Citra Ibu Rumah Tangga Marlin Agustina

Marlin agustina
Marlin Agustina. (Grafis: Gokepri/can)

Berlaga sebagai calon orang nomor dua, Marlin Agustina mendekati kaum emak-emak dan pemilih milenial. Satu-satunya calon dari luar partai, tak akan mau menyerang lawan.

Batam (Gokepri.com)  Pertanyaan pertama Marlin Agustina kepada Muhammad Rudi dan pengurus Nasdem saat ditunjuk menjadi calon wakil gubernur Kepri singkat saja. “Kenapa harus saya,” ujar Marlin.

Rudi dan Nasdem, kata Marlin, memintanya maju karena dua alasan. Pertama, Marlin sosok kader yang paling menonjol dan kedua Nasdem ingin berada di dalam pemerintahan tingkat provinsi Kepri. “Pak Wali Kota (Rudi) memberi argumentasi, ini (pencalonan Marlin) bukan merebut kekuasaan, tapi bagaimana program di provinsi sejalan dengan kota. Kita harus ada orang (di provinsi),” ucap Marlin menirukan Rudi. Marlin melanjutkan,”Masalah Kepri adalah ketimpangan wilayah.”

HBRL

Marlin saat itu sempat mengukur diri. “Apa saya mampu?. Saya yakin mampu, saya ambil kesempatan itu, jadi atau tidak itu urusan Allah. Saya ingin punya peran membangun Kepri bersama Pak Ansar,” tutur dia.

Marlin menceritakan obrolannya dengan pengurus Nasdem dan Ketua DPW Nasdem Kepri sekaligus Wali Kota Batam Muhammad Rudi kepada pers di sebuah hotel bilangan Pelita, Kota Batam, akhir pekan lalu. Rudi adalah suaminya, sedangkan Ansar yang dimaksud adalah Ansar Ahmad, anggota DPR RI, Ketua Dewan Pembina Golkar Kepri dan calon gubernur, pasangan Marlin untuk Pilkada Kepri 2020.

Marlin dalam pertemuan itu memperkenalkan dirinya kepada pers. Selama ini, Marlin lebih dikenal berkat kiprahnya di bidang perempuan, UKM, dan anak dengan aktif sebagai Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Ketua Dekranasda dan Bunda PAUD Kota Batam. Di luar itu, Marlin adalah istri dari Wali Kota Batam Muhammad Rudi.

Selama pertemuan, ia menceritakan motivasinya hingga sebagian besar tentang dirinya secara utuh selama satu jam. “Saya tidak disiapkan untuk ini (Pilkada), tapi disiapkan untuk menjadi Ketua PKK,” ujar Marlin.

Dorongan Nasdem dan Rudi satu irama dengan kelompok ibu-ibu. Marlin juga dirayu anggota Gabungan Organisasi Wanita (GOW) untuk maju. “Ayo bu maju saja, tunjukkan kita perempuan dan ibu rumah tangga bisa,” ucap Marlin meniru anggota GOW.

Sepanjang perkenalan dan tanya jawab, Marlin berbicara mengenai kelompok ibu-ibu, pembangunan di Kepri dan perannya selama ini sebagai ibu rumah tangga sekaligus istri kepala daerah.

Setelah ditunjuk sebagai calon wakil gubernur oleh Nasdem, Marlin pun melatih diri untuk terbiasa dengan berkomunikasi dengan publik dan pers. Marlin mengaku memahami persiapan untuk mengenalkan diri kepada publik dengan berlatih sendiri, namun menurut tim kreatif di sekitar Marlin, ia juga dilatih untuk berpidato. “Ada sekolahnya,” sebut salah seorang tim kreatif Marlin.

Selain soal gaya komunikasi, persiapan Marlin juga termasuk bersiap menjawab tudingan politik dinasti. Pertanyaan itu kerap dilempar ke Marlin tiap ia bertemu masyarakat. “Setiap saya turun pasti diserang,” ungkap dia. Tapi ia merasa langkahnya bukan dinasti politik karena pencalonannya lebih tinggi dari Wali Kota Batam Muhammad Rudi sehingga Rudi tidak punya pengaruh untuk mengalihkan kekuasaan kursi calon wakil gubernur. “Menurut saya, politik dinasti peralihan dari atas ke bawah,” ujar dia lagi.

Marlin Agustina

***

Berpasangan dengan Ansar Ahmad, Marlin mengail suara pemilih muda atau milenial dan kaum ibu. Jauh sebelum tahun politik, ia sudah aktif di bidang perempuan dan anak muda.

Marlin merasa bisa memenangi hati pemirsa dari kelompok emak-emak. Selama 10 tahun ia berkiprah di bidang perempuan lewat PKK , GOW dan Dekranasda. Sebelum tahun politik, Marlin sudah rajin bertemu ibu-ibu untuk sekadar mengajar memasak hingga membuat batik. Ia juga rajin membina UKM dan menggandeng anak muda lewat batik serta acara fesyen. Ia pun kerap memberikan pengalamannya selama menjadi ibu rumah tangga yang harus membagi waktu untuk keluarga  dan perannya di bidang perempuan.  “Waktu saya jadi ibu wali kota, saya tidak tahu apa-apa termasuk apa benda PKK itu,” kata dia. Marlin melanjutkan,”Tapi saya belajar, saya harus tahu masalah di Kepri. Sekarang saya tahu indeks pembangunan manusia, tahu semua,” papar dia.

