Batam (gokepri) – Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam memperkenalkan layanan untuk penanganan Aritmia dan Ablasi Jantung. Peluncuran layanan ini merupakan dukungan RSBP Batam memperluas akses dan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Peluncuran layanan ini dilakukan di Ruang Rapat lantai 4 RSBP Batam, Kamis 6 Juni 2024. Dihadiri oleh Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan, dr. Muhammad Yanto, serta perwakilan dari rekanan/mitra kerja RSBP Batam.
Baca Juga:
- Diet Berkualitas dan Jantung Sehat dengan Makan Alpukat
- Pengidap Penyakit Jantung Paling Banyak Dirawat Inap di RSUP Kepri
Dalam sambutannya, dr. Yanto menyampaikan layanan Aritmia dan Ablasi Jantung telah lama tersedia di RSBP Batam. Namun, kini RSBP Batam memiliki dokter yang ahli (certified) di bidangnya sehingga dapat lebih fokus menangani pasien yang membutuhkan layanan ini.
“Layanan ini merupakan bagian dari komitmen RSBP Batam untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik di Batam dalam mendukung iklim investasi yang kondusif,” ujar dr. Yanto dalam siaran pers, Kamis 6 Juni.
dr. Yanto berharap para peserta yang hadir dapat menyebarkan informasi ini kepada manajemen dan rekan-rekan di lingkungan kerjanya. Layanan Aritmia dan Ablasi Jantung di RSBP Batam akan dilayani oleh dr. Fandi Ahmad, Sp. JP., FIHA setiap hari Selasa dan Kamis pukul 12.00 hingga 15.00 WIB.
Mengenal Aritmia
Aritimia atau gangguan irama jantung adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan.
Denyut jantung dikendalikan oleh sistem kelistrikan sehingga dapat berdenyut dengan irama yang teratur. Normalnya, jantung akan berdenyut 60-100 kali per menit.
Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan mengakibatkan gangguan asupan darah ke organ tubuh lainnya. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya.
Gejala aritmia berbeda-beda untuk setiap orang, tergantung dari jenis aritmia yang dialami. Gejala yang biasanya dirasakan adalah jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada, sesak nafas, mudah lelah, keringat dingin, rasa akan pingsan. Jika terlambat ditangani, aritmia dapat menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian.
Aritmia biasanya muncul saat olahraga, stress atau setelah terpapar kafein, nikotin dan obat-obatan tertentu. Aritmia juga dipengaruhi oleh faktor risiko lain seperti memiliki penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipo atau hipertiroid, penyakit jantung bawaan, dan faktor genetik.
Aritmia juga meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke 4 sampai 5 kali lebih besar dibanding yang tidak mengalami aritmia. Data CDC tahun 2017 menyebutkan bahwa aritmia menyebabkan stroke iskemik sebesar 15-20 persen.
Untuk mendiagnosa aritmia, dokter akan mengevalusi gejala dan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study). Sementara Ablasi jantung adalah prosedur medis yang digunakan untuk mengatasi aritmia dengan menghancurkan jaringan jantung yang menyebabkan gangguan irama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









