Batam (gokepri) – Peluncuran layanan internet milik miliarder Elon Musk di Indonesia menjadi puncak dari pendekatan bertahun-tahun pemerintah terhadap pendiri Tesla tersebut. Awalnya kerja sama fokus pada kendaraan listrik namun beralih ke satelit dan isu lingkungan.
Pergeseran fokus ini menunjukkan meski rencana investasi terkadang tidak membuahkan hasil, Indonesia tetap fleksibel dalam bentuk kolaborasi lain dengan mitranya. Hal ini menjadi sinyal kuat keinginan negara untuk mentransformasi perekonomian.
Baca Juga:
- Elon Musk Tiba di Bali, Resmikan Starlink Bersama Presiden Jokowi
- Tesla Buka Kantor di Malaysia, Indonesia Masih Negosiasi
- Kembangkan Industri Mobil Listrik, BKPM Undang Tesla Hingga VW
Elon Musk, yang juga pendiri operator satelit terbesar di dunia, SpaceX, tiba di Bali pada 19 Mei untuk meluncurkan layanan internet Starlink bagi sektor kesehatan Indonesia. Starlink, yang menguasai sekitar 60 persen dari sekitar 7.500 satelit yang mengorbit Bumi, akan membantu memberikan akses internet bagi jutaan penduduk di pelosok Indonesia.
Peluncuran dilakukan di tiga fasilitas kesehatan Indonesia – dua di Bali dan satu di pulau terpencil Aru, Maluku. Sebuah video yang ditayangkan saat peluncuran menunjukkan bagaimana kecepatan internet yang lebih cepat memungkinkan input data untuk mengatasi tantangan kesehatan seperti stunting dan malnutrisi. Laporan dari dokter menyebutkan kecepatan internet meningkat lebih dari 20 kali lipat dengan Starlink.
Indonesia menjadi negara ketiga di ASEAN yang disasar Starlink setelah Malaysia pada 2023 dan Filipina pada 2022. Pemerintah juga telah mengundang Elon Musk untuk berkontribusi dalam program restorasi hutan mangrove Indonesia. Hutan mangrove berperan penting dalam menyerap karbondioksida, gas rumah kaca, dan berpotensi menjadi sumber kredit karbon yang dapat dibeli perusahaan untuk mengimbangi jejak karbon mereka.
Indonesia percaya Elon Musk dan Tesla, yang menyatakan fokus pada percepatan transisi dunia menuju keberlanjutan, dapat mendukung program penanaman pohon tersebut. Meski belum ada kesepakatan konkret, Elon Musk pada 20 Mei di Forum Air Dunia atau World Water Forum yang berlangsung di Bali, menyebut upaya Indonesia di bidang mangrove “luar biasa”.
Kunjungan Elon Musk sendiri sudah lama dinanti, mengingat Indonesia selama bertahun-tahun berusaha meyakinkan Tesla untuk membangun pabrik kendaraan listrik. Hal ini didorong oleh keinginan Indonesia menjadi pemain utama di bidang kendaraan listrik dengan memanfaatkan sumber daya nikel yang melimpah.
Presiden Joko Widodo bertemu Elon Musk pada 14 Mei 2022 di kantor pusat Tesla di Texas untuk membahas peluang kolaborasi. Elon Musk seharusnya menghadiri KTT G20 di Bali pada tahun itu untuk melanjutkan pembicaraan. Namun, ia hanya hadir secara virtual, dan sejauh ini belum ada pengumuman konkret antara Tesla dan Indonesia.
Saat ditanya pada 19 Mei mengenai rencana investasi di industri kendaraan listrik Indonesia, Elon Musk menyatakan fokusnya saat ini adalah Starlink dan manfaat yang dibawa konektivitas ke pulau terpencil.
Pergeseran fokus dari kendaraan listrik ke satelit, dan kemungkinan rehabilitasi mangrove, tampaknya mencerminkan keputusan bisnis yang akan menjadi langkah menguntungkan bagi kedua pihak, Elon Musk dan Indonesia, ujar Mustafa Izzuddin. Dr Mustafa adalah analis senior urusan internasional di konsultan kebijakan dan bisnis Solaris Strategies Singapore dan dosen tamu hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia.
“Konektivitas yang lebih baik, yang dapat meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia, kemungkinan akan meningkatkan dukungan politik domestik untuk pemerintah saat ini. Bagi Elon Musk, Indonesia adalah pasar konsumen yang besar, yang dengan memanfaatkan Starlink, dapat menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaannya,” jelasnya.
Sementara itu, Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif lembaga Institute for Essential Services Reform, mengatakan, mengingat Tesla sudah memiliki pabrik di Shanghai untuk melayani pasar Cina dan Asia Tenggara, kecil kemungkinan perusahaan tersebut akan membangun fasilitas serupa lagi di kawasan ini untuk saat ini. “Selain itu, Tesla telah mengumumkan akan memperluas gigafactory Tesla di Lalifornia dan Jerman. Investasi mereka akan memprioritaskan kedua pabrik tersebut dalam jangka pendek,” tambahnya.
Kunjungan Elon Musk terwujud setelah dua nama besar industri teknologi mengunjungi Indonesia. Pada 17 April, CEO Apple Tim Cook bertemu Presiden Widodo di Jakarta. Ia menyampaikan ketertarikan Apple untuk kemungkinan memulai produksi iPhone di Indonesia.
Disusul kemudian oleh CEO Microsoft Satya Nadella pada 30 April. Dalam pertemuannya dengan Presiden, Microsoft mengumumkan investasi senilai US$1,7 miliar (sekitar Rp2,3 triliun) untuk pengembangan infrastruktur cloud dan kecerdasan buatan di Indonesia.
Para pengamat menilai, kunjungan para pemimpin perusahaan teknologi ini berpotensi mendatangkan investasi besar bagi Indonesia. Namun, realisasi investasi tersebut memerlukan waktu.
“Pemerintah Indonesia dalam tiga tahun terakhir telah berupaya menarik minat investasi Elon Musk di bidang kendaraan listrik. Sejauh ini, belum ada kepastian terkait keseriusan Elon Musk untuk berinvestasi,” ungkap Fabby.
Pernyataan tersebut merujuk pada pembicaraan awal antara Tesla dan Jakarta yang terjalin bahkan sebelum pertemuan Presiden Widodo dan Elon Musk pada tahun 2022.
Selain itu, para pengamat juga menyoroti belum jelasnya manfaat langsung yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia dari pengumuman investasi tersebut.
Dalam kunjungannya ke Jakarta pada Juni 2023, CEO TikTok, Chew Shou Zi, mengumumkan rencana perusahaannya untuk menggelontorkan “miliaran dolar” ke usaha kecil dan menengah di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada rincian konkret mengenai realisasinya.
Dedi Dinarto, analis senior Indonesia di firma konsultasi strategis Global Counsel, menekankan bahwa investor asing hanya akan menanamkan modalnya jika nilai proposisi yang ditawarkan Indonesia cukup kuat. Ia menambahkan, investasi Elon Musk saat ini di Starlink Indonesia belum tentu menjamin kerja sama masa depan dengan Tesla.
“Sama seperti investor asing lainnya, investasi tambahan dari Elon Musk, baik di bidang kendaraan listrik, kehutanan, atau sektor lainnya, akan bergantung pada kemampuan Indonesia untuk menawarkan kebijakan yang mendukung dan menguntungkan para investor,” jelas Dedi.
Pandangan serupa disampaikan Rudy Syamsuddin, pengusaha bahan atap metal dari Makassar. Menurutnya, perusahaan seperti Tesla, Apple, dan Microsoft mungkin saat ini menyampaikan janji investasi, namun realisasinya akan bergantung pada perbaikan kondisi tertentu di Indonesia.
“Jika bicara kendaraan listrik, ini adalah produk untuk kelas atas yang populasinya masih sedikit di Indonesia. Indonesia perlu meningkatkan daya beli masyarakat dan memastikan peraturan serta perundangan tidak mudah berubah agar pasar kita menjadi lebih menarik,” pungkas Rudy. ANTARA | BLOOMBERG | THE STRAITS TIMES
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









