Karimun (gokepri.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) batal datang ke Karimun untuk membuka Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Summit 2023 pada Rabu, 30 Agustus 2023.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang memberikan pernyataan resmi penyebab batalnya Presiden Jokowi ke Karimun.
Termasuk Bupati Karimun Aunur Rafiq, ketika dikonfirmasi awak media mengaku masih menunggu rilis dari Kementerian Sekretariat Negara.
“Rilis dari Setneg belum keluar, kita tunggu sampai hari ini,” ujar Aunur Rafiq di Coastal Area, Senin 28 Agustus 2023.
Kata Rafiq, setelah keluarnya rilis dari Setneg baru bisa disampaikan kepastian jadi atau tidaknya Presiden Jokowi ke Karimun.
Terlepas dari informasi apa yang akan disampaikan pihak Setneg, ternyata berhembus beragam isu yang menjadi penyebab batalnya orang nomor satu di Indonesia ini ke Karimun.
Isu yang paling santer terkait masalah mistis, yakni tidak ditemukannya lokasi helipad untuk pendaratan Jokowi di Karimun.
Pun termasuk di Bandara Raja Haji Abdullah (RHA) sekalipun.
Memang, rencananya Jokowi ke Karimun menggunakan helikopter dari Bandara Hang Nadim, Batam.
Hanya saja, hingga saat ini pihak yang dipercaya menentukan lokasi helipad tersebut tidak menemukan lokasi yang pas untuk pendaratan.
“Tak satupun lokasi yang bisa untuk dijadikan helipad pendaratan Pak Jokowi di Karimun, termasuk di Bandara Raja Haji Abdullah sendiri,” ujar IP, pihak yang disebut ikut mendampingi penentuan lokasi helipad tersebut.
Cerita itu dibuka IP saat berbincang ringan dengan media ini di salah satu kafe di Tanjungbalai Karimun, Selasa, 29 Agustus 2023.
Begitu bercerita soal helipad dan kedatangan seorang presiden ke Karimun, tiba-tiba IP menerawang kisah 26 tahun yang lalu.

Dulunya, Presiden Soeharto juga meresmikan PT KIC (Karimun Indojaya Corporation) dan PT KSS (Karimun Sembawang Shipyard) bersama Perdana Menteri Singapura, Goh Chok Tong pada 17 Maret 1997.
“Merinding saya kalau membicarakan ini. Ingat saya kisah pada tahun 1997,” ujar IP sambil menunjukkan lengannya yang merinding.
Saat itu, pihak spiritual istana negara telah mengingatkan Soeharto agar jangan ke Karimun karena bisa lengser dari jabatannya.
Benar saja, satu tahun setelah kepulangan Soeharto dari Karimun, dia langsung lengser dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia, tepatnya 21 Mei 1998.
Tentu saja, pihak spiritual istana tak ingin kisah Presiden Soeharto juga menimpa Presiden Jokowi.
“Spiritual istana ini regenerasi, artinya mereka yang menjadi spiritual istana merupakan keluarga yang turun temurun, bahkan sejak masa Presiden Soekarno,” tutur IP.
Dikatakan, untuk menentukan titik helipad mendaratnya seorang Presiden ke Karimun, pihak spiritual istana turun langsung ke sana.
“Mereka memang tidak menemukan lokasi yang pas untuk helipad. Mereka bilang Lancang Kuning ini ngeri,” beber IP.
IP berkisah, ketika pihak spiritual istana turun ke Karimun pada zaman Presiden Soeharto, dirinya juga turut mendampingi.
Saat itu, spiritual istana bahkan mengunjungi lokasi-lokasi yang dianggap keramat dan bernilai sejarah di Karimun, termasuk benteng pertahanan saat konfrontasi dengan Malaysia yang ada Pelambung, Desa Pongkar, Karimun.
“Spiritual istana itu menyebut, siapa saja pemimpin Indonesia ini yang turun ke Karimun, maka akan lengser ataupun turun dengan tidak hormat,” ungkap IP.
Makanya, selain Soeharto masih ada pejabat negara lain yang turun dari jabatannya usai ke Karimun.
Sebut saja Setya Novanto yang turun dari jabatan Ketua DPR RI. Pun termasuk KSP Moeldoko yang batal memimpin Demokrat karena juga pernah ke Karimun.
“Percaya atau tidak kisah ini, Wallahu Alam,” pungkasnya.
Penulis: Ilfitra







