Pergerakan pemudik Lebaran di Kepulauan Riau diperkirakan mencapai 900.000 orang. Ratusan kapal cepat disiapkan untuk menghubungkan pulau-pulau yang tersebar di wilayah maritim ini.
TANJUNGPINANG (gokepri) — Arus mudik Lebaran di Provinsi Kepulauan Riau tahun ini diperkirakan meningkat. Dinas Perhubungan Kepulauan Riau memprediksi pergerakan pemudik Idul Fitri 1447 Hijriah mencapai sekitar 900.000 orang, naik sekitar 5 persen dibandingkan Lebaran 2025 yang tercatat 857.000 orang.
Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Riau Junaidi mengatakan, kenaikan tersebut berbeda dengan tren nasional yang justru diperkirakan menurun. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pergerakan pemudik secara nasional diperkirakan turun sekitar 1,75 persen dari 154 juta orang pada 2025 menjadi sekitar 143 juta orang pada 2026.
Baca Juga: Bupati dan Kapolres Anambas Tinjau Arus Mudik di Pelabuhan Tarempa
“Secara nasional turun, tetapi di Kepulauan Riau diprediksi meningkat. Salah satu penyebabnya faktor ekonomi dan keinginan masyarakat untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman,” kata Junaidi di Tanjungpinang, Sabtu 14 Maret 2026.
Di wilayah kepulauan seperti Kepulauan Riau, perjalanan mudik hampir selalu identik dengan laut. Pelabuhan-pelabuhan penumpang menjadi simpul pergerakan warga yang hendak kembali ke kampung halaman di pulau-pulau sekitar maupun ke provinsi lain.
Menurut Junaidi, sebagian besar pemudik di Kepulauan Riau menggunakan transportasi laut, baik untuk rute antarpulau maupun lintas provinsi. Sementara itu, sebagian masyarakat lainnya memanfaatkan transportasi udara dan darat untuk melanjutkan perjalanan menuju daerah tujuan.
Pemerintah daerah memperkirakan puncak arus mudik Lebaran di Kepulauan Riau terjadi pada 18 hingga 19 Maret 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama instansi terkait telah melakukan pemantauan serta pengendalian angkutan mudik sejak 13 hingga 30 Maret 2026.
Junaidi mengatakan seluruh moda transportasi yang digunakan selama periode mudik telah melalui pemeriksaan kelaikan operasi atau ramp check. Pemeriksaan dilakukan terhadap angkutan darat, laut, maupun udara untuk memastikan keselamatan perjalanan masyarakat.
“Kami juga memprioritaskan pengangkutan kebutuhan pokok, alat kesehatan, bantuan bencana alam, serta ambulans yang membawa pasien melalui transportasi laut,” ujar Junaidi.
Dari sisi armada, pemerintah menyiapkan berbagai sarana transportasi untuk mendukung mobilitas pemudik. Untuk transportasi darat tersedia sekitar 70 bus yang melayani rute Tanjungpinang, Bintan, Lingga, dan Natuna.
Selain itu terdapat enam kapal Pelni yang melayani rute antarpulau di Kepulauan Riau hingga lintas provinsi.
Transportasi laut lainnya terdiri atas 335 kapal cepat yang tersebar di sejumlah pelabuhan penumpang. Di Batam tersedia 145 kapal cepat, di Tanjungpinang 40 kapal, di Karimun 134 kapal, dan di Tanjung Uban 16 kapal.
Selain kapal cepat, terdapat pula 19 kapal motor penyeberangan atau Ro-Ro serta 52 penerbangan yang melayani berbagai tujuan di Indonesia.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap mengantisipasi sejumlah potensi kendala selama periode mudik, di antaranya kondisi cuaca di wilayah perairan serta kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak yang dipengaruhi dinamika geopolitik global.
Menurut Junaidi, pemerintah juga telah mendirikan posko pelayanan dan pengamanan mudik di sejumlah titik strategis, terutama di pelabuhan dan bandara.
“Posko ini disiapkan untuk memastikan kelancaran dan keamanan masyarakat yang melakukan perjalanan mudik,” kata Junaidi. ANTARA
Baca Juga: Mudik Gratis PELNI dari Batam, Ratusan Penumpang Diberangkatkan ke Belawan dan Tanjung Priok
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









