Makna Tertipunya Manusia

ilustrasi (internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Tertipu apa pun rasanya kurang enak dan menimbulkan amarah. Namun, bagi seorang yang beriman, kejadian itu sudah kehendak Allah sehingga ia bersikap lebih tenang.

Ada beberapa hal yang melandasi seorang beriman dalam kondisi ini. Pertama, hak tidak akan hilang. Jika kita bersikap merelakan harta itu untuk penipu, maka Allah SWT akan mengganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak. Jika tidak merelakannya, maka bisa menuntutnya di akhirat sesuai kadarnya. Maka hak tetap terjaga dengan baik.

Ayat ketiga dari surah at-Talaq menjelaskan tentang rezeki yang tidak akan tertukar. “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”

HBRL

Kedua, doa yang mustajab. Seseorang yang tertipu sama posisinya dengan seseorang yang dizalimi. Doa orang dizalimi itu mustajab karena tidak adanya hijab antara doanya dengan Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Waspadailah doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dan Allah.” (HR Bukhari).

Dilanjutkan dengan hadis yang diriwayatkan Muslim yang artinya, “Orang yang bangkrut di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, dia juga telah mencela orang ini, memakan harta orang itu, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang itu.

Lantas, orang yang dizalimi ini diberikanlah kebaikan-kebaikannya untuk orang yang dizalimi yang ini, diberikan pula kepada korban kezaliman yang lain. Hingga apabila kebaikannya telah habis, sedangkan kezalimannya belum semua terbayar, maka sebagian dosa-dosa orang-orang yang dizalimi akan dipikulkan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka.”

Ketiga, menerima terjadinya penipuan itu sebagai takdir-Nya. Akan mendapatkan pahala, penghapus dosa dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT bila kita bisa menghadapi dengan sabar dan rela atas takdir-Nya.

Sebenarnya ketika sedang ditipu, kita diberi peluang mendapatkan ganti yang jauh lebih baik. Ingatlah bahwa itu takdir yang memang dikehendaki Allah SWT terjadi. Bersikap marah atau rela, tetap saja harus terjadi, dan tidak mungkin bisa dihindari.

Adapun hakikat tertipunya seorang hamba sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah Luqman ayat 33.

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ وَاخۡشَوۡا يَوۡمًا لَّا يَجۡزِىۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِهٖ وَلَا مَوۡلُوۡدٌ هُوَ جَازٍ عَنۡ وَّالِدِهٖ شَيۡـــًٔا‌ ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰهِ حَقٌّ‌ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمۡ بِاللّٰهِ الۡغَرُوۡرُ‏

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.”

Adapun tafsir dari Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syekh Prof Dr Imad Zuhair Hafidz, profesor fakultas al-Qur’an University Islam Madinah: “Allah SWT memerintahkan manusia untuk menaati-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan takut dari hari kiamat yang menjadi waktu perhitungan amal, saat seorang ayah tidak bermanfaat bagi anaknya dan seorang anak tidak bermanfaat bagi ayahnya. Dan Allah SWT memperingatkan mereka dari tipuan dunia dan kenikmatannya, dan dari tipuan setan dari golongan jin dan manusia dan makar mereka untuk menjauhkan dari keimanan kepada-Nya.”

Tertipu berikutnya adalah sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Hadid ayat 14.

يُنَادُوۡنَهُمۡ اَلَمۡ نَكُنۡ مَّعَكُمۡ‌ؕ قَالُوۡا بَلٰى وَلٰـكِنَّكُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَكُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَارۡتَبۡتُمۡ وَغَرَّتۡكُمُ الۡاَمَانِىُّ حَتّٰى جَآءَ اَمۡرُ اللّٰهِ وَ غَرَّكُمۡ بِاللّٰهِ الۡغَرُوۡرُ

“Orang-orang munafik memanggil orang-orang Mukmin, ‘Bukankah kami dahulu bersama kamu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah.'” *

(sumber: republika.co.id)

 

Pos terkait