Seberapa Siap Kepri Jadi Kiblat Industri Hijau Indonesia?

PLTS Pulau Sembur berkapasitas 1 MWp untuk memasok listrik dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Batam.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau. Foto: Pertamina NRE

Kepri membangun ekosistem panel surya lokal. Proyek ambisius ini siap menerangi ribuan pulau terluar.

BATAM (gokepri) – Tuntutan pasar global memaksa kawasan industri beralih ke energi bersih agar bebas dari sanksi batas karbon internasional. Kepulauan Riau menjawab desakan ini lewat membangun ekosistem panel surya yang berbarengan dengan misi menerangi pelosok pulau terluar.

Suasana hangat menyelimuti ruang diskusi Festival Media Selat Malaka di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026). Ratusan peserta tampak serius membedah kesiapan daerah ini mewujudkan target raksasa bertajuk “Babak Baru PLTS 100 GW: Menakar Kesiapan Industri Hijau Indonesia dari Batam”.

Baca Juga: Wiraraja GESEIP Gandeng Politeknik Negeri Batam Siapkan Talenta Industri Hijau

Suasana diskusi publik tentang proyek PLTS 100 gigawatt di kampus Politeknik Negeri Batam.
Ratusan peserta antusias menyimak diskusi Festival Media Selat Malaka 2026 yang membedah kesiapan Batam sebagai pusat industri Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional, Sabtu (19/9/2026).

Status Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone) membuat Batam sangat menggiurkan bagi masuknya investasi pabrik komponen energi surya. Pabrik-pabrik ini wajib memakai sumber listrik ramah lingkungan agar produk ekspornya bisa menembus aturan ketat Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa.

Transisi energi raksasa ini otomatis memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka peluang alih teknologi dan penciptaan tenaga kerja hijau. “Proyek ini bisa menjadi instrumen kebijakan efektif apabila terintegrasi langsung dengan sektor manufaktur dan rantai pasok domestik,” urai Policy Strategy Coordinator Yayasan Indonesia Cerah, Naomi Devi Larasati.

Namun, perluasan bisnis ramah lingkungan ini wajib mengantongi persetujuan warga setempat lewat prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) atau persetujuan awal tanpa paksaan. Investor juga harus menyediakan saluran pengaduan independen supaya masyarakat terdampak mendapat penyelesaian masalah secara adil.

Kampus kini memegang peran strategis mencetak sumber daya manusia andal yang kemampuannya sesuai dengan kebutuhan pabrik masa depan. Batam sendiri sudah punya modal awal yang kuat berupa kawasan industri, infrastruktur pendukung, basis manufaktur, hingga pengalaman panjang merakit perangkat otomasi.

Pemerintah harus merancang perencanaan ketenagalistrikan nasional yang matang sebelum membangun perkebunan surya secara masif. “Program ini jangan sekadar mengejar pencapaian angka, tetapi wajib mempertimbangkan kesiapan sistem, kebutuhan beban, lahan, regulasi, investasi, hingga teknologi,” ingat Dosen Rekayasa Pembangkit Energi Politeknik Negeri Batam, Arif Febriansyah Juwito.

Bp batam banner link sep 2027

Gebrakan energi bersih ini nyatanya tidak cuma menyasar kawasan pabrik di pusat perkotaan. Pemasangan panel surya model pemasangan di darat (ground-mounted), atap, maupun terapung kini mulai menjangkau pulau terdepan seperti Akar Panjang dan Keranting di Batam hingga Pulau Jaga di Karimun.

Sekitar 23 desa di 92 lokasi terpencil saat ini hanya menikmati pasokan listrik selama 14 jam sehari. “Gubernur berdasarkan usulannya kepada Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) telah meminta pengadaan panel surya untuk menerangi puluhan perkampungan nelayan tersebut,” ungkap Kepala Dinas ESDM Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Darwin. Ia menjelaskan kebutuhan terhadap PLTS juga cukup tinggi di berbagai desa dan perkampungan nelayan.

Kepulauan Riau membidik sumbangan daya 1,4 hingga 2 gigawatt dari proyek swasta maupun pemerintah untuk menyukseskan program nasional tersebut. Namun, ketersediaan lahan kosong dan terbatasnya daya pasok jaringan listrik antarpulau masih menjadi tantangan utama sehingga butuh perencanaan yang cermat.

Tantangan tersebut memacu para pengusaha merancang ekosistem industri yang utuh mulai dari penyediaan bahan baku, komponen, manufaktur, tenaga kerja, teknologi, instalasi, commissioning, pemantauan, pemeliharaan, hingga tahap daur ulang. Sepanjang periode 2026 sampai 2027, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri berfokus memetakan lokasi potensial dan merintis proyek percontohan yang memaksimalkan kapabilitas lokal.

“Target 100 gigawatt ini harus dipandang sebagai momentum strategis untuk meningkatkan skala industri nasional dari hulu hingga hilir,” tegas Ketua Komite Bidang Industri dan Robotika Kadin Kepri, Defri.

Baca Juga: Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait