Autism Conference di Batam Soroti Ledakan Kasus Autisme

Autism Conference di Batam
Ribuan orang tua dan praktisi pendidikan mengikuti Batam Autism Conference 2025 di Batam, Minggu (29/6). Konferensi ini menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang autisme. GOKEPRI/Engesti Fedro

BATAM (gokepri) – Ribuan orang menghadiri konferensi autisme di Batam. Konferensi ini menyoroti lonjakan kasus autisme yang perlu ditangani secara komprehensif.

Ribuan orang tua dan pemerhati pendidikan mengikuti Batam Autism Conference 2025 (BAC2025) di Hotel Harmoni One, Minggu (29/6). Acara yang digagas Penawar Special Learning Centre (PSLC) ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik tentang autisme dan memberikan akses penanganan awal.

“Kami ingin orang tua tahu autisme bukanlah gangguan mental. Mereka hanya memiliki cara berpikir dan kemampuan yang berbeda,” kata Clinical Director PSLC, dr Ruwinah Abdul Karim.

HBRL

Menurut dr. Ruwinah, 200 orang tua mendaftar untuk layanan screening gratis. Ia juga menyoroti tingginya angka kasus autisme secara global. “Di PSLC Malaysia, kami punya lebih dari 26.000 pasien. Dalam setahun, ada sekitar 9.000 kasus baru,” ujarnya.

Ia menyebut autisme sebagai tantangan besar pascapandemi yang memerlukan sistem penanganan yang kuat. “Pandemi sesungguhnya bukan hanya COVID-19, tapi juga ledakan kasus autisme. Kita perlu bersiap secara komprehensif,” tegasnya.

Autism Conference di Batam
Dokter Ruwinah Abdul Karim saat memberikan edukasi kepada peserta di Batam Autism Conference 2025. Konferensi ini menekankan perlunya penanganan komprehensif untuk lonjakan kasus autisme. GOKEPRI/Engesti Fedro

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, mengakui tren kasus autisme di Batam meningkat setiap tahun. Tantangan utama terletak pada kesiapan sumber daya manusia, sarana, dan kebijakan yang mendukung pendidikan inklusif.

“Pusat Layanan Autis di Batam saat ini baru satu yang menyelenggarakan pendidikan formal. Sekolah luar biasa (SLB) memang bertambah, tetapi belum cukup mengimbangi kebutuhan,” katanya.

Tri Wahyu menilai peran pemerintah daerah masih terbatas karena kewenangan berada pada level nasional. Namun, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat Batam. Ia mendorong semua pihak menyusun proposal dan inisiatif kolaboratif untuk memperkuat layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi guru. “Ketika guru kurang pengetahuan, itu bisa membahayakan perkembangan anak. Karena itu, pelatihan dan literasi sangat penting,” tambahnya.

BAC 2025 adalah konferensi kedua yang digelar PSLC di Indonesia. Konferensi ini menjadi langkah strategis untuk membangun pemahaman, kesiapan, dan dukungan terhadap pendidikan inklusif anak-anak autisme di Kepulauan Riau dan Indonesia.

Baca Juga: Konferensi Autisme Internasional di Batam, Sediakan Skrining Gratis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti Fedro
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait