Edukasi pasien, pelacakan kasus, dan penguatan layanan deteksi dini dipandang penting untuk mengejar target keberhasilan pengobatan TB.
BATAM (gokepri) — Penemuan kasus tuberkulosis (TB) di Kota Batam terus bertambah, tetapi keberhasilan pengobatan masih berada di bawah target nasional. Hingga April 2026, tingkat keberhasilan terapi tercatat 75,4 persen, sementara Kementerian Kesehatan menargetkan capaian minimal 95 persen.
Kesenjangan tersebut memperlihatkan tantangan yang tidak berhenti pada penemuan kasus. Kepatuhan pasien menjalani terapi, risiko putus pengobatan, perpindahan domisili, hingga stigma sosial masih menjadi hambatan dalam pengendalian penyakit menular tersebut.
Baca Juga: Wabah TB Malaysia: Warga Diimbau Pakai Masker di Tempat Ramai, Kasus Tembus 3.100
Data Dinas Kesehatan Kota Batam menunjukkan sebanyak 9.732 warga telah menjalani skrining TB hingga April 2026. Dari jumlah itu, ditemukan 1.380 kasus TB, sedangkan pasien yang menyelesaikan pengobatan dan dinyatakan berhasil mencapai 1.179 orang.
“Hingga April, tingkat keberhasilan pengobatan TB di Batam saat ini tercatat sebanyak 1.179 pasien atau sekitar 75,4 persen,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi saat dihubungi di Batam, Senin (18/5/2026).
Menurut Didi, capaian keberhasilan terapi untuk TB sensitif obat (SO) mencapai 89 persen. Adapun pengobatan TB resisten obat (RO) tercatat 95,7 persen.
Meski sejumlah indikator menunjukkan perkembangan, capaian keseluruhan masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi sasaran nasional.
Salah satu tantangan berasal dari rendahnya pemahaman sebagian pasien mengenai penyakit TB dan proses pengobatan. Kekhawatiran terhadap efek samping obat serta stigma di lingkungan sekitar dinilai masih memengaruhi keputusan pasien untuk memulai ataupun melanjutkan terapi.
“Masih ada pasien yang perlu edukasi dan pemahaman lebih mendalam tentang TB agar tidak takut memulai pengobatan, tidak khawatir terhadap efek samping obat, serta terhindar dari stigma di lingkungan sekitar,” kata Didi.
Persoalan lain muncul setelah pasien dinyatakan positif. Dinas Kesehatan Batam mencatat adanya pasien yang sulit dipantau karena berpindah tempat tinggal, kembali ke daerah asal, atau tidak lagi datang ke fasilitas kesehatan.
“Ada pasien yang sudah terdiagnosis positif TB namun sulit dihubungi kembali atau lost contact, berpindah tempat tinggal, kembali ke daerah asal, atau tidak datang lagi ke fasilitas kesehatan,” ujar Didi.
Durasi pengobatan yang panjang juga menjadi tantangan tersendiri. Terapi TB sensitif obat berlangsung minimal enam bulan, sedangkan pengobatan TB resisten obat memerlukan waktu lebih lama.
Kondisi itu memengaruhi kepatuhan sebagian pasien. Ada yang menghentikan terapi setelah merasa kondisi tubuh membaik, jenuh mengonsumsi obat, atau mengalami efek samping.
Selain itu, penyakit penyerta seperti diabetes, Human Immunodeficiency Virus (HIV), malnutrisi, dan penyakit kronis lain turut memengaruhi keberhasilan pengobatan.
Untuk memperkuat deteksi dini, Dinas Kesehatan Batam menyediakan layanan Tes Cepat Molekuler (TCM) di Puskesmas Baloi Permai. Pemeriksaan tersebut tersedia tanpa biaya bagi masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan maupun KTP Batam.
“Untuk Tes Cepat Molekuler tidak berbayar, terutama bagi masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan maupun KTP Batam,” kata Didi.
Selain layanan TCM, seluruh puskesmas di Batam juga menyediakan layanan pengobatan TB sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberhasilan terapi dan menekan penularan. ANTARA
Baca Juga: 95 Persen Pasien TBC Batam Telah Jalani Pengobatan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








