Tanjungpinang (gokepri) – Keindahan Pulau Penyengat di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, memukau Raja Muhammad Khalid Bin Raja Adnan, keturunan ke-7 Raja Haji Fisabillah dari Kerajaan Riau-Lingga yang bermukim di Singapura.
“Ini tempat bersejarah terbaik. Mengenalkan sejarah Riau-Lingga, jejak pertama bangsa Melayu. Masjid Penyengat ini juga yang terbaik,” puji Raja Muhammad Khalid saat ditemui di Pulau Penyengat, Jumat (2/2/2024).
Pulau Penyengat, menurutnya, merupakan tempat bersejarah bagi bangsa Melayu. Di sanalah lahirnya tata bahasa Melayu dan menjadi Kawasan Cagar Budaya Nasional.
Baca Juga: Revitalisasi Pulau Penyengat Berlanjut, Akan Dibangun Monumen Nasional
Raja Muhammad Khalid menuturkan asal mula nama Pulau Penyengat. Konon, seorang pelaut disengat lebah saat mengambil air di pulau ini, sehingga pulau ini dinamai Penyengat. “Orang Belanda dulu menjuluki pulau ini sebagai Pulau Indera dan Pulau Mars. Sehingga disebutlah Penyengat Inderasakti,” tuturnya.
Sebagai keturunan bangsawan, Raja Muhammad Khalid sering mengunjungi Pulau Penyengat untuk bersilaturahmi dengan sanak saudaranya. Ia menilai, Pulau Penyengat memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata mancanegara. Raja Muhammad Khalid pun tak jarang mempromosikan pulau ini di Singapura.
“Di sini banyak peninggalan bersejarah, seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam-makam raja, makam Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor, Balai Adat, dan benteng pertahanan di Bukit Kursi,” paparnya.
Peninggalan sejarah tersebut, menurutnya, dapat menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Tanjungpinang.
“Sekarang sudah bagus, jalan sudah luas. Becak motornya juga lebih bagus daripada yang dulu,” tuturnya. Raja Muhammad Khalid berharap Pulau Penyengat dapat menjadi destinasi wisata terbaik di Kepulauan Riau.
Senada dengan Raja Muhammad Khalid, Ketua Umum Harian LAM Riau Datok Sri Haji Taufik Ikram Jamil mengaku takjub dengan perkembangan Pulau Penyengat saat ini. “Apalagi Pulau Penyengat memiliki posisi sejarah penting bagi bangsa Melayu, antara lain bagaimana bahasa Melayu di bina di pulau ini,” ungkapnya.
Datok Sri Taufik berharap semakin banyak turis yang berkunjung ke pulau bersejarah tersebut. “Turis semakin rindu dengan Pulau Penyengat seiring dengan perbaikan pulau ini,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti Fedro









