Kebutuhan listrik Batam tumbuh lebih dari 15 persen. PLN merencanakan pembangkit baru dan penyimpanan energi untuk memperkuat sistem.
BATAM (gokepri) – Batam memiliki daya pasok listrik 930 megawatt (MW) dengan beban sekitar 780 MW. Namun, cadangan daya itu tidak otomatis mencegah gangguan yang memutus pasokan listrik Batam-Bintan pada 12 Oktober.
Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo menyebut selisih antara daya pasok dan beban mencapai sekitar 150 MW. Angka itu setara dengan 16,1 persen dari daya pasok. Selisih daya tersebut menunjukkan masih ada ruang antara pasokan dan kebutuhan listrik berdasarkan angka yang dipaparkan perseroan.
Namun, keandalan sistem juga bergantung pada kondisi pembangkit, jaringan, sistem proteksi, serta kemampuan mengisolasi gangguan agar tidak meluas. Pemadaman Batam-Bintan pada 12 Oktober memperlihatkan pentingnya menguji aspek-aspek tersebut. PLN Batam membantah gangguan itu berkaitan dengan pengujian atau commissioning pusat data.
Baca Juga: Jejak Kelalaian di Balik Blackout Batam-Bintan
“Pusat data di Batam belum akan beroperasi penuh dalam waktu dekat,” ujar Kwin Fo saat konferensi pers pekan lalu. Menurut dia, ketika mulai beroperasi, tingkat operasionalnya diperkirakan belum melampaui 10 persen dari kapasitas total, meski ia tidak merinci fasilitas dan periode yang menjadi dasar perkiraan tersebut.
Tantangan kelistrikan Batam tidak berhenti pada satu peristiwa pemadaman seperti 12 Oktober. Kwin menyebut pertumbuhan kebutuhan listrik di Batam telah melampaui 15 persen, sedangkan pertumbuhan konsumsi listrik nasional menurut dia berada pada kisaran 3–4 persen.
Pertumbuhan yang lebih cepat membuat PLN perlu menambah pasokan sekaligus menjaga jaringan tetap andal. Perusahaan memperkirakan beban listrik akan bertambah sekitar 300–400 MW pada periode 2027–2032, atau sekitar 30 persen.
Untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan itu, PLN Batam merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Kwin juga menyebut daya pasok diproyeksikan mencapai 1.200–1.300 MW pada akhir 2027, tetapi rincian proyek dan jadwal penambahan kapasitasnya masih perlu diperjelas.

Selain pembangkit baru, PLN Batam merencanakan Battery Energy Storage System (BESS), yaitu sistem penyimpanan energi berbasis baterai, untuk mendukung kelistrikan Batam-Bintan. Baterai dapat menyimpan energi dan melepaskannya kembali ketika dibutuhkan, sehingga membantu sistem merespons perubahan beban dengan cepat.
Kwin mengatakan baterai dapat melepaskan daya dalam hitungan milidetik, lebih cepat daripada pembangkit konvensional yang membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi setelah berhenti. Namun, kemampuan BESS menjaga pasokan bergantung pada kapasitas daya, jumlah energi yang tersimpan, durasi pelepasan energi, dan cara sistem itu terhubung dengan jaringan.
Penambahan pembangkit dan baterai merupakan bagian dari rencana memperkuat pasokan listrik. Akan tetapi, kapasitas baru saja tidak cukup untuk menjamin gangguan tidak berulang jika persoalan pada jaringan, peralatan, atau sistem proteksi tidak ikut dibenahi.

Berdasarkan catatan gokepri, sebesar 80 persen suplai listrik Batam berasal dari pembangkit tenaga gas, sedangkan pembangkit batu-bara berkontribusi sebesar 18 persen, dan sisanya masih mengandalkan dari pembangkit diesel sebagai cadangan. Dua pembangkit itu yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Uncang dan PLTU Tanjung Kasam.
Pembangkit PLN Batam terdiri dari dua sumber, yaitu pembangkit sendiri yang mayoritas merupakan pembangkit tenaga diesel (PLTD) yang tersebesar di Baloi, Batu Ampar, Sekupang, dan Tanjung Sengkuang dengan total produksi 27 MW.
Sedangkan pembangkit milik mitra yang disebut dengan independent power producer (IPP) terdiri dari PLTG dan PLTGU Tanjung Uncang masing-masing berkapasitas 70 MW dan 120 MW, PLTG-PLTMG-PLTGU Panaran kapasitas 171 MW, PLTMG Baloi 30 MW, dan PLTU Kasam 102 MW.
Peta Pembangkit Baru
Gambaran kebutuhan jangka panjang muncul dalam pemetaan BP Batam yang disampaikan Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis melalui tulisannya mengenai masa depan data center di Batam. Hingga akhir Agustus 2026, BP Batam mengidentifikasi sembilan entitas data center dengan 10 kampus atau lokasi proyek yang berada pada tahap perencanaan, konstruksi, maupun operasi bertahap. JelajahiKota
Jumlah tersebut tidak otomatis berarti seluruh fasilitas sudah beroperasi atau langsung menggunakan listrik sesuai kapasitas akhirnya. Dalam proyeksi PLN Batam periode 2026–2035 yang dipaparkan Fary, daya mampu pasok pembangkit direncanakan meningkat dari sekitar 970 MW pada 2026 menjadi 3.691 MW pada 2035. Pada saat yang sama, penyerapan daya pelanggan data center diperkirakan naik dari 89 MW pada 2026 menjadi 1.150 MW mulai 2031, mengikuti tahapan pengembangan fasilitas.

PLN Batam juga memetakan 17 pelanggan data center, dengan 10 pelanggan memiliki jadwal penyaluran daya dalam kategori komitmen. Angka ini menggambarkan permintaan yang perlu diantisipasi, tetapi belum membuktikan seluruh kebutuhan tersebut sudah terealisasi atau seluruh fasilitas sudah beroperasi.
Proyeksi pasokan sebesar 3.691 MW pada 2035 juga berbeda cakupan dan waktunya dari angka daya pasok 930 MW yang disampaikan Kwin untuk kondisi saat ini. Keduanya menunjukkan kondisi pada periode dan basis perhitungan berbeda, sehingga tidak dapat dibandingkan seolah-olah menggambarkan kapasitas yang tersedia pada waktu yang sama.
Fary menekankan perencanaan investasi harus terhubung dengan kesiapan infrastruktur dasar. Dalam pandangannya, besarnya modal yang masuk perlu berjalan seiring dengan keandalan layanan, keterbukaan informasi, dan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
“Data center dapat menjadi berkah ketika pertumbuhannya dipersiapkan dengan infrastruktur andal, penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab, dan kesempatan ekonomi yang terbuka,” tulis Fary.
Fary menyebut PLN Batam memetakan potensi proyek PLTS sekitar 2.500 megawatt-peak (MWp), antara lain di Rempang, Duriangkang, Pulau Lumba, dan Piayu. Proyek-proyek itu berada pada tingkat kesiapan berbeda dan masih memerlukan pengembangan sesuai karakter pembangkitan surya serta kebutuhan keandalan sistem.
Baca Juga: Pembangkit Baru Solusinya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







