BATAM (gokepri) – Industri galangan kapal di Batam tengah ramai permintaan produksi tahun ini. Namun tantangannya adalah minim tenaga ahli industri perkapalan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam Rudi Sakyakirti mengatakan saat ini Kota Batam kekurangan tenaga ahli untuk industri perkapalan. Kurangnya tenaga ahli di Batam untuk industri galangan kapal itu karena saat ini sedang banyak proyek pengerjaan di sejumlah galangan.
Untuk itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Advokasi Latihan Kerja (BBALK) Medan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli bidang itu. “Mereka (pihak galangan kapal) lapor kekurangan tenaga ahli. Untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan itu, kami coba koordinasi dengan BBALK Medan,” kata Rudi.
Menurut dia, BBALK Medan siap mendukung dengan perjanjian setiap ada pelatihan harus mengirimkan nota kesepahaman dengan perusahaan. “Artinya, masyarakat yang sudah melakukan pelatihan, akan ada jaminan diterima bekerja di perusahaan yang sedang membutuhkan,” katanya.
Rudi menjelaskan saat ini hampir 200 tongkang yang masuk dalam proses pengerjaan di sejumlah galangan yang tersebar di seluruh Kota Batam. Tidak hanya tongkang, sejumlah galangan juga sedang mengerjakan kapal tunda, sebagai alat untuk menarik tongkang.
“Sekarang ini 200 tongkang sedang dalam progres, saya diskusi sama teman-teman galangan, baru tahun ini lah paling banyak produksi tongkang. Memang banyak orderan masuk, ini untuk kebutuhan tambang, batu bara, nikel dan lainnya, begitu penjelasan mereka. Maka itu dibutuhkan banyak tenaga ahli,” kata Rudi.
Dipilihnya BBALK Medan kata dia, karena balai tersebut di bawah naungan Kementerian Ketenagakerjaan. Namun, pelatihan untuk mendapatkan tenaga ahli, kata Rudi, akan dilaksanakan di Kota Batam. Untuk tahap pertama akan disiapkan 200 orang yang akan dibina menjadi tenaga ahli.
Dalam pelatihan, nantinya pihak tenaga ahli dari perusahaan akan dilibatkan, sehingga perusahaan tidak mempunyai keraguan untuk merekrut tenaga yang baru saja diberikan pelatihan. Tenaga ahli yang paling banyak dibutuhkan itu seperti di bidang, Welder (pengelasan), Pitter (penyambungan pipa) dan Scaffolder (perancah).
“Setelah pelatihan, tidak ada lagi tes, langsung kerja. Ditambah lagi nanti ada sertifikat internasional, karena mayoritas klien di Batam adalah orang asing semua sehingga memerlukan standar internasional,” ujar Rudi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepulauan Riau (Disnaker Kepri) Mangara Simarmata mengungkapkan dari hasil diskusi dengan sejumlah pengusaha galangan kapal, misalnya Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kota Batam, tahun ini mereka dapat pesanan pembuatan 400 buah kapal, khususnya tongkang. “Ini menandakan sektor bisnis galangan kapal di Batam kembali menggeliat. Dampaknya diharapkan dapat mendorong tingginya penyerapan tenaga kerja lokal,” kata Mangara di Tanjungpinang, Selasa 10 Januari 2023.
Menurutnya, pembuatan 400 kapal tongkang tersebut membutuhkan tenaga kerja yang didominasi welder atau tukang las sekitar 16 ribu orang. Selebihnya, bagian fitter atau profesi pekerjaan yang berkaitan dengan perencanaan, pembuatan dan pemasangan konstruksi baja serta peralatan mesin mengikuti petunjuk yang diberikan engineering melalui gambar desain.
Kemudian, scaffolder atau pekerja dengan keahlian membuat bangunan konstruksi sementara untuk menyangga manusia dan bahan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya. “Total kebutuhan pekerja sekitar 40 ribu orang. Itu baru satu perusahaan, belum yang lainnya, seperti PT Smoe dan McDermott yang juga mendapatkan banyak pekerjaan baru di tahun ini,” kata Mangara.
Mangara mengaku pihaknya akan berupaya maksimal memfasilitasi calon tenaga kerja dengan keahlian mumpuni untuk memenuhi permintaan industri galangan kapal di Kota Batam tahun 2023.
Ia mengakui jika kondisi saat ini masih terjadi ketimpangan antara keterampilan yang dimiliki pekerja dengan kebutuhan dunia industri tidak cocok. “Contohnya, pekerja tukang las yang kita rekomendasikan ke industri galangan kapal, tapi ternyata belum memenuhi standar yang dibutuhkan perusahaan,” ujar Mangara.
Hal ini, menurutnya, menjadi pekerjaan besar yang harus diatasi Disnaker Kepri dengan memperbanyak kegiatan pelatihan kerja terhadap calon pencari kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK) maupun Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang tersebar di kabupaten/kota setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: INDIKATOR EKONOMI: Galangan Kapal dan Migas Sedang Ramai-Ramainya
Penulis: Candra Gunawan/Antara









