SINGAPURA (gokepri) – Ketegangan di Timur Tengah mengancam pasokan nafta—bahan baku utama produk plastik, termasuk perlengkapan medis seperti jarum suntik dan kateter—dan berpotensi mendorong kenaikan harga hingga 50 persen. Otoritas Singapura menyatakan belum ada kekurangan pasokan, namun para pemasok memperingatkan tekanan harga sudah mulai terasa.
Nafta adalah cairan petrokimia yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak mentah. Bahan ini menjadi bahan baku utama dalam produksi plastik jenis polietilena dan polipropilena—material yang digunakan secara luas di industri kesehatan, kemasan pangan, hingga alat pelindung diri.
Dikutip dari Channel News Asia, sebagian besar minyak mentah yang diolah kilang-kilang Singapura berasal dari Timur Tengah dan diangkut melalui Selat Hormuz—jalur perairan strategis yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak global. Serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di selat itu telah mengganggu arus pengiriman dan menekan rantai pasok petrokimia global.
Baca Juga: Batu Bara Kembali Dilirik Imbas Konflik di Timur Tengah
“Ketika Selat Hormuz terganggu, aliran nafta dan gas alam ikut tersumbat. Ini adalah nadi bagi sektor petrokimia,” ujar Melvin Tan, Wakil Presiden Federasi Manufaktur Singapura (Singapore Manufacturing Federation/SMF).
Tan menambahkan, para produsen kini menghadapi ancaman tiga lapis: kenaikan biaya energi, logistik, dan bahan baku secara bersamaan. Harga bahan bakar mendorong lonjakan biaya listrik dan transportasi, sementara pasokan nafta yang semakin ketat mengerek biaya produksi.
Asosiasi Profesor Goh Puay Guan dari Sekolah Bisnis Universitas Nasional Singapura (NUS) menyebut dampak gangguan ini berpotensi melampaui sektor manufaktur. Produk turunan minyak juga dibutuhkan untuk memproduksi pupuk yang menjadi tumpuan ketahanan pangan global.
Goh merujuk pada perang Rusia-Ukraina, yang gangguan pasokan energi dan pupuknya berkontribusi pada lonjakan harga pangan dunia. Ia memperingatkan dampaknya bisa lebih besar jika pasokan dari Timur Tengah terganggu, mengingat kawasan itu menguasai porsi lebih besar dalam ekspor minyak global.
Di tingkat distribusi, tekanan harga sudah nyata terasa. Distributor perlengkapan medis lokal melaporkan sejumlah produsen telah menaikkan harga akibat tingginya biaya bahan baku.
Medpro Medical Supplies, salah satu distributor medis di Singapura, menyebut permintaan meningkat karena pelanggan mulai membeli lebih banyak sebagai stok cadangan. Perusahaan itu juga menaikkan tingkat persediaan untuk sejumlah produk guna mengantisipasi lonjakan permintaan lebih lanjut.
“Jika kami terus memesan dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya, biayanya bisa naik sekitar 50 persen,” kata perwakilan Medpro, seraya menambahkan bahwa pembelian dalam jumlah besar dapat membantu meredam kenaikan itu. Perusahaan memproyeksikan kenaikan harga lanjutan seiring biaya material dan pengiriman yang terus meningkat.
Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan tidak ada kekurangan pasokan medis. Kementerian menegaskan institusi layanan kesehatan publik memiliki cadangan yang memadai dan telah menerapkan strategi diversifikasi sumber untuk menjaga ketahanan pasokan.
Jaringan apotek Guardian juga memantau situasi ini. “Harga dan stok produk farmasi saat ini masih stabil. Kami memantau situasi secara seksama dan bekerja sama dengan pemasok terpercaya kami untuk menjaga pasokan,” kata juru bicara Guardian.
Di sisi industri, sejumlah perusahaan mulai beralih dari model rantai pasok just-in-time—yang mengandalkan pengiriman tepat waktu tanpa stok berlebih—menuju pendekatan just-in-case, yakni membangun stok penyangga dan mengamankan pemasok cadangan.
Tan dari SMF menyebut beberapa perusahaan telah menerima indikasi awal berupa potensi keterlambatan pengiriman untuk sejumlah bahan kimia dan komponen tertentu, meski informasi ini masih bersifat anekdotal dan belum terverifikasi secara sistematis.
Perusahaan-perusahaan juga menjajaki opsi regional, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura dan Batam, sebagai upaya diversifikasi rantai pasok. Namun Tan mengingatkan, langkah-langkah tersebut bersifat jangka panjang dan tidak menjawab tekanan yang dihadapi industri saat ini.
Untuk meredam beban energi, sejumlah perusahaan mulai berinvestasi pada energi terbarukan seperti panel surya atap dan sistem penyimpanan energi guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.
Para ahli menilai, selama alternatif pengganti nafta belum tersedia dalam skala komersial yang memadai, industri akan tetap bergantung pada bahan baku berbasis minyak bumi. Artinya, setiap gangguan pasokan yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan biaya di berbagai sektor—dan dampaknya akan dirasakan hingga ke harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. CHANNEL NEWS ASIA
Baca Juga: Alfitri Raih Doktor dengan Disertasi Kolaborasi Pengelolaan Sampah Plastik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









