Harga salak Bintan mencapai Rp25 ribu per kilogram. Pembelinya menjangkau tiga negara tetangga.
BINTAN (gokepri) – Salak Sari Intan dari Bintan dijual Rp24 ribu–Rp25 ribu per kilogram dan menarik pembeli dari sejumlah negara tetangga. Komoditas ini berpeluang memperluas pendapatan petani sekaligus menggerakkan usaha lokal.
Salak yang dikembangkan Kelompok Tani Maju Jaya ini mulai ditanam pada 2003 dan kini telah mencapai ribuan batang pohon. Ketua kelompok tani, Suwadi, mengatakan varietas tersebut merupakan hasil persilangan Salak Pondoh, Salak Pasir, dan Salak Bali yang telah dirilis Kementerian Pertanian sebagai Varietas Unggul Baru (VUB).
Suwadi menyebut keunggulan Salak Sari Intan terletak pada rasa manis, daging buah yang tebal, serta tekstur renyah dan gurih. Buah ini juga memiliki aroma khas dan tidak terasa sepat meski masih muda.
Baca Juga: Bintan Kembangkan Salak Sari Intan untuk Pasar Ekspor
Harga jualnya berkisar Rp24 ribu–Rp25 ribu per kilogram. Menurut Suwadi, pembelinya tidak hanya berasal dari pasar lokal, tetapi juga Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Salak Sari Intan juga telah terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis (IG) di Kementerian Hukum. Pendaftaran ini memperkuat identitas produk, meski keberhasilan memperluas pasar tetap bergantung pada produksi, distribusi, dan permintaan konsumen.
Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura menilai salak tersebut berpotensi menjadi produk unggulan pertanian daerah. Pengembangan komoditas lokal, menurut dia, dapat membantu mengurangi ketergantungan Kepri terhadap pasokan buah dari luar daerah sekaligus memperkuat kemandirian pangan.
Saat meninjau kebun Salak Sari Intan di Jalan Bumi Indah Gesek, Bintan, Kamis (22/10), Nyanyang mengapresiasi upaya Kelompok Tani Maju Jaya mengembangkan buah lokal di tengah tantangan pertanian wilayah kepulauan. Petani menghadapi perubahan cuaca, curah hujan yang tidak menentu, serta kondisi tanah yang membutuhkan teknik budidaya khusus.
“Dengan dedikasi, disiplin, dan inovasi, tanah Bintan mampu menghasilkan buah unggulan,” kata Nyanyang.
Menurut Nyanyang, peluang ekonomi salak tidak berhenti pada penjualan buah. Perkebunan ini juga dapat dikembangkan sebagai tujuan agrowisata yang menghubungkan kegiatan pertanian dengan sektor pariwisata.
Konsep tersebut berpotensi membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Kunjungan wisatawan dapat menggerakkan usaha kuliner, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar perkebunan.
Nyanyang berharap Salak Sari Intan berkembang menjadi contoh komoditas hortikultura produktif di Kepulauan Riau. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat daya saing pertanian lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca Juga: UMKM Indonesia Siap Ekspor, Mendag Gaet Dukungan Singapura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







