LINGGA (gokepri.com) – Di Desa Panggak Laut, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, sagu bukan sekadar tanaman yang tumbuh di lahan masyarakat. Komoditas ini telah menjadi bagian dari tradisi sekaligus sumber penghidupan warga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah upaya mendorong hilirisasi pangan lokal, masyarakat Panggak Laut mulai membawa komoditas tersebut ke tahap pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
Salah seorang pelaku usaha pengolahan sagu, Sopian (45), menjadi generasi penerus usaha keluarga yang telah berjalan selama puluhan tahun. Ia mengaku meneruskan usaha pengolahan sagu yang sebelumnya dijalankan oleh orang tuanya.
“Puluhan tahun lah. Saya cuma meneruskan usaha almarhum orang tua,” kata Sopian.
Di kilangnya, batang sagu yang baru ditebang tidak perlu melalui proses penjemuran. Batang langsung dibawa ke lokasi pengolahan untuk dikupas dan diproses.
Tahap awal dimulai dengan menata batang sagu sebelum dinaikkan untuk dikupas bagian luarnya. Batang kemudian dibelah menjadi beberapa bagian dan masuk ke proses pemarutan.
Serat hasil pemarutan selanjutnya dicampur dengan air untuk memisahkan pati dari serat dan ampas batang. Dalam proses tersebut, masyarakat setempat menyebut ampas atau serbuk batang sagu sebagai “serampit”.
Serampit kemudian diproses menggunakan air selama sekitar tujuh hingga delapan jam. Air sungai di sekitar lokasi juga dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan dengan cara disedot dan dialirkan ke dalam rangkaian produksi.
Kejernihan air menjadi salah satu indikator berakhirnya proses ekstraksi pati. Ketika air yang keluar dari proses pengolahan sudah hampir sama jernihnya dengan air sungai, kandungan pati sagu dinilai telah hampir seluruhnya terambil.
“Air sungai sama air keluar ini sudah hampir sama. Itu sudah jernih. Jelasnya pati sagunya sudah tidak ada lagi,” ujar Sopian.
Dalam sehari, satu kilang milik Sopian mampu menghasilkan lebih dari dua ton sagu bersih dari sagu kotor. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah, dengan Jambi menjadi salah satu tujuan distribusi rutin. Permintaan juga datang dari Tembilahan hingga Solo.

Menjadi Penopang Ekonomi Desa
Aktivitas pengolahan sagu di Panggak Laut bukan fenomena baru. Komoditas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa selama bertahun-tahun.
Kepala Desa Panggak Laut Agung Yuda mengatakan pengolahan sagu dilakukan secara turun-temurun. Saat ini terdapat sekitar 20 kilang sagu di desa tersebut.
Kapasitas produksi setiap kilang bervariasi. Satu unit kilang dapat menghasilkan sekitar 14 hingga 20 ton sagu dalam sebulan, tergantung kapasitas dan aktivitas produksinya.
Bahan baku sebagian besar berasal dari wilayah Panggak Laut. Tanaman sagu juga relatif mudah berkembang karena tumbuh secara berumpun. Setelah satu batang ditebang, tunas baru akan tumbuh dari rumpun yang sama.
Rantai usaha sagu turut memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Agung memperkirakan sekitar 40 persen hingga 50 persen penduduk desa terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan komoditas tersebut, mulai dari penebangan hingga pengolahan.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 500 jiwa dan sekitar 179 kepala keluarga, keberadaan kilang sagu menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Namun, potensi sagu Lingga tidak berhenti pada penjualan sagu bersih.
Produk tersebut mulai dikembangkan menjadi berbagai pangan olahan, seperti mi sagu, kue kering, makanan pengganti nasi, serta produk olahan yang dikembangkan oleh kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Sebagian produk dikirim ke Jambi dan Batam, sementara produk makanan olahan dipasarkan ke Tanjungpinang dan sejumlah wilayah lainnya.
Mendorong Hilirisasi Sagu
Potensi ekonomi tersebut kemudian mendorong BUMDes Karya Mandiri Desa Panggak Laut mengembangkan pengolahan sagu dari bahan baku menjadi tepung sagu kering.
Direktur BUMDes Karya Mandiri Mawardi mengatakan pengembangan tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses pasar.
Menurut dia, proses produksi saat ini dimulai dari sagu bersih yang diperoleh dari kilang masyarakat. Bahan tersebut kemudian dibawa ke fasilitas pengeringan sebelum dikemas menjadi produk tepung sagu.
Pengembangan usaha BUMDes tersebut juga mendapatkan pembinaan dan dukungan dari Bank Indonesia, termasuk bantuan peralatan produksi dan pengemasan.
Proses pengeringan masih mengandalkan sinar matahari sehingga kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang menentukan kapasitas produksi. Dalam kondisi matahari cukup terik, proses pengeringan dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu hari.
Setelah kering, tepung sagu dikemas sesuai permintaan pasar. Untuk kemasan satu kilogram, produk tersebut dijual dengan harga sekitar Rp5.000 dan telah dipasarkan ke Batam serta Tanjungpinang.
Mawardi mengatakan pengembangan produk hilir menjadi penting karena selama ini masyarakat masih menghadapi keterbatasan dalam mengolah dan memasarkan sagu secara mandiri.
Salah satu tantangan terbesar adalah persaingan dengan produk tepung sagu yang telah memiliki merek dan jaringan pemasaran lebih kuat.
“Kalau bersaing di pasaran agak sulit dari tepung yang sudah punya brand. Pemasaran atau market-nya harusnya dibantu oleh pemerintah,” ujarnya.
Selain pasar, keterbatasan modal menjadi persoalan lain yang dihadapi pelaku usaha. Tambahan permodalan dinilai dapat membuka ruang bagi pengembangan fasilitas produksi, termasuk tempat pengeringan yang lebih memadai.
“Kalau dana ada, boleh dibuat apa saja,” kata Sopian.
Dari Tradisi ke Produk Bernilai Tambah
Pengolahan sagu di Panggak Laut memperlihatkan bahwa pangan lokal memiliki potensi untuk berkembang melampaui fungsi tradisionalnya.
Sagu yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini mulai diarahkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Hilirisasi dilakukan melalui pengolahan sagu bersih menjadi tepung kering hingga pengembangan berbagai produk pangan olahan.
Kelompok UMKM juga mulai mengembangkan inovasi berbasis sagu, salah satunya Mi Kelor Sagu.
Perubahan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan dan pemasaran produk.
Meski demikian, penguatan industri sagu di Panggak Laut masih membutuhkan dukungan dari sisi permodalan, fasilitas produksi, standardisasi pengolahan, hingga akses pasar.
Bagi masyarakat Panggak Laut, sagu bukan sekadar komoditas. Tanaman tersebut telah menjadi bagian dari pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, tantangannya adalah bagaimana tradisi tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Dari batang sagu yang ditebang di kebun, diolah di kilang, dikeringkan, hingga dikemas menjadi tepung dan pangan olahan, sagu Panggak Laut menunjukkan bahwa warisan pangan leluhur masih memiliki ruang untuk tumbuh menjadi komoditas bernilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Lingga.
Penulis: Engesti









