BERLAYAR Bank Indonesia Membuka Peluang Baru Ekonomi Kepulauan

BERLAYAR Bank Indonesia
Bank Indonesia Kepulauan Riau membuka rangkaian Program BERLAYAR di Belakang Padang, Batam, Sabtu 15 November 2025. Program ini sebagai upaya memperkuat literasi keuangan dan mendorong digitalisasi bagi pelaku UMKM di wilayah kepulauan. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Bank Indonesia memperkuat fondasi ekonomi pesisir melalui program BERLAYAR (Belajar, Literasi, dan Aksi untuk Rakyat). Program ini menjadi pintu masuk BI untuk memperluas literasi keuangan, penggunaan pembayaran digital, dan penguatan usaha kecil di pulau-pulau terluar. Dampaknya mulai terlihat di Belakang Padang.

Salah satu yang merasakannya adalah Ayu (26), penjual nasi campur yang berjualan sejak tiga tahun lalu. Ia mengikuti pelatihan pencatatan keuangan dan pemasaran digital dalam rangkaian kegiatan BERLAYAR. Sebelum itu, usahanya berjalan tanpa catatan rapi. Setelah mempelajari cara mengatur arus kas, ia mulai menggunakan pencatatan sederhana yang memudahkan pemantauan modal dan omzet.

“Setelah pakai pencatatan, penjualan saya jadi lebih terukur dan malah naik,” katanya. Ia juga memanfaatkan media sosial untuk promosi, sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan. Hasilnya, pelanggan baru bertambah dan pendapatannya meningkat sekitar 20–30 persen. Bagi Ayu, program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi titik awal mengembangkan usaha dengan lebih percaya diri.

Camat Belakang Padang, Hanafi, menilai program ini memberi dorongan nyata bagi pelaku usaha mikro. Menurut dia, banyak usaha kecil yang mulai lebih dikenal karena pendampingan yang diberikan. Pemerintah kecamatan berharap kegiatan serupa bisa digelar kembali untuk memperluas promosi UMKM dan pariwisata Belakang Padang, terutama karena posisi pulau ini yang berada tepat di depan Singapura.

Berlayar Bank Indonesia Kepri
Salah satu UMKM yang mengikuti bazaar BERLAYAR di Belakang Padang. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Meski begitu, tantangannya tetap besar. Ekonomi Belakang Padang masih bergantung pada sektor kelautan. Suyono Saputra, dosen ekonomi dari Universitas Internasional Batam, menilai masyarakat di pulau ini hidup dari menangkap, mengolah, dan menjual hasil laut. Armada nelayan kecil membatasi ekspor dan akses pasar. Keterbatasan teknologi membuat proses produksi berjalan konvensional. Infrastruktur dasar seperti air bersih, listrik, sanitasi, dan internet masih belum merata.

Kondisi pendidikan juga membuat sebagian besar anak muda memilih merantau. Padahal, menurut Suyono, potensi produk laut dan usaha olahan memiliki prospek kuat bila dibekali pelatihan dan penguatan usaha mikro secara berkelanjutan. Karena itu, pembangunan perbatasan tidak harus meniru modernisasi negara tetangga, tetapi memastikan kebutuhan dasar tercukupi dan pelaku usaha kecil mampu tumbuh.

Digitalisasi sebagai Pengungkit Baru

Berlayar Bank Indonesia Kepri
Pembukaan BERLAYAR di Belakang Padang. GOKEPRI/ENGESTI FEDRO

Melalui BERLAYAR, Bank Indonesia mencoba menutup sebagian kesenjangan tersebut. Program ini menggabungkan edukasi keuangan, pemberdayaan UMKM, dan aksi sosial dalam satu rangkaian kegiatan. Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyebut bahwa nama “BERLAYAR” dipilih untuk menggambarkan perjalanan bersama antara masyarakat pulau dan transformasi digital yang sedang berlangsung.

Belakang Padang, yang menghadap langsung ke Singapura, dinilai tepat sebagai lokasi program. Kawasan ini merupakan pintu interaksi ekonomi lintas negara sekaligus tempat budaya lokal bertemu perubahan digital. BI ingin memastikan masyarakat pulau dapat merasakan manfaat digitalisasi pembayaran secara langsung, mulai dari penggunaan QRIS, perlindungan konsumen, hingga pemahaman nilai rupiah.

Data transaksi QRIS menunjukkan pertumbuhan yang mencolok. Tahun 2024, Kepri mencatat 33,9 juta transaksi. Angka itu melonjak menjadi 64,9 juta transaksi hingga September 2025, dengan nilai Rp7,7 triliun. Pengguna QRIS juga meningkat dari 530 ribu pada akhir 2024 menjadi lebih dari 952 ribu orang pada September 2025. Transaksi lintas negara dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura ikut bertambah seiring perluasan pemanfaatan QRIS cross–border.

Digitalisasi ini turut mendorong laju ekonomi Kepri yang tumbuh 7,48 persen pada kuartal terbaru. Inflasi tetap terjaga di 3,01 persen (yoy) pada Oktober 2025, didukung program pengendalian harga pangan oleh BI bersama TP2ED dan TPID. Bagi BI, capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya milik kota besar, tetapi juga pulau-pulau kecil yang menjadi garda depan Indonesia.

Misi BERLAYAR bukan berhenti pada kunjungan program. BI berharap masyarakat Belakang Padang dapat mengembangkan ekonomi yang lebih inklusif dan tangguh, sekaligus memperkuat perannya sebagai ikon baru ekonomi digital perbatasan. Dengan adopsi pembayaran digital yang makin luas, pelaku UMKM diharapkan lebih mudah menjangkau konsumen, memperbaiki manajemen usaha, dan menghubungkan produk mereka dengan pasar yang lebih besar.

Bank Indonesia melihat potensi Belakang Padang bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai simpul baru aktivitas ekonomi digital yang menghubungkan usaha kecil dengan jaringan ekonomi regional. ***

Baca Juga:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait