Menteri Maliki Osman Bicara tentang Hubungan Singapura dengan Batam: Kemajuan Batam Penting bagi Singapura

Maliki Osman Batam
Menteri Kedua Luar Negeri Singapura Maliki Osman bersama pimpinan media di Hotel Marriott Harbour Bay, Batam, Jumat 19 Agustus 2022. Foto: Instagram/Dr Maliki Osman

Di sela-sela sesi teh bersama, Menteri Kedua Luar Negeri Singapura Mohamad Maliki Osman menceritakan pengalamannya setelah dua hari di Batam. Tentang hubungannya dengan Muhammad Rudi dan Ansar Ahmad, apresiasinya untuk rencana pengembangan pelabuhan dan bandara di Batam, harga tiket feri, sampai mengungkap upaya Singapura membuka tangan bagi Batam dan Kepri untuk ekspor dua komoditas:  pangan dan energi listrik.

Resepsi Hari Nasional Singapura yang digelar Konsulat Jenderal Singapura di Batam pada 18 Agustus 2022 menjadi kesempatan bagi Maliki Osman membahas penguatan kerja sama dengan Kepri dan Batam bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Walikota Batam-Kepala BP Batam Muhammad Rudi.

Situasi pandemi membuat Maliki tak bisa mengunjungi Batam selama dua tahun terakhir. Ia terakhir kali mengunjungi Batam pada Agustus 2019. Pada April 2022 lalu, Ansar Ahmad dan Muhammad Rudi secara bergantian mengunjungi Singapura untuk bertemu dengan Maliki Osman juga untuk membahas penguatan kerja sama.

Bagi Osman, keduanya adalah teman baik. “Kami tetap berkomunikasi bahkan selama pandemi, setiap enam bulan kami membahas bagaimana kita mencari cara bagaimana bisa saling mendukung,” kata Maliki dalam sesi teh bersama dengan enam pimpinan media di Hotel Marriott Harbour Bay Batam, Jumat 19 2022.

Sebelum sesi teh bersama, Maliki pada Jumat pagi bertemu dengan pebisnis yang berada di Batam. Para pebisnis kepada Maliki menyatakan senang karena selama pandemi investasi dari Singapura tetap mengalir ke kota ini.

Maliki kemudian melihat Bandara Hang Nadim dan mendengar rencana pengembangan bandara yang kini dikelola konsorsium PT Angkasa Pura I, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan Incheon International Airport. Maliki melihat ekspansi ini sebagai potensi pertumbuhan Kota Batam.

“Kami melihat pengembangan bandara Batam hal yang sangat positif. Kami ingin memfasilitasi rencana ekspansi Hang Nadim. Apapun potensi Batam untuk tumbuh, kami ingin mendukung rencana itu,” sebut Maliki.

Setelah mengunjungi Hang Nadim, Maliki salat jumat di Masjid Tanjak bersama Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Purwiyanto. Ia pun kagum dengan masjid tersebut karena arsitetukturnya jarang ditemukan di Singapura, sebelum sore harinya bertemu enam pimpinan media: Gokepri, Batamnews, Batamtoday, Batampos, Kantor Berita Antara dan Tribun Batam.

Dalam sesi dialog sekitar satu jam itu, ia menjelaskan pembicaraannya dengan Ansar Ahmad dan Muhammad Rudi terutama tentang potensi kerja sama di bidang ekspor pangan dari Kepri dan energi baru terbarukan yang bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang Singapura.

Maliki Osman Batam
Foto: gokepri/Candra Gunawan

Maliki, yang Juli lalu berulang tahun ke-57, banyak bercerita tentang perjalannnya di Batam dan meladeni semua pertanyaan dari pimpinan media. Ia dampingi Konsulat Jenderal Singapura di Batam yang mulai bertugas pada 20 Agustus 2022 Gavin Ang dan konsulat sebelumnya Mark Low. Maliki berbicara dalam dua bahasa, Melayu dan Bahasa Inggris.

  • Bagaimana Anda menikmati Masjid Tanjak saat salat Jumat yang menjadi ikon baru Batam?

Sangat bagus, sangat indah. Dari luar bentuk tanjak, mimbarnya juga tanjak. Sangat menarik dan luas. Saat saya salat masjidnya bahkan penuh. Ventilasinya sangat bagus, saya bisa merasakan sirkulasi udaranya segar. Saya pikir arsiteknya sangat mempertimbangkan arah angin ketika mereka mendesain ventilasinya. Ruangannya terbuka sehingga bisa mengurangi penggunaan energi. Masjid yang didesain sangat baik, atraktif dan menjadi ekspresi arsitek muda membangun masjid dengan konsep bangunan hijau yang tidak tradisional.

  • Saat Perayaan Hari Nasional Singapura, Anda mengundang dua tokoh penting, Pak Rudi dan Pak Ansar naik ke panggung. Itu ide Anda?

