Di Balik Keyakinan Singapura Berinvestasi di Indonesia

Airlangga Hartarto dan Gan Kim Yong membahas penguatan kerja sama ekonomi Indonesia-Singapura yang berfokus pada kawasan Batam, Bintan, dan Karimun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong saat Pertemuan Menteri Ke-16 Six Bilateral Economic Working Groups Ministerial Meeting di Jakarta. Pertemuan membahas penguatan kerja sama investasi, ekonomi digital, dan energi hijau yang berfokus pada kawasan Batam, Bintan, dan Karimun. Foto: Kemenko Perekonomian

BATAM (gokepri) – Perubahan kebijakan energi dan perdagangan Indonesia tidak dipandang sebagai ancaman bagi hubungan ekonomi dengan Singapura. Di tengah berbagai penyesuaian kebijakan di Indonesia, pemerintah Singapura justru menegaskan komitmennya mempertahankan investasi dan memperluas kerja sama pada sektor energi, perdagangan, hingga ketahanan pasokan.

Sikap itu muncul ketika Indonesia mulai menyiapkan berbagai kebijakan baru, mulai dari penataan ekspor energi, diversifikasi impor bahan bakar minyak, hingga pengembangan perdagangan listrik lintas batas.

Pandangan tersebut disampaikan Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri, Gan Siow Huang, dalam sesi fireside chat 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa, 14 Juli 2026.

Ekspor listrik ke singapura
Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri Gan Siow Huang menjawab pertanyaan peserta Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa (14/7/2026). Dalam forum itu, Gan memaparkan perkembangan negosiasi perdagangan listrik hijau Indonesia-Singapura. Foto: Ministry of Foreign Affairs (MFA) Singapura

Baca Juga: 

Gan mengatakan pemerintah Singapura tetap memandang Indonesia sebagai mitra ekonomi utama di kawasan.

“Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan kami akan terus mendorong investor Singapura melihat peluang jangka panjang di Indonesia,” kata Gan.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian Singapura ialah rencana penerapan sistem ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Gan mengatakan pemerintah Singapura masih mempelajari rincian kebijakan tersebut. Meski demikian, perubahan mekanisme ekspor dinilai sebagai bagian dari kebijakan domestik Indonesia yang harus dihormati.

Dalam dua tahun terakhir, pelemahan nilai tukar rupiah dan sejumlah komentar pelaku pasar sempat memengaruhi persepsi investor. Namun, Singapura memilih tetap berfokus pada prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Gan menyinggung pertemuan Six Working Groups (6WG) pada Juni lalu antara Deputi Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pertemuan itu membahas sejumlah peluang kerja sama baru yang dinilai saling menguntungkan.

Ia juga mengungkapkan investasi Singapura ke Indonesia pada tahun lalu meningkat hampir 25 persen, memperlihatkan kepercayaan pelaku usaha tetap terjaga.

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah kebijakan Indonesia mengurangi impor bahan bakar minyak dari Singapura.

Gan menegaskan Singapura menghormati keputusan tersebut karena perdagangan energi pada dasarnya mengikuti pertimbangan bisnis.

Apabila Indonesia memilih membeli produk kilang dari negara lain, keputusan itu akan ditentukan oleh harga, kualitas, dan efisiensi rantai pasok.

“Selama harga dan kualitasnya kompetitif, pasar akan menentukan pilihannya,” ujar Gan.

Ia menambahkan hubungan ekonomi kedua negara tidak hanya bergantung pada perdagangan produk kilang.

Sejak 2014, Singapura tercatat sebagai sumber investasi asing langsung (FDI) terbesar di Indonesia. Karena itu, perubahan pada satu sektor tidak akan mengubah arah hubungan ekonomi secara keseluruhan.

Membangun Ketahanan Energi Bersama

Gan juga mengusulkan agar Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama ketahanan energi melalui mekanisme yang memberikan kepastian pasokan pada masa krisis.

Sebagai contoh, Singapura telah menandatangani perjanjian dengan Australia dan Selandia Baru pada April tahun ini mengenai jaminan pasokan barang-barang penting.

Dalam kerja sama tersebut, Australia memasok gas alam ke Singapura, sedangkan Singapura memasok produk kilang ke Australia. Kedua negara sepakat tidak memberlakukan pembatasan ekspor ketika terjadi krisis.

Gan menilai pendekatan serupa dapat dikembangkan bersama Indonesia.

Dalam skema itu, Singapura dapat memasok produk kilang, sementara Indonesia memasok gas alam maupun listrik rendah karbon. Kepastian pasokan tersebut diyakini dapat memberikan rasa aman bagi investor dan pelaku usaha di kedua negara.

Gan juga menanggapi pertanyaan mengenai kedaulatan energi Indonesia yang kerap menjadi perhatian dalam rencana ekspor listrik ke Singapura.

Ia mengatakan Singapura memahami bahwa pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sebelum mengekspor listrik.

Karena itu, Singapura tidak akan mencampuri kebijakan domestik Indonesia dan memilih mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

“Kami akan mengikuti arahan pemerintah Indonesia mengenai bentuk kerja sama yang terbaik bagi kedua negara,” kata Gan.

Listrik Kepri

Dalam sesi diskusi itu, Gan juga menanggapi persoalan masih adanya desa di Kepulauan Riau yang belum menikmati pasokan listrik secara optimal meski telah memiliki proyek pembangkit listrik tenaga surya.

Ia menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari akar masalahnya, apakah berkaitan dengan kapasitas pembangkit, keterbatasan jaringan distribusi, atau sistem penyimpanan energi menggunakan baterai.

Gan mengingatkan pembangunan pembangkit dan pembangunan jaringan listrik merupakan dua hal yang berbeda.

Menurut dia, kapasitas listrik dapat tersedia, tetapi tanpa jaringan distribusi yang memadai, masyarakat tetap belum dapat menikmati pasokan listrik secara optimal.

Ia berharap investasi energi terbarukan di Batam dan Kepulauan Riau dapat meningkatkan kapasitas listrik sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap energi.

Di akhir diskusi, Gan juga menyinggung persoalan kebakaran hutan dan kabut asap lintas batas.

Ia menegaskan Singapura siap membantu Indonesia apabila diperlukan karena dampak asap tidak mengenal batas negara.

“Apa yang terjadi di Indonesia juga akan berdampak kepada Singapura. Karena itu, kami siap membantu jika dibutuhkan,” ujar Gan.

Kerja sama energi, investasi, dan lingkungan tersebut, kata Gan, menunjukkan hubungan Indonesia dan Singapura tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi semakin mengarah pada pembangunan ketahanan kawasan yang saling bergantung dalam jangka panjang.

Baca Juga:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait