Ekspor Pangan ke Singapura: Walikota Batam Ingin Kontrak Jangka Panjang

Ekspor ayam ke singapura
Ayam beku dari Indonesia di Singapura. The Straits Times/Kelvin Chng

Batam (gokepri.com) – Rencana ekspor pangan dari Batam ke Singapura perlu kepastian permintaan jangka panjang dari negara tersebut. Investasi dengan membangun sentra pertanian dan peternakan baru di kota ini dinilai tidak akan berhasil jika ekspor ke Singapura hanya untuk jangka pendek.

Indonesia berencana ekspor ayam ke Singapura. Batam masuk dalam radar untuk dibangun peternakan baru demi mengekspor ayam segar ke negara tetangga. Langkah ini dinilai bisa berhasil selama permintaan ayam di Singapura tetap tinggi.

Walikota Batam ex officio Kepala BP Batam Muhammad Rudi menyebut masih berpikir dua kali untuk memasok bahan pangan ke Singapura. Meski begitu ia masih membicarakan dan membahasnya dengan Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Menteri Singapura untuk membahas rencana tersebut.

HBRL

“Kami dudukkan bersama dubes. Apa yang dibutuhkan untuk sembako atau ayam. Kalau kita bangun hari ini, kira-kira berapa lama kontraknya. Jangan hanya setahun pabrik baru bertahan, tujuh bulan kontraknya berhenti. Bengkak kita,” kata Rudi saat ditemui di bilangan Batam Center Rabu 24 Agustus 2022.

Rudi menekankan perlu ada perjanjian atau kontrak yang jelas soal pasokan pangan dari Batam ke Singapura tersebut. Sebab, tata ruang Kota Batam tak bisa dijadikan tempat untuk khusus pemasok bahan pangan.

“Kalau di pulau mungkin bisa kami carikan. Saya sudah bicarakan ini dengan dubes dan menterinya. Kita siap. Tapi bagaimana kontraknya, karena pengusaha takut juga nanti baru beberapa bulan kontraknya dihapus. Karena biayanya besar juga. Standar daging Singapura dengan kita beda,” katanya.

Peluang ekspor pangan dari Batam juga pernah diungkap Menteri Kedua Luar Negeri Singapura Maliki Osman pekan lalu.

Ia menyatakan Singapura tertarik dan mendorong Batam dan Kepri menjajaki peluang memasok pangan bagi Singapura dengan membangun pertanian.

“Singapura ingin berinvestasi di pertanian karena permintaan pangan di negara kami sangat tinggi. Lahan di Singapura terbatas walau kami punya program “30 by 30” yakni memproduksi 30 persen kebutuhan pangan. Kami memanfaatkan teknologi untuk pertanian, misalnya vertikal farming,” papar dia.

Dia menambahkan jika Kepri dan Batam berhasil dengan sektor pertanian modern, maka Batam punya potensi yang sangat besar karena punya lahan yang luas. Memproduksi pangan untuk kebutuhan domestik bahkan bisa mengekspor pangan ke Singapura.

“Saya sudah menyampaikan ketertarikan dan tawaran ini kepada Pak Rudi dan Pak Ansar,” sebut dia.

Ekspor Ayam ke Singapura

Dikutip dari Straits Times, Jumat 22 Juli 2022, Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo mengungkapkan ia telah berbicara dengan sejumlah produsen ayam di Indonesia yang ingin mendirikan peternakan baru.

Namun produsen tetap menghitung-hitung permintaan ayam segar di Singapura pada tahun depan sehingga apakah perlu membangun peternakan baru di Batam untuk bisa memenuhi kebutuhan Singapura lewat ekspor.

“Kalau kami bisa mendirikan peternakan di Batam, tidak butuh waktu lama untuk mendatangkan ayam hidup ke Singapura,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, Singapura mengimpor hampir 73.000 ton ayam dari Malaysia pada tahun 2021.

Pada 30 Juni, SFA menyetujui Indonesia sebagai sumber baru daging ayam beku, dingin dan olahan untuk Singapura, bergabung dengan daftar lebih dari 20 negara terakreditasi seperti Brasil, Thailand dan Australia. Sebelumnya, Indonesia hanya mengekspor telur asin ke Singapura.

Ekspor dari negara-negara tersebut terjadi setelah Malaysia melarang ekspor ayam utuh mulai 1 Juni, dalam upaya untuk menstabilkan harga dan pasokan di negara itu. Penjual unggas pasar basah di Singapura harus beralih menjual ayam beku.

Sebelum pelarangan, 34 persen pasokan ayam Singapura berasal dari Malaysia, dengan sebagian besar ayam diimpor hidup dan dipotong di Singapura.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait