Erdogan Menang Pilpres, Dua Dekade Memimpin Turki

Erdogan menang pilpres
Poster kampanye pemilihan Presiden Turki Tayyip Erdogan, setelah putaran pertama pemilihan presiden dan parlementer, di Istanbul, Turki 15 Mei 2023. REUTERS/Murad Sezer

Batam (gokepri) – Presiden Tayyip Erdogan memenangkan pemilihan presiden Turki yang berlangsung dua putaran. Ia memperpanjang dua dekade kekuasaannya.

Penantangnya yakni Kemal Kilicdaroglu, menyebut pilpres kali ini paling tidak adil dalam beberapa tahun. Meski begitu, ia tidak membantah hasilnya.

Hasil pemilu putaran kedua di Turki menunjukkan, Kilicdaroglu meraih 47,9% suara dan Erdogan 52,1%. “Satu-satunya pemenang hari ini adalah Turki,” kata Erdogan dalam pidatonya dikutip dari Reuters, Senin 29 Mei. “Saya berterima kasih kepada setiap orang yang sekali lagi memberi kami tanggung jawab untuk memerintah negara lima tahun lagi.”

Baca Juga: Bisnis Kargo dan LNG di Batam Tarik Minat Investor Turki

Erdogan memperpanjang masa jabatannya sebagai pemimpin terlama sejak Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Turki modern dari reruntuhan Kekaisaran Ottoman seabad lalu.

Kemenangan itu memperkuat citra Erdogan yang tak terkalahkan, setelah mengubah kebijakan domestik, ekonomi, keamanan, dan luar negeri di Turki.

Dalam pidato kemenangan di Ankara, Erdogan berjanji meninggalkan semua perselisihan dan bersatu di belakang nilai-nilai dan impian nasional. Namun pada kesempatan itu, ia menuduh Kilicdaroglu berpihak pada teroris, tanpa memberikan bukti.

Erdogan mengatakan pembebasan mantan pemimpin partai pro-Kurdi Selahattin Demirtas, yang dia cap sebagai ‘teroris’, tidak akan mungkin dilakukan di bawah pemerintahannya.

Ia juga berkomentar mengenai inflasi yang menjadi masalah paling mendesak di Turki.

Selain itu, dalam pidato kemenangannya, dia menyebut oposisi pro-LGBT. Sebelumnya Kilicdaroglu berjanji untuk mengatur negara di jalur yang lebih demokratis dan kolaboratif.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden pun memberikan tanggapan atas kemenangan Erdogan. “Saya berharap dapat terus bekerja sama sebagai sekutu NATO dalam masalah bilateral dan berbagi tantangan global,” kata dia melalui Twitter.

Hubungan AS dengan Turki terhambat oleh keberatan Erdogan terhadap Swedia yang bergabung dengan NATO, hubungan dekat Ankara dengan Moskow, dan perbedaan mengenai Suriah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: Reuters

Pos terkait