Investasi USD2,1 Miliar di Halmahera, Konsorsium LG di Bekasi

Penulis: Candra Gunawan
Sumber: Bisnis Indonesia, Katadata

Pos terkait