Jakarta (gokepri.com) – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan tertekan kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya laju inflasi di Amerika Serikat.
Pada pukul 09.37 WIB, rupiah melemah 82 poin atau 0,58 persen ke posisi Rp14.280 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.198 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,35 persen atau 50 poin menjadi Rp14.247 per dolar AS. Sementara itu, Indeks dolar AS naik 0,08 persen ke 90,393.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan rupiah mungkin bisa melemah hari ini mengikuti pelemahan nilai tukar regional terhadap dolar AS pagi ini.
“Kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi di AS bisa mendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya hari ini,” ujar Ariston.
Selain itu, lanjutnya, penguncian di beberapa negara tetangga karena kenaikan kasus COVID-19 juga memicu penguatan dolar AS.
“Kekhawatiran pasar terhadap penurunan ekonomi global mendorong pasar memegang dolar AS sebagai aset aman,” tambahnya.
Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran Rp14.250 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp14.180 per dolar AS.
Sebelumnya, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rupiah berpotensi membuka perdagangan pertama setelah libur lebaran di zona hijau. “Mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuasi, tetapi ditutup menguat di rentang Rp14.180 – Rp14.225 per dolar AS,” ujar Ibrahim dikutip dari risetnya, Senin (17/5/2021).
Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen penggerak rupiah adalah penjualan ritel Indonesia yang terus menunjukkan sinyal pemulihan, meski masih terjadi kontraksi pada Maret 2021. Bank Indonesia melaporkan penjualan ritel yang dicerminkan oleh indeks penjualan riil (IPR) pada Maret 2021 sebesar 187,9, naik 6,1 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya masih terkontraksi 14,6 persen.
Namun, BI memperkirakan IPR di level 209,3, naik 11,4 persen secara bulanan pada April 2021.
Prospek pertumbuhan fundamental ekonomi dalam negeri itulah yang akan menopang penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Di sisi lain, pada perdagangan Senin (17/5/2021) hingga pukul 07.32 WIB indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak menguat 0,05 persen ke posisi 90,369.
Pada Selasa (11/5/2021) lalu, rupiah ditutup stagnan atau sama dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.198 per dolar AS. (Can/ant)