Itu bentuk saya menghormati keduanya. Pak Ansar adalah Gubernur Kepri dan Pak Rudi adalah Walikota Batam dan Kepala BP Batam. Secara tradisional, kami memberi kehormatan kepada tuan rumah. Momen itu sangat bagus. Keduanya sangat senang bergabung dengan saya di panggung. Untuk kami, mereka memahami bahwa Batam dan Singapura adalah teman yang baik. Saya sangat senang keduanya bisa hadir.

  • Apakah masih ada kendala yang menghalangi perjalanan Batam dan Singapura setelah pandemi?

Kami melihat sejauh ini harga tiket feri sekarang lebih tinggi sedikit dari sebelum pandemi. Saya memahami dan menghormati pertimbangan para operator feri karena mereka perlu menutupi biaya operasional apalagi dengan inflasi yang naik yang membuat ongkos meningkat.

Saya mendiskusikan soal ini dengan Pak Ansar dan Pak Rudi dan mereka akan mengevaluasi. Saya pikir ketika harga tiket feri naik melewati titik yang tidak bisa dijangkau pembeli, maka akan menjadi kendala.

Secara tradisional sebelum pandemi, warga Singapura yang berkunjung ke Batam adalah keluarga yang berjumlah 4 sampai 5 orang. Biasanya mereka membayar SGD45 untuk pulang pergi, sekarang SGD70.

Dengan harga tiket yang sekarang, biayanya jadi dobel tentu ini menjadi pertimbangan.

Warga Singapura punya pilihan lain (untuk berlibur) sekarang, mereka bisa ke Johor Bahru, Desaru. Baru-baru ini feri dari Singapura ke Desaru (resort di Malaysia) baru diluncurkan. Warga Singapura melihat bagaimana atraktif dan biaya di tempat lain. Berapa biaya ke Batam dan seberapa atraktif. Tapi saya tetap yakin warga Singapura ke Batam lagi.

Operator harus melihat dan memahami mindset pasar di Singapura. Saya akan jujur, operator harus mempertimbangkan hal ini.

  •  Kunjungan warga Singapura ke Batam masih rendah. Apakah masih ada ketakutan warga Singapura bepergian ke Batam karena Covid-19?

Tidak, tidak, tidak ada. Saya rasa kunjungan masih rendah karena faktor biaya (tiket feri). Dari segi keyakinan, Singapura tidak ada keraguan. No problem.

  • Soal ekspor listrik dari Kepri ke Singapura dan ada rencana pemerintah Indonesia melarang ekspor listrik. Bagaimana perkembangannya sekarang?

Saya pikir Singapura mengekspor semua sumber daya alam dari potensi sumber yang berbeda-beda, dari bermacam-macam negara. Jika Indonesia punya rencana untuk mengekspor energi listrik, kami sangat bahagia untuk menjajakinya.

Tapi kami juga menghormati undang-undang Indonesia yang sejauh ini digunakan atau diperbolehkan untuk mengekspor energi listrik, Insya Allah tentu kami bersedia untuk memperbincangkan.

Kami juga tidak mau ada situasi di mana undang-undang yang tidak membenarkan (ekspor listrik), kami juga menghormati ini dan sebaiknya kami wait and see.

Kami siap bekerja sama dengan bermacam-macam perusahaan swasta. Saya pikir mereka tertarik investasi di Indonesia di bidang energi baru terbarukan. Kami menghormati aturan di Indonesia jika membatasi ekspor energi listrik.

  • Singapura akan menjadi importir atau pembeli energi dari Indonesia?

Singapura mengimpor semuanya. (Tertawa)

  • Apakah Singapura masih membutuhkan jika Batam menjadi sumber energi listrik dari PLTS?

Kami tidak pernah cukup. Kami memastikan sumber daya kami didiversifikasi tak hanya membatasi dari hanya satu sumber. Sama seperti ketahanan pangan kami. Kami impor ayam dari Brazil dan beberapa negara lain. Tujuannya selain untuk memenuhi kebutuhan penduduk kami dengan harga terjangkau, juga agar harga tetap kompetitif dan pasokan tetap ada karena banyak sumber ekspor dari sejumlah negara.

  • Apakah isu politik di Batam dan Kepri menjadi perhatian Singapura?

Saya bertemu banyak walikota dan gubernur banyak provinsi. Bagi saya, (isu politik domestik) tidak penting. Yang penting bagi saya, mereka yang duduk di pemerintahan siap bekerja dan bermitra dengan kami dan melihat kami sebagai teman. Sejauh ini mereka sangat luar biasa. Pak Rudi saat saya bertemu dulu sebagai wakil walikota dan Pak Ansar sebagai bupati Bintan. Kami membangun hubungan baik ini.

