BATAM (gokepri) – Pengelolaan sampah mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi Indonesia dan Singapura. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih, limbah rumah tangga maupun limbah pertanian dipandang tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga sumber energi baru yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Peluang itu dinilai semakin penting karena kedua negara menghadapi tantangan yang berbeda. Indonesia menghasilkan limbah dalam jumlah besar, sedangkan Singapura memiliki keterbatasan lahan untuk menampung sampah.
Pandangan tersebut disampaikan Minister of State Singapura untuk Kementerian Perdagangan dan Industri serta Kementerian Luar Negeri, Gan Siow Huang, dalam sesi fireside chat 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, Selasa, 14 Juli 2026.
Baca Juga:
- Apa Saja Proyek Strategis Korporasi Singapura di Indonesia?
- Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan
Gan mengatakan pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) dapat menjawab dua persoalan sekaligus, yakni mengurangi timbunan limbah dan memperkuat pasokan energi.
“Kalau sampah bisa diubah menjadi energi, kita menyelesaikan dua persoalan dalam waktu yang sama,” kata Gan.
Kerja sama kedua negara tidak lagi berhenti pada pembahasan konsep. Gan mengungkapkan perusahaan teknologi asal Singapura, CRecTech, tengah bekerja sama dengan Pertamina New & Renewable Energy mengembangkan proyek pengolahan biogas menjadi bio-metanol di Indonesia.
Bahan bakunya berasal dari limbah pabrik kelapa sawit. Bio-metanol yang dihasilkan diproyeksikan menjadi bahan bakar rendah karbon untuk sektor pelayaran.
Proyek tersebut menunjukkan limbah pertanian dapat menjadi bagian dari rantai pasok energi bersih sekaligus membuka peluang investasi baru.
Gan mengatakan ruang kerja sama tidak hanya berada pada tahap produksi. Penelitian bersama juga diperlukan agar teknologi pengolahan limbah menjadi semakin efisien dan layak secara ekonomi.
Lembaga riset Singapura, A*STAR, disebut telah membangun berbagai kolaborasi dengan peneliti dan industri, termasuk membuka peluang kerja sama dengan Indonesia.
Meski teknologinya tersedia, biaya pengolahan sampah menjadi energi masih menjadi tantangan utama.
Gan menilai proyek-proyek WtE memerlukan investasi besar sehingga belum sepenuhnya kompetitif dibanding sumber energi lain.
Namun, pemerintah memilih memulai lebih awal agar pelaku usaha memahami model bisnisnya dan investor memiliki waktu membangun ekosistem industri tersebut.
“Persoalannya sekarang adalah kelayakan ekonominya. Biayanya masih cukup tinggi,” ujar Gan.
Ia menambahkan kawasan Asia Tenggara memiliki peluang besar mengembangkan industri ini karena sebagian besar negara menghasilkan limbah pertanian dalam jumlah besar.
Menurut Gan, limbah tersebut tidak mungkin menjadi solusi tunggal terhadap kebutuhan energi kawasan. Namun, pengembangannya dapat memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang.
Sampah Tak Hanya Menjadi Energi
Bagi Singapura, pengolahan limbah tidak hanya diarahkan menjadi energi.
Gan mengatakan pemerintah juga mengembangkan teknologi yang mengubah sampah menjadi material konstruksi dan berbagai produk lain yang dapat digunakan kembali.
Pendekatan tersebut dipilih untuk mengurangi volume sampah yang terus bertambah.
Persoalan itu juga dihadapi Singapura. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah terbatas, kapasitas lokasi pembuangan akhir semakin menyusut sehingga pemerintah harus mencari berbagai cara mengurangi timbunan limbah.
“Sampah harus dikurangi, bukan hanya diubah menjadi energi, tetapi juga menjadi produk yang bermanfaat,” kata Gan.
Di luar pengelolaan sampah, Singapura juga mempercepat transisi menuju kendaraan listrik.
Gan mengatakan seluruh kendaraan baru yang didaftarkan kini diarahkan memenuhi standar efisiensi energi sehingga penjualan kendaraan listrik dan hibrida terus meningkat.
Pemerintah tidak hanya memberikan insentif pembelian kendaraan, tetapi juga memperluas pembangunan stasiun pengisian daya di kawasan permukiman dan gedung komersial.
Pembangunan infrastruktur itu membutuhkan gardu listrik baru dan perluasan jaringan kabel bawah tanah sehingga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Menurut Gan, biaya kepemilikan kendaraan listrik terus menurun sehingga semakin kompetitif dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.
Pemerintah bahkan sempat berencana mengurangi insentif pembelian kendaraan listrik mulai Januari tahun depan. Namun, kenaikan harga bahan bakar akibat gejolak global membuat kendaraan listrik kembali menjadi pilihan yang semakin menarik bagi masyarakat.
Gan menilai dalam jangka panjang keputusan masyarakat akan ditentukan oleh biaya penggunaan kendaraan. Ketika harga bahan bakar meningkat dan harga kendaraan listrik terus turun, transisi menuju kendaraan listrik diperkirakan akan berlangsung lebih cepat.
Baca Juga: Kepercayaan Jadi Kunci Perdagangan Karbon RI-Singapura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









