TANJUNGPINANG (gokepri) – Berbagai program pembangunan infrastruktur dan jaring pengaman sosial mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi yang tertinggi se-Sumatera. Pemerataan program hingga ke pulau terluar juga efektif menekan angka kemiskinan menyambut perayaan usia ke-24 tahun provinsi tersebut.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad membeberkan deretan capaian strategis tersebut saat memimpin upacara peringatan Hari Jadi ke-24 di Gedung Daerah Tanjungpinang, Kamis (24/9/2026). Ia memandang usia baru ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan ruang refleksi perjalanan panjang untuk mewujudkan kerja nyata.
Baca Juga: Seberapa Siap Kepri Jadi Kiblat Industri Hijau Indonesia?
“Momentum ini menuntut kita senantiasa bergandengan tangan, memperkuat kebersamaan, dan mengesampingkan perbedaan demi merawat amanah negeri,” ucap Ansar.
Kerja keras seluruh elemen masyarakat berhasil memacu pertumbuhan ekonomi daerah menembus angka 6,99 persen secara tahunan pada triwulan kedua 2026. “Capaian ini menempatkan Kepri pada peringkat pertama di Sumatera dan peringkat ketiga nasional,” tambahnya.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah maritim ini pada 2025 juga tercatat mencapai 80,53 poin. Skor IPM tersebut membawa Kepri meraih posisi puncak se-Sumatera sekaligus menduduki peringkat ketiga level nasional. Tren positif ini sejalan dengan persentase penduduk miskin pada Maret 2026 yang turun menjadi 4,09 persen atau angka terendah sejak 2021.
Sektor penanaman modal turut mencatatkan realisasi investasi Semester I 2026 sebesar Rp40,38 triliun. Angka tersebut memenuhi 168 persen dari target daerah senilai Rp24,10 triliun dan 94,32 persen patokan nasional sebesar Rp42,81 triliun.
Pemerintah provinsi menyalurkan program subsidi bunga margin nol persen guna menumbuhkan perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Dana sebesar Rp56,1 miliar telah tersalurkan kepada 2.126 pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah semenjak November 2021 hingga Agustus 2026.
Daerah perbatasan ini menorehkan Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 dengan 83,68 poin atau peringkat ketujuh nasional. Indeks Pembangunan Kebudayaan setempat membukukan 60,34 poin, lebih tinggi dari rata-rata pencapaian budaya berskala nasional sebesar 59,98 poin.
“Kepri terus meneguhkan komitmen membangun daerah dengan bertumpu pada kekuatan sejarah, budaya Melayu, serta kolaborasi masyarakat,” jelas Ansar.
Komitmen pelestarian akar warisan leluhur akan berwujud nyata melalui perancangan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.
Pemerintah memberikan insentif keagamaan bagi 13.348 penerima manfaat serta kucuran dana bantuan untuk 237 rumah ibadah. Sebanyak 50 orang penceramah agama juga mendapat penugasan khusus guna membina masyarakat di berbagai pulau terluar.
Pemerataan akses ilmu pengetahuan tergambar dari operasional program SPP gratis, bantuan transportasi pelajar darat dan laut, serta beasiswa bagi 1.212 mahasiswa. Pemenuhan fasilitas sarana prasarana seluruh jenjang sekolah terus berjalan menyentuh berbagai pelosok kawasan.
“Pemerintah daerah memberikan bantuan biaya pendidikan bagi 58 dokter spesialis dan subspesialis untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis,” kata Gubernur. Kehadiran para ahli kesehatan siap menyokong program jaminan kesehatan daerah serta operasional rumah singgah pasien di Jakarta maupun Batam.
Pemerintah memastikan ketersediaan pasokan energi memadai bagi warga pesisir hingga Desember 2025 mendatang. Program Kepri Terang memfasilitasi kebutuhan pasokan listrik dasar bagi 14.340 rumah tangga yang tersebar di tujuh wilayah kabupaten atau kota.
Lebih dari 15.200 unit tempat tinggal masyarakat lainnya kini bisa menikmati bantuan pemasangan sambungan jaringan listrik gratis. Perlindungan asuransi kecelakaan kerja menyasar para nelayan dan petani agar mereka merasa aman saat mencari nafkah.
Pemerintah memfasilitasi program pemulangan jenazah warga sekaligus menyelenggarakan pelatihan ketenagakerjaan demi mendongkrak kompetensi angkatan kerja. Program bedah rumah turut menyasar perbaikan 200 unit hunian milik masyarakat Suku Laut.
Laut yang membentang luas di antara ribuan pulau bukan berstatus sebagai pemisah wilayah, melainkan ruang penghubung urat nadi ekonomi. “Karena itu, konektivitas jadi kunci penting dalam membangun Kepri,” tegas Ansar memaparkan filosofinya.
Seluruh program kemasyarakatan tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang ikut berkunjung ke Pulau Penyengat. Mantan pucuk pimpinan kepolisian itu menyoroti kemajuan kawasan dan mutu pelayanan publik daerah kepulauan ini.
“Bahkan di Batam dulu hanya ada satu kecamatan, tapi setelah pemekaran 24 tahun lalu, hari ini kita lihat Kepri makin maju,” kenang Tito.
Batam menjelma sebagai daerah modern bertabur jalan raya lebar, mal mewah, dan penginapan berstandar nasional. Geliat kemajuan serupa tampak jelas di Kabupaten Bintan seiring kehadiran resor wisata serta operasional Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang.
“Tanjungpinang dan kabupaten/kota lainnya di Kepri terus menunjukkan tren positif, namun perlu didorong agar semakin maju ke depannya,” harap Mendagri.
Posisi Kepri sangat menguntungkan karena berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura serta berada di titik strategis Selat Melaka. Fakta geografis menjadi modal utama kawasan untuk memacu investasi penanam modal asing sekaligus kunjungan wisatawan mancanegara.
“Tinggal bagaimana meningkatkan sumber daya manusia terdidik, sehat, dan terlatih, sehingga mampu jadi pemain di kampung sendiri,” pesan Tito. Penguatan kualitas masyarakat asli daerah sangat krusial agar seluruh penduduk pesisir sanggup bersaing menikmati perputaran roda ekonomi.
“Kita berupaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat, baik di pusat-pusat pertumbuhan maupun di pulau-pulau, dapat terpenuhi dan aksesibilitasnya terus ditingkatkan,” papar Ansar. Upaya seperti penempatan ustaz di pulau terpencil hingga pelatihan vokasional menjadi potret nyata pemerataan kapasitas warga.
Baca Juga: Ekonomi Kepri Tumbuh 7,02 Persen, Tertinggi di Sumatera
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







