WNI Diselundupkan ke Malaysia, Minta Pertolongan Lewat Instagram Presiden

Diselundupkan ke Malaysia
Tulisan tangan seorang warga negara Indonesia yang mengaku diselundupkan ke Malaysia, saat diwawancara di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (24/2/2023). (ANTARA/Virna P Setyorini)

BATAM (gokepri) – Seorang WNI yang diselundupkan ke Malaysia meminta pertolongan langsung dari Presiden Joko Widodo melalui akun Instagramnya. KBRI Kuala Lumpur akan memfasilitasi kepulangannya ke Jakarta pada Sabtu 25 Februari 2023.

Astuti (bukan nama asli) asal Jakarta, mengikuti akun Instagram presiden dan meminta bantuan dalam setiap statusnya. “Iya saya ikutin IG (Instagram) nya (Presiden). Terus saya komentar. Setiap status dia saya komen lagi, saya komen lagi,” kata Astuti, saat ditemui di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Jumat 24 Februari 2023, dilansir dari Kantor Berita Antara.

“Pak tolongin saya, saya pingin dipulangin, tapi agen saya tuh nipu saya. Dia dari awal enggak ngomong, kalau saya minta pulang kena denda Rp25 juta …,” kata Astuti ketika menceritakan pesan yang ia tulis kepada Jokowi. “Pak tolongin Pak, saya memang mau masuknya resmi, tapi setelah diselidiki (ternyata) ilegal,” kata Astuti lagi.

HBRL

“Banyak yang komen (pada komentarnya di IG Presiden Jokowi). Orang Indonesia banyak yang respons. ’Pak tolongin lah Pak itu TKI Indonesia’, gitu,” ujar Astuti, ketika mengutip tanggapan dari para pengguna Instagram.

Astuti mengaku telah bekerja pada dua majikan berbeda selama kurang dari satu bulan di Malaysia. Ia merasa tertipu setelah melihat iklan lowongan pekerjaan untuk asisten rumah tangga (ART) di luar negeri di Facebook dari akun seseorang bernama Nurul. Ia dan Nurul kemudian bertemu di Surabaya. Nurul membawanya untuk bertemu dengan seorang agen bernama Bu Asun di Kota Kediri, Jawa Timur.

Astuti mengatakan jalur keberangkatannya ke Malaysia dimulai dari Jakarta menuju Surabaya dengan mobil penumpang. Setelah itu, ia dibawa ke Kediri sebelum diterbangkan ke Batam melalui Surabaya dan diselundupkan ke Malaysia melalui Johor Bahru hanya dengan membawa paspor, tanpa memiliki visa kerja. Ia juga mengaku dijanjikan gaji 1.200 ringgit Malaysia (RM) atau setara dengan Rp4.119.243 per bulan, namun gaji yang akan diperolehnya dipotong untuk tiga bulan pertama masa kerja.

Astuti mengatakan bahwa ia tidak akan berangkat ke Malaysia untuk menjadi ART apabila sejak awal diinformasikan bahwa dirinya akan didenda Rp25 juta jika meminta pulang. Ia meminta pertolongan Jokowi karena merasa terjebak dengan kondisi tersebut dan tidak bisa pulang.

Astuti juga mengatakan tugasnya terlalu berat karena harus dikerjakan seorang diri, mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, memasak, hingga menjaga anak. Pekerjaan sebagai ART di Malaysia ternyata berbeda jauh dengan di Indonesia.

Setelah beberapa hari meminta bantuan melalui akun Instagram Presiden, Astuti mendapat panggilan video dari Istana Presiden. Selama percakapan melalui video, ia diminta memberikan alamat tempatnya berada saat itu, nama majikan, serta keterangan menyangkut paspor dan kartu keluarga. Astuti juga menyebutkan bahwa ada petugas dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2MI) yang akan menghubungi dirinya. BP2MI kemudian menghubungi Astuti melalui video call melalui Instagram keesokan harinya. Tidak lama kemudian, KBRI Kuala Lumpur juga menghubungi Astuti. Pada Kamis (23/2), majikannya mengantarkan Astuti ke KBRI Kuala Lumpur dan menyerahkan paspornya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca Juga: Mengapa Pekerja Migran Kita Memilih Jalur Gelap Bertaruh Nyawa

Sumber: Antara

Pos terkait