BANGKOK (gokepri) – Kepolisian Thailand mengidentifikasi seorang wanita Amerika Serikat keturunan Vietnam, Sherine Chong (56), sebagai tersangka dalam kasus kematian enam orang di hotel mewah Grand Hyatt Erawan, Bangkok. Diduga, Chong meracuni kelima rekannya sebelum bunuh diri dengan racun yang sama.
Rumah sakit Chulalongkorn pada 17 Juli lalu mengonfirmasi jejak sianida ditemukan dalam autopsi keenam jenazah yang ditemukan di satu suite hotel tersebut. Menurut Dr Kornkiat Vongpaisarnsin dari rumah sakit tersebut, para korban menunjukkan ciri-ciri keracunan zat kimia cepat kerja, seperti bibir berwarna ungu yang mengindikasikan kekurangan oksigen. Pemeriksaan lebih lanjut masih dilakukan.
Baca: Tragedi di Grand Hyatt Erawan Bangkok, Enam Tamu Tewas di Kamar Hotel
Investigasi polisi Thailand menyimpulkan Chong sebagai pelaku setelah memeriksa saksi, termasuk anak perempuan salah satu korban, demikian laporan surat kabar Thailand, Khaosod dan Bangkok Post pada 17 Juli.
Motif di balik tragedi ini diduga terkait masalah utang. Pihak kepolisian tidak menyelidiki tersangka lain karena kamar Suite 502, tempat jasad ditemukan, terkunci dari dalam dan tidak ada orang lain yang diketahui masuk selain keenam korban. Tidak ditemukan tanda-tanda perkelahian.
Investigasi menduga para korban telah meninggal 24 jam sebelum ditemukan. Pihak kepolisian Thailand saat ini sedang mencari sumber sianida yang digunakan Chong.
“Kasus ini kemungkinan besar bermula dari masalah utang,” ujar Mayor Jenderal Theeradej Thumsuthee, Kepala Bagian Investigasi Kepolisian Metropolitan Bangkok, seperti dikutip media Thailand. “Tidak ada kemungkinan lain. Pelakunya ada di antara keenam orang yang meninggal karena mereka satu-satunya yang memasuki kamar tersebut.”
Utang tersebut diduga berasal dari proyek pembangunan yang gagal. Penyelidikan lanjutan dengan mewawancarai saksi, termasuk kerabat korban, mengungkapkan para korban terdiri dari peminjam, pemberi pinjaman, dan penjamin. Dua di antara korban yang merupakan pasangan suami istri diketahui menjalankan bisnis konstruksi.
Wakil Kepala Kepolisian Bangkok, Noppasin Punsawat, mengatakan kepada media bahwa para saksi menginformasikan Chong telah menerima uang senilai sekitar 10 juta baht dari pasangan tersebut untuk membangun rumah sakit di Jepang.
Pasangan berusia 49 dan 47 tahun itu mencurigai Chong melakukan penipuan karena proyek tersebut tidak menunjukkan kemajuan berarti. Mereka pun berencana bertemu di Thailand untuk menyelesaikan masalah tersebut, setelah kendala visa menghalangi pertemuan di Jepang.
Keenam korban yang ditemukan tewas terdiri dari tiga pria dan tiga wanita keturunan Vietnam. Dua di antaranya, termasuk Chong, merupakan warga negara Amerika Serikat.
Salah satu korban adalah perias berusia 37 tahun, Phu Gia Gia, yang dilaporkan pernah bekerja dengan selebriti dan ratu kecantikan Vietnam. Kepergiannya diratapi keluarga dan para penggemar yang meninggalkan pesan belasungkawa di halaman Facebook-nya.
Gia diduga diyakinkan untuk berinvestasi dalam proyek yang gagal tersebut.
Jasad para korban ditemukan oleh staf hotel di kamar lantai lima Grand Hyatt Erawan sekitar pukul 5.30 sore pada 16 Juli, beberapa jam setelah seharusnya mereka check-out. Barang-barang mereka yang telah dikemas seperti akan meninggalkan hotel, kini disita polisi untuk keperluan investigasi.
Rekaman kamera pengawas menunjukkan keenam korban memasuki hotel dengan koper mereka pada sore hari tanggal 15 Juli. Diduga itu adalah terakhir kalinya mereka terlihat di luar kamar.
Menurut Kepala Kepolisian Bangkok, Letnan Jenderal Thiti Saengsawang, rombongan tersebut memesan beberapa kamar dengan menggunakan tujuh nama berbeda di lantai yang berbeda pula.
Media Khaosod melaporkan bahwa orang ketujuh yang namanya terdaftar adalah adik perempuan dari salah satu korban. Ia meninggalkan Thailand pada 10 Juli dan tidak diduga terlibat dalam kasus kematian ini.
Letnan Jenderal Thiti juga mencatat bahwa keenam korban memesan makanan melalui layanan kamar hotel, namun makanan tersebut tidak tersentuh dan hanya beberapa minuman yang diminum. Foto-foto piring berisi nasi goreng, sayur, dan sup tom yum yang dibungkus plastik beredar online. Hanya satu piring yang segel plastiknya sudah terbuka.
Menurut laporan Khaosod pada 17 Juli, tim forensik menemukan sianida dalam termos, teko, dan enam cangkir di kamar tersebut. Petugas kepolisian menjelaskan sianida sebagai zat beracun kuat yang tidak berbau dan tidak berasa, sehingga para korban tidak bisa mengetahui racun tersebut ada dalam minuman mereka.

Sianida diduga dicampur ke dalam teko teh yang diseduh Chong. Para investigator forensik menunjukkan kantong teh berwarna gelap yang diambil dari lokasi kejadian, dan menduga teh tersebut telah dicampur dengan zat beracun dalam jumlah besar karena warnanya yang tidak biasa.
Seorang pelayan hotel yang mengantar makanan dan minuman ke Suite 502 kala itu mendapati Chong sendirian di dalam kamar, sebut Khaosod. Chong juga menolak tawaran pelayan tersebut untuk membuatkan teh, dan mengatakan akan menyeduhnya sendiri. Kepada polisi, pelayan itu mengatakan bahwa Chong terlihat tertekan.
“Kami menemukan sianida di semua cangkir teh yang kami periksa, enam cangkir secara keseluruhan,” ujar kepala Biro Barang Bukti Kepolisian Thailand, Trirong Phiwpan, dalam konferensi pers pada 17 Juli.
Ia menambahkan bahwa sianida menghambat sel darah merah dalam tubuh untuk menyerap oksigen, dan racun tersebut dapat bereaksi dalam waktu kurang dari lima menit, tergantung pada jumlah yang dikonsumsi.
Penyelidikan kepolisian masih berlangsung. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) turut membantu penyelidikan ini. Kedutaan Besar Vietnam di Bangkok menyatakan sedang bekerja sama dengan otoritas Thailand terkait kasus tersebut.
Perdana Menteri Thailand, Srettha Thavisin, pada 16 Juli memerintahkan penyelidikan cepat untuk meminimalkan dampak negatif terhadap sektor pariwisata Thailand.
Grand Hyatt Erawan merupakan hotel mewah bintang lima yang populer di kalangan wisatawan. Hotel tersebut terletak di pusat kota Bangkok, tepat di sebelah kuil Erawan yang kerap dikunjungi banyak pendoa. STRAITS TIMES
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi Anda melakukan tindakan serupa. Jika mengalami depresi atau bermasalah dengan kesehatan jiwa, segera hubungi psikolog atau layanan kesehatan mental terdekat.
Jika membutuhkan bantuan, Anda dapat mengakses layanan dari Kementerian Kesehatan lewat nomor 119 ext 8. Anda juga dapat menghubungi layanan 24 jam BISA Helpline melalui nomor WhatsApp 08113855472.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









