Chandra Asri Akuisisi Aset Shell di Singapura

chandra asri akuisisi shell
Aset Shell di Pulau Bukom, Singapura. Foto: The Straits Times

Singapura (gokepri) – Raksasa minyak Shell sepakat menjual kilang dan pabrik petrokimianya di Pulau Bukom dan Jurong Island, Singapura, kepada CAPGC, perusahaan patungan antara Chandra Asri asal Indonesia dan Glencore, perusahaan perdagangan komoditas global.

Penjualan aset ini mencakup kilang minyak pertama Singapura yang dibangun pada 1961. Sebelumnya, Shell melakukan peninjauan strategis terhadap aset tersebut pada 2023 untuk meningkatkan profitabilitas secara keseluruhan dan menurunkan jejak karbon global.

Baca Juga:

Transaksi yang masih menunggu persetujuan regulasi ini diperkirakan selesai akhir 2024. Seluruh karyawan yang saat ini mendukung operasional Shell Energy and Chemicals Park Singapore akan tetap dipekerjakan oleh CAPGC, demikian pernyataan Shell pada 8 Mei lalu.

Economic Development Board (EDB) Singapura menyambut baik kesepakatan antara Shell dan CAPGC, serta keberlanjutan pekerjaan yang akan diberikan CAPGC kepada tenaga kerja lokal.

Nilai transaksi tidak diumumkan Shell, namun Bloomberg News pada 3 Mei memperkirakan nilainya mencapai USD1 miliar.

“Kesepakatan ini menandai langkah signifikan dalam upaya Shell untuk meningkatkan bisnis bahan kimia dan produk kami, serta bukti komitmen kami untuk memberikan nilai lebih dengan emisi lebih rendah, seperti yang telah kami gariskan pada Capital Markets Day tahun lalu,” ujar Huibert Vigeveno, Direktur Shell untuk bisnis hilir, energi terbarukan, dan solusi energi.

“Kami bangga dengan sejarah kami di Pulau Bukom dan Jurong Island, serta kontribusi kami terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura di sektor ini dalam beberapa dekade terakhir,” tambah Vigeveno dalam pernyataannya.

Vigeveno menegaskan bahwa meskipun aset kilang dijual, Shell tetap berkomitmen terhadap Singapura sebagai pusat regional untuk bisnis pemasaran dan perdagangan.

“Seiring dengan upaya dekarbonisasi Singapura, Shell berharap dapat melanjutkan kemitraan dengan negara ini dan pelanggan kami di kawasan,” imbuhnya.

Aset yang dijual Shell meliputi kilang minyak berkapasitas 237.000 barel per hari dan pabrik cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun di Pulau Bukom.

Sementara itu, pabrik di Jurong Island yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 60 hektar memproduksi bahan kimia seperti etilena oksida, etoksilat, monomer stirena, dan propilena oksida.

Pabrik-pabrik tersebut secara keseluruhan merupakan pusat produksi dan ekspor petrokimia terbesar Shell di kawasan Asia Pasifik.

Bagi Glencore, raksasa perdagangan komoditas global yang bermarkas di Swiss, akuisisi aset Shell ini akan memperluas kehadiran mereka di Singapura.

Republik tersebut saat ini menjadi salah satu dari tiga pusat pemasaran minyak utama Glencore, selain London dan New York.

Dengan akuisisi ini, Singapura menjadi negara lain selain Afrika Selatan tempat Glencore memiliki aset kilang minyak fisik. Glencore saat ini memiliki kilang minyak berkapasitas 100.000 barel per hari di Cape Town dan pabrik pelumas di Durban.

Namun, bagi Chandra Asri, akuisisi ini merupakan langkah besar. Perusahaan bahan kimia dan infrastruktur Indonesia tersebut kini memiliki pijakan di salah satu pusat penyulingan dan perdagangan minyak terkemuka di dunia.

Saat ini, Chandra Asri mengoperasikan satu-satunya cracker naphtha di Indonesia, yang dapat memproduksi 900.000 ton etilena dan 490.000 ton propilena per tahun.

Pabrik Shell di Singapura nantinya akan memasok bahan baku naphtha untuk cracker Chandra Asri dan memungkinkan perusahaan tersebut untuk mengintegrasikan produksi petrokimia dengan kegiatan penyulingan, yang dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya.

Kedekatan Singapura dengan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, jaringan perdagangan antarbenua yang kuat, serta akses ke pasar berkembang – di mana permintaan bahan bakar, pelumas, dan petrokimia akan terus tumbuh selama beberapa dekade mendatang – akan mempertahankan status negara tersebut sebagai pusat perdagangan dan penyulingan minyak dan gas utama.

Meski demikian, pembeli fasilitas Shell ini juga akan menghadapi persaingan dari aliran petrokimia yang semakin meningkat dari pabrik-pabrik baru di Cina.

EDB Singapura menegaskan akan bekerja sama dengan perusahaan yang terlibat dalam akuisisi aset Shell di Pulau Bukom dan Pulau Jurong. Hal ini dilakukan untuk memastikan kelancaran operasional kilang dan pabrik petrokimia, serta kelangsungan pekerjaan karyawan di kawasan Energy and Chemicals Park.

Wakil Presiden Eksekutif EDB Lim Wey-Len menyatakan komitmen tersebut melalui surel kepada The Straits Times. Ia menekankan pentingnya transisi yang mulus bagi para pekerja.

“EDB akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk memastikan kelangsungan operasional dan transisi yang mulus bagi karyawan di Energy and Chemicals Park,” ujar Lim.

Lebih lanjut, Lim memandang sektor energi dan kimia Singapura masih kokoh dan akan terus berada di jalur dekarbonisasi. EDB berkomitmen untuk mengembangkan sektor tersebut secara berkelanjutan dan berdaya saing bersama para pelaku usaha global dan lokal.

“EDB berkomitmen untuk mengembangkan sektor yang berkelanjutan dan kompetitif dengan para pemain global dan lokal di Singapura. Kami terus mencari mitra yang berpikiran sama untuk mengejar solusi inovatif demi mewujudkan visi kami untuk Sustainable Jurong Island dan mencapai target emisi nol bersih Singapura,” tegas Lim.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Shell Singapura, Mohammad Hasrul Passarebu, mengungkapkan bahwa para petinggi serikat pekerja telah diberitahu perihal kesepakatan penjualan aset tersebut sebelumnya.

“Kami bekerja sama secara erat untuk memastikan karyawan kami akan tetap bekerja dengan ketentuan dan syarat yang sama. Hubungan ketenagakerjaan dan manajemen tetap terjalin dengan baik dan kolaboratif, guna memastikan lingkungan yang stabil dan mendukung bagi semua karyawan yang terdampak,” jelas Hasrul. THE STRAITS TIMES

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BAGIKAN