Produsen Alat Medis dan Elektronik Singapura Didorong Ekspansi ke Batam

Pabrik asus di Batam
Proses perakitan produk ASUS di fasilitas manufaktur PT Sat Nusapersada Tbk, di Batam, Kepulauan Riau. Foto: ASUS Indonesia

SINGAPURA (gokepri) – Federasi Manufaktur Singapura (Singapore Manufacturing Federation/SMF) mendorong lebih banyak perusahaan perangkat medis dan elektronik untuk berekspansi ke kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) di Kepulauan Riau. Dorongan ini muncul seiring Indonesia mengembangkan kawasan industri baru dan meningkatkan konektivitas pelabuhan antara kedua negara.

Singapura selama ini menjadi salah satu investor asing terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dan tercatat sebagai investor asing terbesar di Batam. Pada semester pertama tahun lalu, investasi asal Singapura di Batam mencapai 617,3 juta dolar Singapura atau sekitar 481,6 juta dolar AS—setara 69 persen dari total investasi asing langsung yang masuk ke Batam.

Dalam seminar bertema investasi di kawasan BBK yang digelar Selasa (24/3/2026), SMF menegaskan bahwa para produsen perlu mempertimbangkan sejumlah faktor krusial sebelum berekspansi ke luar negeri. Wakil Presiden SMF Melvin Tan menyoroti keandalan jaringan listrik sebagai salah satu hal yang harus dicermati. “Pengembang atau produsen harus memahami sendiri apa saja keterbatasan dan kendala terkait kebutuhan daya dan energi mereka,” ujar Tan dalam seminar tersebut.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Nafta, Harga Plastik Medis Bisa Naik 50 Persen

Kawasan BBK dapat ditempuh dengan feri selama 40 hingga 90 menit dari Singapura. Kawasan ini merupakan bagian dari Segitiga Pertumbuhan Singapura-Johor-Kepulauan Riau—kemitraan ekonomi trilateral yang digagas pada 1989 oleh Wakil Perdana Menteri Singapura saat itu, Goh Chok Tong. Inisiatif itu bertujuan memadukan keunggulan manajemen, teknologi, dan infrastruktur Singapura dengan ketersediaan tenaga kerja, lahan, dan sumber daya alam Johor dan Kepulauan Riau.

Kawasan BBK kini menampung setidaknya lima kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berfokus pada industri kesehatan, elektronik, dan penerbangan. KEK tersebut menawarkan insentif pajak, percepatan perizinan, dan infrastruktur khusus untuk menarik investasi asing. Perusahaan yang beroperasi di sana mencakup sektor manufaktur, logistik, teknologi informasi, hingga pusat data.

Kemitraan Singapura-BBK menerapkan strategi kembaran (twinning strategy): kantor pusat serta fasilitas penelitian dan pengembangan ditempatkan di Singapura untuk memanfaatkan konektivitas, sumber daya manusia, dan perlindungan kekayaan intelektual yang kuat, sementara operasional manufaktur berskala besar dijalankan di BBK yang menawarkan lahan, tenaga kerja, dan utilitas lebih efisien dari sisi biaya.

Perusahaan daur ulang Redux, misalnya, berencana meningkatkan kapasitasnya hingga lima kali lipat dengan memanfaatkan kawasan industri dan lahan yang tersedia di BBK. Direktur Pengembangan Bisnis Redux, Jeff Seah, menyatakan ekspansi itu layak secara komersial mengingat biaya lahan dan tenaga kerja di BBK jauh lebih rendah dibandingkan dengan Singapura.

“Industri daur ulang membutuhkan lahan yang luas. BBK memiliki lebih banyak lahan industri, biaya yang lebih rendah, dan dukungan kuat untuk pertumbuhan industri,” kata Seah. “Yang penting, karena jaraknya dekat, kami tetap bisa terhubung.”

Untuk mendorong mobilitas di kawasan ini, Indonesia telah memberlakukan kebijakan bebas visa masuk ke BBK bagi 13 kewarganegaraan, termasuk seluruh warga negara ASEAN dan pemegang izin tinggal tetap Singapura. Pemerintah Indonesia juga menerbitkan regulasi untuk menyederhanakan perizinan dan mempermudah investasi.

Presiden Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah Singapura (Association of Small and Medium Enterprises/ASME), Ang Yuit, menilai berbagai faktor tersebut menjadikan BBK sebagai pilihan yang sangat kompetitif bagi pelaku usaha yang ingin berekspansi sambil tetap dalam jangkauan satu jam perjalanan dari Singapura.

“Jika melihat biaya lahan, faktor itu saja sudah sangat signifikan, terutama bagi bisnis yang membutuhkan lahan luas,” ujar Ang. “Tentu saja, pengembangan infrastruktur tetap harus dinilai sendiri dari sudut pandang bisnis.” CHANNEL NEWS ASIA

Baca Juga: Dampak Perang Sampai ke Tiket Kapal Feri Singapura-Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait