MAKASSAR (gokepri) – Selama lebih dari dua dekade, kemunculan Hiu Gangga di alam tercatat kurang dari sepuluh kali dari Pakistan hingga Myanmar. Namun di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, tim peneliti justru menemukan 43 spesimen dalam pengamatan lapangan kurang dari tiga pekan pada 2023.
Temuan di sungai Kalimantan itu membuka kemungkinan baru yakni Indonesia menyimpan salah satu habitat tersisa terpenting bagi spesies hiu air tawar yang selama ini masuk daftar satwa paling langka di dunia.
Penelitian tersebut lahir dari kolaborasi Universitas Hasanuddin, James Cook University, dan Universitas Borneo Tarakan. Tim menemukan kembali populasi Hiu Gangga atau Glyphis gangeticus, spesies yang lama nyaris hilang dari catatan pengamatan global.
Baca Juga: Sinergi Uniba-Serindit Merawat Ekosistem Teluk Lengung dengan Konservasi dan Edukasi
Status Hiu Gangga memang berada di titik kritis. International Union for Conservation of Nature menempatkan spesies ini dalam kategori Critically Endangered atau terancam punah kritis. Kategori itu diberikan kepada satwa yang menghadapi risiko kepunahan sangat tinggi di alam liar.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat,” ujar perwakilan Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Rohani Ambo Rappe dalam keterangan di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, 25 Mei 2026.
Kerja sama Universitas Hasanuddin dan James Cook University dimulai sejak 2022. Agenda riset tidak hanya berfokus pada pencarian populasi hiu sungai, tetapi juga penyusunan skema perlindungan yang melibatkan masyarakat di sekitar habitat.
“Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” kata Prof. Rohani Ambo Rappe.
Temuan di Sungai Sesayap memberi arti penting karena Hiu Gangga bukan penghuni laut lepas seperti kebanyakan hiu. Spesies ini hidup di sistem sungai dan kawasan muara yang rentan berubah akibat aktivitas manusia, sedimentasi, hingga tekanan pembangunan.
Keberadaan 43 spesimen dalam satu lokasi juga menggeser asumsi lama bahwa populasi Hiu Gangga hampir hilang sepenuhnya. Sungai Sesayap kini dipandang sebagai salah satu habitat tersisa dengan nilai konservasi tinggi.
Peneliti dari James Cook University Michael Grant mengatakan pengakuan internasional mulai mengarah ke kawasan tersebut.
“Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area atau ISRA pada tahun 2024,” ujar peneliti James Cook University Michael Grant.
Penetapan itu menempatkan Sungai Sesayap sebagai kawasan penting bagi hiu dan pari. Wilayah tersebut juga diidentifikasi sebagai nursery ground atau daerah asuhan bagi hiu sungai langka.
Bagi peneliti, arti temuan ini melampaui pencapaian akademik. Data lapangan dari Kalimantan Utara membuka peluang baru untuk memperkuat kebijakan perlindungan spesies sekaligus menjaga ekosistem sungai yang selama ini luput dari perhatian konservasi.
Tim riset kini mendorong pembentukan konsorsium hiu dan pari di Kalimantan untuk memperluas pemetaan populasi serta memperkuat dasar ilmiah bagi perlindungan habitat Hiu Gangga di masa mendatang. ANTARA
Baca Juga: Dosen UMRAH Kembangkan Biskuit Ikan Hiu, Solusi Gizi untuk Anak Usia Dini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









