Puluhan raksasa pusat data mengepung Batam dengan investasi fantastis. PLN mengebut kesiapan pasokan setrum.
BATAM (gokepri) – Kebutuhan operasional puluhan pusat data menuntut Batam merombak total strategi infrastruktur kelistrikannya. Penambahan daya pembangkit energi menjadi langkah mutlak guna mengamankan utilitas dasar sekaligus merespons derasnya arus modal.
Badan Pengusahaan (BP) Batam memetakan proyeksi konsumsi listrik kawasan fasilitas digital ini menembus angka 1,47 gigawatt. Kebutuhan setrum raksasa ini akan memicu titik kritis pada 2029 ketika bebannya melampaui separuh dari total daya puncak harian.
Baca Juga: BP Batam Dorong Investor Pusat Data Olah Air Laut Sendiri
PT PLN Batam memprediksi beban kelistrikan melesat dari 841 megawatt pada 2026 menjadi 2.540 megawatt jelang 2035. Merespons kondisi itu, PLN merancang peningkatan daya pasok hingga 3.691 megawatt meski belum mengungkap ketersediaan sisa kapasitas cadangannya.
BP Batam menyiasati tantangan ini lewat penerapan paradigma Utility First, Investment Follows yang bertumpu pada lima prioritas utama. Strategi pengamanan tersebut mencakup tarif kompetitif, jaminan pasokan energi, percepatan infrastruktur, ketahanan air, dan integrasi kesiapan fasilitas.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menegaskan kesiapan prasarana wajib mendahului laju masuknya penanam modal. “Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik,” ujarnya saat sosialisasi Kepmen ESDM Nomor 354.K/TL.04/MEM.L/2026, Jumat 25 September 2026.

Ia mengatakan Batam tidak cukup hanya menawarkan lahan dan insentif. Keunggulan baru Batam adalah kepastian, kecepatan, dan kepercayaan. Energi, katanya, harus siap agar investasi tumbuh dan Batam menjadi pusat ekonomi digital regional.
Transformasi Batam bermula dari kebijakan moratorium pembangunan pusat data di negara tetangga Singapura pada 2019 silam. Kedekatan jarak 20 kilometer memicu delapan perusahaan asal Tiongkok, Hong Kong, Singapura, dan Selandia Baru menanamkan investasi melampaui Rp130 triliun.
Berdasarkan catatan gokepri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park kelolaan PT Taman Resor Internet kini menjadi episentrum pengerjaan proyek. Sembilan fasilitas tengah digarap serentak di sana, disusul empat entitas antre masuk, dan lima lainnya berproses di luar kawasan.
Dua bangunan fisik perdana di lahan tersebut bahkan telah beroperasi penuh sejak Desember 2024 lalu. Arus modal pusat data di kawasan Nongsa ini ditargetkan mampu menembus angka Rp40 triliun pada 2040 mendatang.
Raksasa Shanghai GDS Holdings memelopori gelombang ini lewat pembebasan lahan 10 hektare senilai USD200 juta atau Rp3 triliun. Menko Perekonomian Airlangga Hartanto kemudian meresmikan langsung tiang pancang proyek berkapasitas 28 megawatt ini pada Oktober 2022.
GDS lantas memisahkan operasi internasionalnya ke entitas DayOne Singapura dengan mempertahankan porsi kepemilikan saham 35,6 persen. DayOne langsung mengamankan pinjaman USD412 juta untuk membangun tiga gedung berkapasitas 72 megawatt yang ditargetkan beroperasi akhir 2025.
Ekspansi DayOne melebar ke Kawasan Industri Kabil lewat kontrak pembelian listrik sebesar 511 megavolt ampere atau 450 megawatt. Perjanjian tanggal 17 April 2026 tersebut tercatat sebagai kesepakatan pasokan daya untuk pusat data terbesar di Indonesia saat ini.
Anak usaha GDS asal Hong Kong, PT GDS IDC Service, turut membenamkan dana Rp4 triliun secara terpisah di kawasan Nongsa. Mereka mendirikan fasilitas klasifikasi Tier 3 berkapasitas 40 megawatt dua tahap di atas lahan seluas 28.730 meter persegi.
Princeton Digital Group asal Singapura meramaikan persaingan pada Februari 2023 dengan kucuran modal awal menyentuh angka USD1 miliar. Mereka membangun kampus enam hektare berisi empat gedung berkapasitas total 96 megawatt yang tercatat siap untuk kecerdasan buatan per Januari 2026.
Grup BW Digital asal Selandia Baru tidak ketinggalan mengakuisisi lahan seluas lebih dari 55.000 meter persegi pada 2024. Kampus berkapasitas 120 megawatt mereka akan beroperasi awal 2026 untuk menyokong beban kerja perusahaan berbasis komputasi awan.
Kongsi Gaw Capital Partners Hong Kong dan pengembang lokal Sinar Primera meluncurkan Golden Digital Gateway pada Februari 2025. Fasilitas ini menawarkan kapasitas 5,2 megawatt hingga 20 megawatt dengan keunggulan latensi ke Singapura di bawah dua milidetik.
Kemitraan baru Gaw Capital dan veteran industri Wong Ka Vin via entitas Data Center First turut melebarkan sayap ke Nongsa. Perusahaan ini merancang pembangunan infrastruktur berkapasitas 30 megawatt khusus untuk fase pertama operasionalnya.
PT Equator Gate System Batam asal Tiongkok mencatat kucuran dana tunggal terbesar yang menembus nilai USD5 miliar atau Rp88 triliun. Mereka menguasai lahan 30 hektare di Teluk Mata Ikan dengan kontrak daya listrik yang baru disepakati pada 25 Mei 2026.
Sembilan proyek di kawasan Nongsa diproyeksikan bakal menyedot daya listrik fantastis dengan total mencapai 550 megavolt ampere. Pembangunan masif ini membentur krisis lahan pada pertengahan 2024 yang hanya menyisakan lima hektare dari total 30 hektare areal tambahan. KEK Nongsa kemudian mengajukan perluasan lahan yang mendapat lampu hijau dari pemerintah.
Grup Telkom menantang dominasi asing melalui merek NeutraDC hasil patungan bersama Singtel Nxera dan Medco Power. Fasilitas di episentrum kedua kawasan Kabil ini menyedot nilai investasi hingga Rp1,4 triliun atau setara USD84 juta.
Konstruksi di atas lahan delapan hektare ini berjalan berkesinambungan dalam tiga tahapan sejak awal Juni 2024. Fasilitas bersertifikat Tier III tersebut menargetkan operasional 18 megawatt pada kuartal ketiga 2025 sebelum diperluas hingga melampaui 60 megawatt.
Medco Power memastikan proyek kelolaan porsi saham mayoritas Telkom ini turut mendapat pasokan energi terbarukan yang ramah lingkungan. NeutraDC juga telah meneken kontrak listrik 90 megavolt ampere yang akan dialirkan bertahap antara tahun 2025 hingga 2028.
Telkom menargetkan kapasitas 54 megawatt di Batam sebagai pelengkap rencana ekspansi fasilitas 121,5 megawatt di Cikarang. Hambatan krisis lahan dan utilitas ini rupanya sama sekali tidak menyurutkan minat para pemain teknologi global lainnya.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso pada Juli 2024 menyebut enam pemodal dari Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat masih mengantre masuk. Derasnya arus modal ini semakin menguatkan ambisi model integrasi infrastruktur digital lintas batas wilayah Singapura–Johor–Batam (SIJORI).
CEO DayOne Jamie Khoo memandang geliat masuknya fasilitas teknologi raksasa ini sebagai sinyal kuat konektivitas kawasan perbatasan. “Ekspansi ini merupakan tonggak penting strategi kami membangun platform infrastruktur digital terkemuka,” ucapnya menanggapi kerja sama kelistrikan Batam.
Selain investor-investor pusat data tersebut, investor memasuki 2026 masuk ke Batam, salah satunya perusahaan asal Australia, Firmus. Mereka menggandeng perusahaan pembuat cip, Nvidia.
Dari Diskusi Fesmed Selat Malaka
Di sisi lain, keandalan pasokan air memicu kekhawatiran karena pulau ini cuma mengandalkan delapan waduk tadah hujan. Persoalan ini menjadi sorotan dalam diskusi di Politeknik Negeri Batam saat gelaran Festival Media Selat Malaka (FESMED) 2026 bertema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”, pekan lalu.
Peneliti AI Henke Yunkins mengingatkan mesin pendingin server menyedot energi luar biasa di daerah beriklim tropis. Akademisi Institut Teknologi Batam Alvendo Wahyu Aranski mendesak pemerintah meneliti daya dukung lingkungan sebelum mempermudah izin masuk modal asing.
“Kita menciptakan proyek bukan semata-mata untuk investasi, tetapi harus ada kajian terlebih dahulu apakah sumber daya alam kita mencukupi atau tidak,” kata Alvendo.
Peserta diskusi Asnil Bambani lantas membeberkan fakta minimnya penyerapan tenaga kerja, di mana raksasa pusat data beraset Rp500 triliun dan berpendapatan Rp1,8 triliun per tahun ternyata hanya mempekerjakan 180 orang.
Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam Dendi Gustinandar membenarkan karakteristik industri teknologi tinggi yang tidak berbasis padat karya. Sifat alami fasilitas penyiapan data memang mengutamakan kecanggihan perangkat ketimbang jumlah personel operasional.
Kebutuhan pasokan listrik yang tak boleh terputus memicu kekhawatiran baru terkait dampak lingkungan jangka panjang. Zakki Amali dari Trend Asia memeringatkan potensi kemunculan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru demi menopang fasilitas tersebut.
Jurnalis Antonia Timmerman mengajak para insan pers cermat membongkar jejak ekologis di balik kemewahan inovasi kecerdasan buatan. “Jurnalis perlu mempelajari terlebih dahulu teknologinya sebelum liputan dan terus mengajukan pertanyaan kritis ketika meliput data center,” ujar Antonia.
Baca Juga: Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







