AS-Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Akan Dibuka

damai AS Iran 2026 · Selat Hormuz dibuka · harga minyak turun · IHSG hari ini · rupiah menguat · kurs dolar hari ini · saham hari ini · harga BBM turun · dampak damai AS Iran Indonesia
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: REUTERS

DUBAI (gokepri) — Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026. Kesepakatan itu mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pengakhiran blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Namun, isu program nuklir Iran belum masuk dalam penyelesaian final dan akan dibahas pada tahap berikutnya.

Pengumuman tersebut disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (14/6/2026) waktu Washington. Hampir bersamaan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyatakan kedua negara telah menyepakati kerangka perdamaian.

Nota kesepahaman dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026).

Baca Juga: Negosiasi Gagal, Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak

Kesepakatan ini segera memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent turun sekitar empat persen pada perdagangan awal Senin (15/6/2026), sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dari 4,6 persen. Bursa saham di Asia juga menguat karena pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan energi mulai berkurang.

Trump menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat dan lalu lintas pelayaran internasional dapat berlangsung tanpa hambatan.

“Ships of the World, start your engines. Let the oil flow!” ujar Trump melalui akun Truth Social.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Jalur ini menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Timur Tengah. Penutupan efektif yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah memicu lonjakan harga energi dunia.

Lebanon Jadi Bagian Kesepakatan

Menurut Sharif, kesepakatan mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon. Wilayah tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan karena serangan antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung meski berbagai upaya diplomatik dilakukan.

Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan seluruh operasi militer, termasuk di Lebanon, akan dihentikan secara permanen mulai Senin malam waktu setempat.

Hingga berita ini ditulis, pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman tersebut. Sebelumnya, Israel menegaskan tidak menjadi pihak dalam perundingan langsung antara Washington dan Teheran.

Kesepakatan ini juga muncul di tengah hubungan yang tidak selalu sejalan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyebut Netanyahu sebagai sosok yang sulit diajak bekerja sama terkait upaya penghentian konflik.

Program Nuklir Belum Tuntas

Meski perang berpotensi berakhir, isu utama yang selama ini menjadi sumber ketegangan belum terselesaikan. Program nuklir Iran akan menjadi pokok pembahasan dalam perundingan lanjutan selama masa gencatan senjata 60 hari.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan negosiasi berikutnya juga akan membahas pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Sejumlah sumber sebelumnya menyebut nasib cadangan uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata menjadi salah satu isu paling sensitif dalam perundingan mendatang.

Pada masa pemerintahan pertama Trump, Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dimediasi sejumlah negara besar dunia. Sebagai respons, Iran meningkatkan kapasitas pengayaan uranium dan kini memiliki lebih dari 400 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian mendekati standar senjata nuklir.

Mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada era Presiden Joe Biden, Matthew Miller, menilai kesepakatan saat ini belum menjawab persoalan mendasar mengenai program nuklir Iran.

“Kita belum memiliki jaminan bahwa program nuklir Iran akan benar-benar diselesaikan,” ujar Miller.

Tekanan Politik dan Ekonomi

Perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik itu juga memicu gangguan perdagangan energi global setelah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz dan Amerika Serikat membalas dengan memblokade pelabuhan Iran.

Di dalam negeri, konflik tersebut menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada November mendatang. Survei opini publik menunjukkan kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu sumber ketidakpuasan pemilih.

Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan dari kelompok Partai Republik yang menghendaki penghentian total program nuklir Iran sebagai syarat utama perdamaian.

Senator Republik Lindsey Graham menyambut kesepakatan tersebut, tetapi menegaskan Kongres akan mengawasi ketat negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Sementara itu, Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia menyatakan siap mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran apabila Teheran mengambil langkah yang dapat diverifikasi untuk membatasi program nuklirnya.

Kesepakatan awal ini membuka peluang meredanya salah satu konflik paling berisiko bagi stabilitas energi dunia. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran, isu yang selama dua dekade terakhir menjadi sumber utama ketegangan antara Teheran dan Barat. REUTERS

Baca Juga: Tanker Tertahan di Teluk Persia, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait