Batam (gokepri) – Dinas Pendidikan Kota Batam mendeteksi dua sekolah di Batam gagal menggelar asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) tingkat SLTP yang dilaksanakan serentak, Senin (4/10).
Kegagalan ANBK ini lebih disebabkan akses internet yang lelet sehingga saat logging ke server pusat terjadi error, yakni terjadi di Sekolah Imanuael dan Sekolah Sekolah Tabqha. Dari puluhan peserta di dua sekolah ini, hanya 1 siswa saja yang bisa mengakses soal ANBK tersebut, selebihnya akses error.
Belum lagi masalah ANBK ini dihadapi oleh sekolah berada di hinterland yang memiliki keterbatasan akses sinyal yang lemah, serta perangkat komputer dimiliki sekolah sangat minim.
Menurut Pengawas Disdik Kota Batam, M Nainggolan SPd, dari sejumlah sekolah yang diawasi terdapat dua sekolah yang gagal menggelar ANBK karena akses ANBK error tak bisa logging. Ahirnya ANBK kedua sekolah ini dianggap gagal dan harus masuk link lagi dan mendaftar kembali untuk dijadwalkan ANBK ulang.
“Pelaksanaan ANBK ini kan ada dua mode moda yaitu moda ANBK Online dan moda Semi-Online. Kalau ANBK yang berbasis moda Online harus memiliki akses internet yang stabil bagi komputer client. Dan moda semi-online komputer client tidak perlu memiliki akses internet secara langsung nantinya akan terhubung dengan komputer proktor yang memiliki akses internet yang bagus untuk mengirim hasil data siswa,” ujarnya disela-sela mengawasi berlangsungnya ANBK, Senin (4/10).
Ditegaskan Nainggolan bahwa Asesmen Nasional (AN) ini bukan pengganti ujian nasional, melainkan sistem asesmen yang menilai kondisi pendidikan di Indonesia dengan tujuan untuk pemetaan mutu pendidikan di Indonesia dalam menilai satuan pendidikan. Berbeda dengan UN, kata dia, hanya mengukur prestasi peserta didik secara individu.
“Karena ANBK ini diadakan berdekatan dengan penghapusan UNBK, maka banyak menilai dijadikan pengganti UN. Karena pengganti UN itu adalah ujian akhir sekolah (UAS). Kalau ANBK ini lebih kepada rapot mutu sekolah sebagi potret sekolah untuk mengevaluasi kekurangan sekolah itu sendiri,” katanya.
Begitu pula pelaksanaannya hanya terhadap perwakilan peserta didik dijadikan sampel, yakni jenjang SD minimal berjumlah 30 siswa kelas 5, dan SMP/SMA sederajat 45 orang kelas 8 dan 11. Perwakilan peserta didik ini dilakukan secara acak lewat dapodik oleh pihak Kemendikbud. Tujuannya agar bisa mewakili siswa lainnya. (aat)
|Baca Juga: Sekolah di Batam Siap Gelar Asesmen Nasional, Ada Tiga Materi yang Diuji