Ia pun mengemban tugas itu karena tanggungjawab sebagai istri pejabat sehingga ia menyusun semua program kerja di bidangnya. Walhasil kiprahnya di bidang pendidikan akhlak, perempuan, usia dini hingga kesehatan berhasil. “Malu rasanya tidak berbuat sesuatu, fasilitas saya dapat, mobil dinas, rumah dinas dapat meski tidak ditempati,” ungkap dia.

Marlin memang tercatat sebagai satu-satunya calon yang bukan dari pengurus partai di antara tiga pasangan calon yang sudah mendaftar ke KPU. Meski diusung Nasdem dan Rudi adalah ketuanya. “Saya bukan pengurus partai, saya ibu rumah tangga. Tapi ibu-ibu jangan dipandang sebelah mata,” kata dia. Selain Marlin, ada pula Suryani yang dipasangkan bersama petahana, Isdianto, tapi ia adalah pengurus partai politik. Suryani adalah politikus perempuan dari Partai Keadilan Sejahtera dan anggota DPRD Kepri.

Dalam acara konsolidasi Nasdem di Tanjungpinang pertengahan Agustus lalu, Marlin sempat bercerita ia belajar politik dari Rudi. “Saya sudah terjun langsung berpolitik. Dan selama ini yang mengajari berpolitik, dan gurunya ada di rumah saya sendiri dengan Pak Rudi,” kata dia saat itu.

Bagi Marlin, pengelolaan rumah tangga bisa menentukan pengalaman memimpin daerah. “Sukses mengelola rumah tangga, pasti sukses mengelola apa saja. Mengelola wilayah, seperti mengelola rumah tangga,” sambung dia. Walhasil, Marlin kerap menekankan isu perempuan terutama ibu-ibu yang menentukan arah pembangunan daerah saat menyambangi calon pemilih perempuan terutama ibu-ibu. Ia kerap bercerita perannya sebagai ibu rumah tangga termasuk memasak untuk Rudi. “Pak Wali (Rudi) kalau mau balik makan selalu telepon saya dulu. Dengan seragam pun pasti saya masak. Menyiapkan masakan untuk suami menandakan istri soleha,” cerita Marlin. Marlin juga mengenalkan diri sebagai putri daerah karena ia kelahiran Karimun, Kepri.

Potensi suara dari ceruk kelompok perempuan sangat besar. Berdasarkan data KPU Kepri, pemilih dari kelompok perempuan mencapai 587.739 atau hampir separuh dari jumlah pemilih pada Pilpres 2019 di Kepri. Pada 2020, daftar pemilih sementara dari kelompok perempuan sebanyak 581.034.

Marlin juga sangat peduli dengan gaya komunikasi. Perempuan 49 tahun itu mengatur benar cara ia berkomunikasi dengan masyarakat. Ia tidak ingin langsung meyakinkan orang untuk memilihnya tiap bertemu. Marlin lebih dulu mengenalkan dirinya secara utuh. “Saya ajak kenal lebih dalam, saya ambil hati mereka dulu,” kata dia.

Gaya komunikasi santai dan sopan itu diterapkan lagi selama tahun politik. Mencalonkan diri apalagi menjadi istri nomor orang satu di Batam, Marlin mengaku sering dirisak dan dikritik. Ia menceritakan salah satu kejadian ketika ia dikritik habis-habisan dalam suatu acara pertemuan dengan masyarakat. Seorang warga mempersoalkan pembangunan jalan kepada Marlin meski yang membangun adalah Pemko Batam. “Jangan pikir di lapangan saya tidak dikritik orang. Pedes-pedes loh, tapi saya tahan kritik,” tutur dia.

Marlin memberikan tip berkaca dari kejadian itu. “Biarkan saja dia luapkan emosinya dan isi hatinya. Tidak apa-apa saya jadi kambing hitam, hampir setengah jam dia cerita.” Marlin lalu melanjutkan dialog dengan warga itu. “Pak jangan terlalu emosi, darah tingginya nanti naik,” ujar Marlin menirukan ucapannya saat itu.  “Ketawa bapak itu,” lanjut dia. Bagi Marlin, menanggapi masalah tidak perlu dengan emosional, karena setiap masalah ada jalan keluarnya, asal musyawarah. “Tidak selalu pemimpin bisa menyenangkan semua masyarakatnya,” sambung dia lagi.

Memaparkan kelebihannya, Marlin juga mengaku punya banyak kelemahan meski ia tak merinci semuanya karena menurutnya orang lain yang tahu kelemahannya. Ia menjawab soal kelebihan dan kelemahannya di antara kandidat lain karena ditanya. Marlin juga tak ingin menyerang kubu lawan kalau mau menang. “Saya tidak mau menyinggung perasaan orang lain,” kata dia. (eri/wan/can)

Editor: Candra Gunawan

Baca Juga Topik Politik:

Pos terkait