Permintaan cip menopang industri. Biaya usaha masih terus meningkat.
TOKYO (gokepri) — Optimisme pelaku industri manufaktur Jepang bertahan pada Juli 2026 berkat kuatnya permintaan semikonduktor dan kecerdasan artifisial (AI). Namun, dunia usaha masih menghadapi tekanan biaya akibat gejolak geopolitik, pelemahan yen, dan kenaikan suku bunga.
Survei bulanan Reuters Tankan menunjukkan indeks kepercayaan manufaktur tetap berada di level plus 13, sama seperti Juni 2026. Angka positif menunjukkan jumlah pelaku usaha yang optimistis lebih banyak dibandingkan yang pesimistis.
Baca Juga: Semikonduktor Menjaga Momentum Ekonomi Singapura
Daya tahan sektor manufaktur terutama ditopang oleh pemulihan pasar semikonduktor. Permintaan cip memori meningkat, disertai lonjakan pesanan komponen untuk aplikasi AI dan server pusat data. Pesanan komponen elektronik juga terus bertambah di berbagai segmen industri.
Besarnya permintaan bahkan mulai memunculkan tantangan baru. “Volume dan nilai pesanan berada pada tingkat yang belum pernah kami lihat sebelumnya, sehingga kami mulai mengkhawatirkan kapasitas produksi,” ujar seorang manajer perusahaan mesin presisi dalam survei Reuters.
Berbeda dengan manufaktur, kepercayaan pelaku usaha sektor nonmanufaktur melemah. Indeksnya turun dari plus 32 pada Juni menjadi plus 25 pada Juli.
Penurunan itu dipicu meningkatnya biaya operasional akibat pelemahan nilai tukar yen, kenaikan suku bunga, serta ketidakpastian yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menambah beban bagi perusahaan jasa yang lebih bergantung pada konsumsi domestik.
Seorang manajer perusahaan jasa menilai situasi mulai menunjukkan tanda-tanda membaik, tetapi belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, dampak konflik di Timur Tengah masih membayangi aktivitas usaha.
Survei Reuters Tankan digelar pada 1–10 Juli 2026 terhadap 511 perusahaan di Jepang. Sebanyak 218 perusahaan memberikan tanggapan. Indeks dihitung dari selisih persentase responden yang optimistis dan pesimistis.
Hasil survei ini sejalan dengan survei triwulanan Tankan Bank of Japan (BOJ) yang dirilis awal Juli. Survei tersebut menunjukkan kepercayaan dunia usaha mencapai level tertinggi dalam delapan tahun, bersamaan dengan meningkatnya ekspektasi inflasi korporasi ke rekor tertinggi.
Meski demikian, BOJ pekan lalu mengingatkan tekanan inflasi masih perlu diwaspadai. Bank sentral menilai dampak perang Iran berpotensi mendorong lebih banyak perusahaan menaikkan harga pada paruh kedua tahun ini.
Amerika Serikat dan Iran memang telah mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang pada Juni. Namun, gencatan senjata masih rapuh setelah kedua pihak tetap saling meluncurkan serangan rudal.
Tekanan biaya juga tercermin pada inflasi harga grosir Jepang. Pada Mei 2026, inflasi harga grosir mencapai 6,3 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi itu mengindikasikan perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen.
Ke depan, pelaku industri memperkirakan sentimen manufaktur tetap stabil. Indeks diproyeksikan naik tipis menjadi plus 14 pada Oktober 2026.
Sementara itu, kepercayaan sektor nonmanufaktur diperkirakan bertahan di level plus 25. Dunia usaha masih mencermati dampak risiko geopolitik serta gangguan rantai pasok global terhadap aktivitas ekonomi. REUTERS
Baca Juga: Dari Masela hingga Semikonduktor, RI-Jepang Teken 10 MoU di Tokyo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









