Mengapa Pekerja Migran Kita Memilih Jalur Gelap Bertaruh Nyawa

Pekerja Migran Jalur Gelap
Kepala UPT BP2MI Wilayah Kepri Mangiring H Sinaga dan Kasubditgakkum Ditpolair Polda Kepri Nulhakim menunjukkan tersangka kasus penyelundupan PMI di Polairud Polda Kepri, Batam, Kamis 20 Januari 2022. (foto: gokepri/Engesti)

Kepulauan Riau menjadi surga para penyelundup tenaga kerja ilegal ke Malaysia. Pekerjaan rumah yang tak pernah tuntas.

Berada di jalur laut perbatasan Indonesia dan Malaysia-Singapura, Provinsi Kepri menjadi titik singgah imigran gelap untuk mencari sesuap nasi di negara tetangga.

Segala cara ditempuh agar mereka bisa menyebrang ke tanah harapan naik perahu meski nyawa sebagai taruhan. Penyelundupan manusia ini pun tumbuh merajalela karena dianggap lebih menjanjikan kerja di negeri orang.

Maraknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal ini menjadi atensi bagi pemerintah. Kasusnya tak pernah tuntas. PMI ilegal justru masih marak dan terorganisir.

Perairan Kepri justru menjadi sirkuit khusus untuk memberangkatkan para PMI ilegal. Padahal sampai saat ini secara prosedur Malaysia belum membuka penempatan PMI.

Kepala UPT BP2MI Wilayah Kepri, Mangiring H Sinaga mengungkap mengapa para Pekerja Migran Indonesia (PMI) lebih memilih jalur ilegal atau tidak resmi ketimbang yang legal atau resmi.

“Banyak faktor. Saudara kita ini ada yang ditipu agen, ada yang kemauan sendiri, ada yang di-blacklist oleh imigrasi Malaysia sehingga mereka akhirnya mereka masuk lewat jalur belakang,” kata Mangiring, Kamis 20 Januari 2022.

Faktor lainnya, yakni minimnya pengetahuan dari calon PMI yang ingin bekerja di Negeri Jiran tersebut. Masyarakat Indonesia mudah terbujuk rayu oleh rekruter atau calo yang menjanjikan pendapatan tinggi sehingga banyak calon PMI yang tidak berpikir jernih akan dampak dan risikonya.

“Kurang informasi dan lebih percaya iming-iming dari rekruter atau calo. Masyarakat kita tidak percaya lagi informasi dari pemerintah, mereka lebih percaya calo. Hari ini bayar, besok berangkat dan diiming-imingi dibuatkan paspor tapi sampai (ke tujuan) tidak,” katanya.

Untuk itu, kata Mangiring, pihaknya akan melakukan edukasi agar para PMI tak terjerumus ke lubang alibi calo perekrut PMI. “Makanya nanti kami akan edukasi bagaimana menjadi PMI yang benar dengan jalur resmi,” katanya.

Modus Calo

Terbaru, jajaran Direktorat Polairud Polda Kepri, berhasil mengagalkan keberangkatan 22 Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara ilegal, yang akan dikirim ke Malaysia.

Tidak hanya itu, petugas juga berhasil mengamankan dua pelaku berinisial R dan I, di dua lokasi berbeda di Kabupaten Karimun, Minggu 16 Januari 2022.

Demi merayu para korban, komplotan pelaku ini menggunakan dua modus berbeda. Salah satunya adalah menjanjikan upah sebesar Rp3 juta hingga Rp6,5 juta.

“Selain itu modus lain adalah keberangkatan yang lebih cepat dibandingkan berangkat melalui jalur resmi. Dengan membayar uang muka sebesar Rp3 juta,” terang Kasubditgakkum Ditpolair Polda Kepri AKBP Nanang Indra Bakti, Kamis 20 Januari 2022.

Modus dengan gaji yang fantastis ini, diakui oleh Firman (26) salah satu calon PMI asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang kini akan dipulangkan ke daerah asal.

Walau demikian, sebagai syarat utama dari pihak penyalur, Firman harus rela untuk tidak mendapatkan upah selama dua bulan, setelah bekerja di salah satu perkebunan sawit yang ada di Malaysia.

“Syaratnya cuma dua bulan gaji aja bang. Selebihnya mengenai makan dan akomodasi saya hingga sampai di Malaysia, ditanggung oleh penyalur,” tuturnya lirih.

Firman sendiri mengetahui bahwa keberangkatannya menuju Malaysia, akan melalui jalur ilegal. Walau demikian, Firman mengaku tidak keberatan saat menerima tawaran dari salah satu agen pencari kerja, yang ditemuinya di kampung halamannya.

“Di sana saya juga enggak ada kerja yang jelas bang. Saya tahu kalau itu jalur ilegal, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, untuk dapat tiba di Batam, Firman juga mengaku bahwa dibiayai oleh agen perekrut yang berasal dari kampung halamannya. Dengan bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan Malaysia, Firman berharap dapat memenuhi kebutuhan keluarganya saat ini.

Namun kini, mimpi tersebut harus dikuburnya setelah jaringan penyalur ilegal ini, berhasil diamankan oleh pihak Kepolisian.

“Nanti cari kerja di kampung lagi-lah bang. Mau bagaimana lagi, ini kita mau dipulangkan,” jelasnya.

Jalur Baru Pulau Penyangga

Polda Kepulauan Riau mengungkap rencana pengiriman pekerja migran Indonesia ke Malaysia secara ilegal melalui pulau-pulau penyangga di Kabupaten Karimun.

“Ini jalur baru setelah Batam, Tanjunguban (Bintan), dia mengalih ke tempat yang tidak terdeteksi,” kata Kasubditgakkum Ditpolairud Polda Kepri AKBP Nanang Indra Bakti di Batam, Kamis.

Pos terkait