Resesi di Depan Mata, OJK Kepri Pantau Likuiditas dan Risiko Kredit Perbankan

Realisasi investasi PMA di Batam
Kawasan industri di Batam. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat realisasi investasi Semester I tahun 2022 untuk Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam sebesar 82,86 persen atau sebanyak Rp5,116 triliun. Foto: Dok BP. Batam

Batam (Gokepri.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Riau terus melakukan evaluasi kinerja Lembaga Jasa Keuangan (LKJ) guna mencegah resesi global.

Kepala OJK Kepri Rony Ukurta Barus mengatakan evaluasi tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui langkah untuk mengantisipasi krisis yang terjadi. “Kemungkinan ancaman resesi itu selalu ada, tetapi kami tetap optimis dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi,” kata Rony belum lama ini.

Ia mengatakan ada beberapa langkah antisipasi yang akan dilakukan berdasarkan arahan pusat. Pertama OJK terus memantau dan memastikan likuiditas di sektor jasa keuangan dan perbankan.

HBRL

Baca Juga: Pentingnya Ajarkan Pelajar Mengelola Finansial, Ini Upaya OJK Kepri Tingkatkan Inklusi Keuangan

“Kedua sektor tersebut masih cukup likuid, walaupun ada beberapa yang mengalami krisis atau penurunan, sektor jasa keuangan dan perbankan masih bisa bertahan serta mengantisipasi potensi risiko dan intermediasi,” kata dia.

Ketiga, OJK akan meminta lembaga jasa keuangan mencermati risiko kredit di sektor-sektor ekonomi dengan konsumsi tinggi. “Perlu juga perhatikan, misalnya apakah kurs melemah berpengaruh terhadap debitur atau tidak,” kata dia. Keempat, pihak OJK akan mempertahankan beberapa kebijakan yang telah dijalankan untuk mengelola pasar modal domestik.

Manufaktur di Batam

Sementara, Pengamat ekonomi Universitas Internasional Batam, Suyono Saputro mengatakan, ada beberapa sektor yang kemungkinan akan terdampak jika resesi global tahun 2023 terjadi.

Sektor manufaktur yang akan paling berdampak di Kepri jika resesi itu terjadi. Meski realisasi resesi itu masih abu-abu. Namun, ia meminta semua pihak harus menjaga sektor manufaktur agar terhindar dari dampak itu.

“Karena beberapa negara besar tujuan ekspor negara Indonesia itu memang dikhawatirkan akan mengalami perlambatan ekonomi. Ini yang harus disikapi oleh pemerintah secara hati-hati,” ujar dia.

Baca Juga: PERTUMBUHAN EKONOMI: Kepri Bisa Tangkal Resesi

Ia menyebut jika resesi itu terjadi maka ekspor Indonesia akan mengalami perlambatan. Dampaknya, industri manufaktur yang akan mengalami pengurangan permintaan. Perekonomian Kepri yang baru saja bangkit bisa terjun bebas jika pemerintah tak menyiapkan langkah taktis.

“Dampaknya sangat besar, pengurangan lapangan kerja juga akan terjadi. Maka muntiplier efeknya akan membuat industri mengurangi produktivitasnya,” kata dia.

Selama ini sektor manufaktur menjadi tulang punggung ekonomi Kepri. Walaupun kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara lain, namun jika resesi menghantam tujuan ekspor sudah pasti akan berdampak ke Indonesia. Terkhusus Kepri.

“Jika sektor manufaktur terdampak oleh perlambatan permintaan global, maka akan memicu sektor lain juga seperti akomodasi, konstruksi dan jasa perdagangan karena jasa pengolahan di Kepri menjadi tulang punggung selama ini. Kita berharap jangan sampai resesi global terjadi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

Pos terkait