Bahkan saya kenal sejumlah tokoh yang tidak lagi di pemerintahan tapi saya tetap bertemu dengan mereka, saya menjaga hubungan dengan mereka. Hubungan antar tetangga harus bermakna antar individu.

  • Bagaimana Anda melihat upaya pertumbuhan ekonomi Batam di era Muhammad Rudi?

Saya selalu melihat potensi pertumbuhan Batam. Masih ada ruang untuk Batam untuk tumbuh, sangat potensial bukan hanya dari investasi tapi juga peningkatan sumber daya manusia.

Kami tertarik dan mendorong Batam dan Kepri menjajaki peluang memasok pangan bagi kami dengan membangun pertanian. Singapura ingin berinvestasi di pertanian karena permintaan pangan di negara kami sangat tinggi. Lahan di Singapura terbatas walau kami punya program “30 by 30” yakni memproduksi 30 persen kebutuhan pangan. Kami memanfaatkan teknologi untuk pertanian, misalnya vertikal farming.

Jika Kepri dan Batam berhasil dengan sektor pertanian modern, maka Batam punya potensi yang sangat besar karena punya lahan yang luas. Memproduksi pangan untuk kebutuhan domestik bahkan bisa mengekspor pangan ke Singapura. Saya sudah menyampaikan ketertarikan dan tawaran ini kepada Pak Rudi dan Pak Ansar.

  • Apakah Singapura sudah mendengar rencana proyek sirkuit Formula One di Bintan?

Yes, Yes. Pak Ansar bilang ke saya. Katanya Pak Presiden (Joko Widodo) akan membuat groundbreaking bulan September. Saya tak pernah dengar berita ini, tapi saya diberitahu Pak Ansar. Saya bangga. Formula One di sini akan berbeda dari Singapura karena melintasi hutan dan pemandangan hijau. Akan menjadi pengalaman berbeda bagi F1. Jika Kepri bisa membawa F1 ke sini tentu hal yang bagus.

Saya pikir Singapura saat ini satu-satunya sirkuit F1 di Asia. Sirkuit F1 ada di timur tengah: Doha, Saudi Arabia dan UAE. Latik Amerika ada beberapa seperti di Meksiko, Brazil. Eropa ada beberapa. Korea Selatan dan Jepang bahkan tidak punya.

Saya fans F1. (Tertawa). Saya harap Kepri bisa menghadirkan F1.

  • Pak Menteri sudah mengunjungi Bandara Hang Nadim dan Pak Rudi sudah menyampaikan tentang pengembangan pelabuhan. Seperti apa sebenarnya Singapura melihat persepsi tentang Singapura menganggap Batam sebagai kompetitor (bandara dan pelabuhan) ?

Sebenarnya saya merasa sedih jika persepsi itu muncul. Kami berpandangan di Singapura bahwa sebagai tetangga, kemajuan tetangga kita penting bagi kita. Kami tidak melihat sebagai persaingan. Kami ingin tetangga kita berjaya. Kalau kita punya kemampuan untuk bekerja sama mendukung Batam berjaya, kami bersedia.

Dari isu Batuampar port itu, saya sudah beberapa kali diutarakan seperti itu juga (soal persaingan dengan Singapura). Kemudian saya memberi garis pandu kepada ADB Singapura untuk meneliti isu-isu yang dihadapi Batuampar. Yang diutarakan adalah ongkos logistik yang lebih mahal dan tinggi daripada pelabuhan-pelabuhan lain.

ADB bersama menko ekonomi telah membuat suatu kajian. Ada beberapa isu yang bisa dikendalikan. Pertama, proses (logistik) di Batuampar masih banyak yang manual. Itu sebabnya cost tinggi. Kedua, cara operasi pelabuhan yang masih bisa diperbaiki.

Lantas dari rekomendasi itu, saya diberitahu PSA (Port Authority of Singapore) dan otoritas pelabuhan BP Batam akan menandatangani MoU pada 26 Agustus ini untuk feasibility study. Melihat bagaimana kita bisa memperbaiki meningkatkan proses logistik di Batuampar. Ini sudah dikatakan oleh walikota melihat bagaimana PSA dan BP Batam menghasilkan kajian. Jika PSA yang berkenan berinvestasi dan BP Batam bersedia, saya rasa maka kita bisa bekerja sama.

Persepsi Singapura ialah untuk menyokong pembangunan Batam dan Kepri karena kesuksesan Batam dan Kepri adalah kesuksesan kami. Kami tidak pernah melihat sebagai persaingan.

Seperti yang saya ceritakan, kami ingin Batam dan Kepri memasok pangan untuk Singapura. Tapi jika pelabuhannya tidak efektif, tentu investor tidak tertarik. Singapura tentu ingin memastikan pelabuhan Batam efektif agar terintegrasi dengan Singapura. Yang penting bagi kami, bagaimana Singapura dan Batam bisa bergerak maju bersama.

***

BAGIKAN