Indonesia Bangun Pabrik Metanol, Tak Lagi Impor Solar pada 2026

pabrik metanol indonesia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (foto: Antara)

JAKARTA (gokepri) – Indonesia akan membangun pabrik metanol senilai USD1,2 miliar untuk mengurangi ketergantungan pada impor metanol. Pabrik ini juga mendukung rencana pemerintah untuk mengimplementasikan biodiesel B50 pada 2026, yang diharapkan mengakhiri impor solar.

“Pembangunan pabrik ini diperkirakan akan memakan biaya sekitar USD1 hingga USD1,2 miliar dolar AS,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Parlemen DPR/MPR, Jakarta, Senin 2 Desember 2024.

Pabrik metanol ini direncanakan mulai dibangun pada 2025 di Bojonegoro, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 800 ribu ton metanol per tahun. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor metanol.

HBRL

Bahlil menjelaskan pembangunan pabrik tersebut bertujuan untuk menghemat devisa dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia yang saat ini masih defisit.

Baca: Pemerintah Kaji Moratorium Ekspor Gas

“Pembangunan pabrik ini untuk memenuhi kebutuhan domestik. Saat ini kita mengimpor 80 persen metanol. Jika kita mengembangkan biodiesel seperti B40 atau B50, volume impor pasti akan bertambah,” katanya.

Pabrik metanol ini juga akan mendukung rencana pemerintah untuk mengembangkan biodiesel B50, yang diharapkan akan membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar.

Bahlil menambahkan dengan penerapan biofuel B50 pada 2026, Indonesia akan bebas dari impor solar.

Baca: Go Global, PGN Paparkan 7 Potensi Kolaborasi Energi Ramah Lingkungan di Dubai Expo

“Jika B50 diterapkan pada 2026, Insya Allah kita tidak perlu lagi mengimpor solar. Produksi dalam negeri sudah cukup dengan konversi B50,” ujarnya.

Implementasi B50 akan dilakukan bertahap. Pada 2025, pemerintah akan mewajibkan penggunaan biofuel jenis B40. ANTARA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait