Toko Tanpa Kasir Menjamur di Singapura, Cara Pebisnis Hemat Biaya

toko tanpa kasir
Pelanggan memanfaatkan mesin pembayaran tanpa kasir di gerai Cheers, Singapura. Foto: CHEERS

SINGAPURA (gokepri) – Minimarket dan toko tanpa kasir mulai menjamur di Singapura. Cara pengusaha hemat biaya untuk jangka panjang. Padahal di berbagai negara teknologi ini justru sedang dipertanyakan karena berbagai masalah.

Setidaknya 18 gerai yang dikelola Cheers, 7-Eleven, dan yang terbaru perusahaan penganan Chateraise telah diluncurkan. Gerai-gerai ini menggunakan toko tanpa kasir dengan sistem “ambil barang dan pergi” yang memungkinkan pelanggan mengambil barang dan langsung keluar tanpa perlu antre di kasir.

Baca:

HBRL

Toko seluas 26 meter persegi di Le Quest Mall, Bukit Batok, ini merupakan gerai Chateraise tanpa awak pertama di luar Jepang.

Seperti kebanyakan minimarket dan toko tanpa kasir di Singapura, gerai yang buka 24 jam ini mengharuskan pelanggan memasang aplikasi terlebih dahulu di gawai mereka untuk bisa masuk. Kamera dan sensor di dalam toko melacak pergerakan barang yang diambil pelanggan, yang bebas mengambil barang dan langsung pergi.

Umumnya, hanya sedikit pelanggan yang diizinkan masuk toko dalam satu waktu agar sistem pelacakan tidak kewalahan.

7-Eleven, yang pada Januari 2024 membuka minimarket tanpa kasir pertamanya dekat MRT Esplanade, menerapkan pendekatan serupa. Namun, pelanggan harus membayar biaya masuk sebesar SGD5 menggunakan kartu kredit sebelum bisa masuk. Dana tersebut akan dikembalikan dalam waktu dua minggu jika mereka tidak membeli apapun.

Minimarket ini berfungsi sebagai tempat uji coba untuk solusi tanpa kasir karena 7-Eleven mencari cara baru untuk memanfaatkan teknologi ini, kata juru bicara mereka, yang menolak memberikan rincian tentang jumlah pelanggan yang telah berbelanja di sana.

Sebaliknya, 12 gerai Cheers tanpa staf di Singapura menarik “puluhan ribu” pelanggan setiap bulannya, kata juru bicara mereka. Ia menambahkan bahwa perusahaan berencana untuk membuka lebih banyak toko semacam itu dalam beberapa bulan mendatang.

Penyedia teknologi Pick & Go, Intellify, sedang berdiskusi dengan peritel lain untuk menyediakan layanan pramutamu kecerdasan buatan (AI) dan solusi ritel tanpa awak seperti yang telah mereka gunakan di empat toko AI Pick & Go di Singapura.

Minimarket tanpa staf di sini sebagian besar berlokasi di kampus mahasiswa dan pusat ritel berteknologi tinggi seperti Esplanade Xchange.

Gerai Chateraise, yang melayani sekitar 100 pelanggan setiap bulan, bertujuan untuk menempatkan toko mereka lebih dekat ke daerah pemukiman, kata juru bicara mereka, yang menambahkan bahwa ada rencana untuk membuka lebih banyak gerai berteknologi AI.

Pakar ritel mengatakan bahwa sistem tanpa kasir telah lama dikejar oleh para pelaku bisnis sebagai jawaban atas kelangkaan tenaga kerja, terutama di negara maju. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, beberapa pemain besar justru sedang memikirkan ulang pendekatan mereka.

Pada April 2024, Amazon membatalkan sistem Just Walk Out mereka yang serupa, yang telah diterapkan di gerai-gerai mereka di Amerika Serikat sejak 2018, dan beralih ke sistem swalayan.

Teknologi ini juga menggunakan sensor untuk melacak barang yang diambil pembeli, tetapi perusahaan tersebut kabarnya juga mengandalkan lebih dari 1.000 pekerja di India, yang secara manual meninjau transaksi dan memberi label pada gambar dari video untuk melatih model AI sistem tersebut.

Amazon sejak itu membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa tim staf mereka membantu melatih sistem AI dengan memberi label dan membuat catatan pada data belanja nyata, dan bukan dengan menonton video langsung pembeli untuk menghasilkan struk belanja.

Di China, demam pembukaan minimarket tanpa kasir pada 2010-an telah memudar. Diperkirakan ada sekitar 200 minimarket swalayan di seluruh negeri pada 2017, tetapi banyak yang mulai tutup pada tahun-tahun berikutnya.

Operator tidak yakin dengan janji-janji teknologi tersebut, yang menurut laporan Nikkei Asia kurang optimal karena kurangnya analisis data untuk memastikan barang terjual secara optimal, dan minimnya pilihan bahan makanan segar di toko-toko tersebut. Produk segar, menurut publikasi tersebut, merupakan kunci untuk mendatangkan lebih banyak pelanggan dan margin keuntungan yang lebih tinggi.

Minimarket tanpa staf di Korea Selatan harus bergulat dengan pencurian. Sementara itu, toko-toko ini hanya menerima verifikasi kartu kredit, sehingga pelanggan yang tidak memiliki kartu tidak dapat berbelanja.

Minimarket tanpa staf di Singapura juga memiliki keterbatasan variasi produk. Sebagian besar toko hanya menjual makanan kemasan seperti makanan ringan dan minuman botolan dengan umur simpan yang biasanya pendek, dan tidak pernah menjual produk makanan segar atau pakaian, misalnya.

Mereka juga mengharuskan pelanggan untuk berperilaku secara terprediksi. Pelanggan didesak melalui pemberitahuan yang ditempel di sekitar toko untuk tidak memberikan barang kepada orang lain dan mengembalikan barang ke tempat semula, agar tidak membingungkan sistem pelacakan.

Desmond Sim, kepala eksekutif di Edmund Tie, perusahaan konsultan real estat, mengamati ketertarikan pelaku bisnis terhadap minimarket tanpa kasir untuk menekan biaya jangka panjang. Namun, ia menekankan konsep ini belum cocok untuk barang-barang seperti pakaian atau barang mewah yang memerlukan pelayanan pelanggan.

Sementara itu, Dr Kapil Tuli, profesor pemasaran di Singapore Management University, berpendapat teknologi ini belum sepenuhnya menyamai janjinya. Hemat biaya dari pengurangan staf belum sepenuhnya terwujud.

Menurutnya, meski minimarket tanpa kasir menawarkan kemudahan tanpa antre, kehadiran staf manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan rasa aman bagi pelanggan dan menjaga ketertiban toko.

Di sisi lain, Singapura dinilai Dr Kapil Tuli sebagai tempat uji coba yang menjanjikan. Konsumen di Singapura dikenal melek teknologi dan berperilaku baik.

Para ahli sepakat bahwa minimarket tanpa kasir memiliki potensi, namun teknologi ini masih perlu disempurnakan. Singapura, dengan karakteristik tersendiri, bisa menjadi pelopor pengembangan minimarket tanpa kasir yang efektif di masa depan. THE STRAITS TIMES

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

Pos terkait