BATAM (gokepri) – Investasi Korea Selatan di Batam mencapai Rp 1,175 triliun pada semester I 2026. BP Batam memperluas penjajakan untuk mengembangkan Hang Nadim sebagai penggerak industri penerbangan, logistik, dan konektivitas internasional.
Capaian tersebut memperkuat posisi Batam sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik bagi investor asing. Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) berupaya mengembangkan momentum itu menjadi peluang baru di sektor penerbangan, pergudangan, teknologi, dan industri pendukung.
Berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, realisasi investasi Korea Selatan di Batam pada semester I 2026 mencapai sekitar US$ 65,1 juta atau Rp 1,17 triliun. Nilai tersebut setara 34,1 kali realisasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp 34,41 miliar, serta tumbuh 4.169,8 persen dibandingkan semester I 2025.
Baca Juga: Dari MRO hingga Kargo, BP Batam Bidik Investasi Aviasi Korea
Capaian itu menempatkan Korea Selatan sebagai investor asing terbesar ketiga di Batam. Kontribusinya mencapai 6,60 persen dari total penanaman modal asing di kota ini.
Perubahan komposisi investasi juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi Batam. Pada 2025, investasi Korea Selatan tersebar di sektor perikanan, alat transportasi, mesin dan elektronik, serta kimia dan farmasi, sedangkan pada semester I 2026 modalnya terkonsentrasi pada transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Dari total investasi Rp 1,175 triliun, sekitar Rp 1,170 triliun atau 99,6 persen masuk ke kelompok sektor tersebut, terutama melalui PT Bandara Internasional Batam. Konsentrasi ini mempertegas relevansi pengembangan infrastruktur dan konektivitas dalam upaya menarik investasi lanjutan.

Untuk memperluas peluang tersebut, BP Batam berpartisipasi dalam South Korea Aero Summit 2026 pada 21–22 Oktober 2026. Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, hadir sebagai pembicara untuk memperkenalkan potensi investasi di Bandara Internasional Hang Nadim.
Fary memaparkan peluang di sektor industri penerbangan, perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO), kargo udara, serta industri pendukung bandara. Pengembangan sektor-sektor ini diharapkan dapat memperkuat peran Hang Nadim, bukan hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem industri dan logistik Batam.
“Landasan pacu harus menjadi landasan tumbuhnya investasi dan kesejahteraan,” ujar Fary.
Menurut dia, pengembangan Hang Nadim perlu terhubung dengan kawasan industri dan rantai pasok global. Kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan kepercayaan investor menjadi fondasi untuk mendorong investasi yang berkelanjutan.
Upaya memperluas jaringan investasi juga berlanjut melalui pertemuan delegasi BP Batam dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul pada Rabu, 21 Oktober 2026. Delegasi diterima Wakil Duta Besar RI, Ali Andika Wardhana.
Pertemuan tersebut berfokus pada identifikasi perusahaan Korea Selatan yang berpotensi berekspansi ke Batam. Kedua pihak juga membahas fasilitasi pertemuan bisnis dan peluang kunjungan calon investor untuk melihat langsung potensi investasi di Batam.
Dalam penjajakan itu, BP Batam mengandalkan keunggulan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas yang memiliki empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan 31 kawasan industri. Ekosistem tersebut menjadi modal untuk menawarkan peluang investasi di berbagai sektor yang terhubung dengan pasar dan rantai pasok internasional.
Selain industri penerbangan dan logistik, BP Batam membidik investasi di sektor elektronik dan semikonduktor, komponen kendaraan listrik, rekayasa presisi, serta teknologi digital. Keragaman sektor ini membuka ruang bagi Batam untuk memperluas basis industri sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan Korea Selatan.
Rangkaian kunjungan BP Batam ke Korea Selatan berlangsung pada 20–24 Oktober 2026. Agenda tersebut juga mencakup pembelajaran mengenai pengelolaan bandar udara dan kawasan ekonomi di Incheon sebagai referensi bagi pengembangan ekosistem Hang Nadim.
Melalui rangkaian kegiatan ini, BP Batam berupaya mempertemukan peluang investasi dengan kebutuhan pengembangan kawasan. Penjajakan bisnis, penguatan konektivitas, dan pembelajaran pengelolaan bandara diharapkan menjadi pijakan untuk mendorong proyek konkret, memperkuat industri pendukung, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat Batam.
Baca Juga: Kampus Korea Buka Peluang Beasiswa bagi Siswa Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







