PILGUB KEPRI 2024: Golkar Tutup Pintu Koalisi dengan NasDem

Ansar-Marlin
Ansar Ahmad dan Marlin Agustina saat pengumuman calon-calon yang diusung DPW Nasdem Kepri di Pasir Putih, Batam Center, Juli 2020. (foto: Antara/Naim)

BATAM (GoKepri.com) – Ketua DPD Golkar Provinsi Kepulauan Riau Ahmad Maruf Maulana mengisyaratkan partainya menutup peluang koalisi dengan Partai NasDem dalam pemilihan gubernur yang masih dua tahun lagi.

“Tidak mungkin lagi kami koalisi dengan NasDem. Koalisi dengan yang jelas-jelas saja, dari sekarang sudah enggak mungkin,” ungkap Maruf di sela-sela peletakan batu pertama proyek sirkuit di bilangan Bengkong, Batam, yang dihadiri Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Gubenur Kepri dan senior Golkar Ansar Ahmad, dan pejabat teras Golkar, Minggu 20 November 2022.

Kemungkinan Golkar kembali berkoalisi dengan NasDem seperti pemilihan 2019 tertutup rapat karena muncul konflik dan ketegangan politik. Maruf menyebut ada konflik partainya dengan NasDem yang tengah panas, meski ia tak menjelaskan lebih jauh soal konflik tersebut. “Yang jelas bukan Nasdem. Tengoklah, sudah berantam begini bagaimana mau berkoalisi,” sebut Ketua Kadin Kepri itu.

Golkar sudah memulai langkah politiknya sebagai persiapan menghadapi pemilihan umum dan pilkada yang masih dua tahun lagi itu, termasuk menjajaki koalisi dengan partai politik lain. Hanya saja Maruf merahasiakan partai apa saja yang menjalin komunikasi dengan Golkar untuk pemilihan gubernur. “Golkar telah berdiskusi dengan sejumlah partai,” sambung Maruf.

Maruf juga menjawab pertanyaan tentang kabar Golkar mendekati Amsakar Achmad untuk maju sebagai calon walikota Batam 2024 dari Golkar. Maruf menegaskan manuver politik itu tidak mungkin terjadi karena Golkar akan mengusung sendiri kadernya. “Golkar banyak kader, jadi untuk kota, kami usung sendiri. Golkar mengutamakan kader. Golkar sudah jelas kadernya, kata dia.

Tensi hubungan Golkar dengan NasDem Kepri memanas sejak tercium publik karena disharmoni Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina. Ansar adalah tokoh senior Golkar, sedangkan Marlin figur yang diusung NasDem.

Hubungan dua nakhoda itu semakin mengemuka setelah Ansar membawa ketidakhamornisannya dengan Marlin ke ranah publik ketika diwawancara media di bilangan Batam Center, pekan lalu. Ansar dalam kesempatan itu mengkritik kinerja Marlin yang jarang ke kantor dan lebih sering mengunjungi sekolah-sekolah.

Marlin dituding kampanye. Pernyataan ini disampaikan ketika Marlin berada di luar negeri, persisnya menjalankan ibadah Umrah. Meski begitu, Ansar tetap membuka pintu dialog empat mata dengan Marlin. Konflik politik tersebut bukan yang pertama. Rivalitas dini dua dinasti ini sudah terasa sejak awal 2021.

Sebagai gambaran, Ansar-Marlin diusung empat partai; Golkar, Nasdem, PAN dan PPP. Total kursinya paling banyak, 17 kursi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kepri memutuskan pasangan Ansar Ahmad-Marlin Agustina sebagai pemenang pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri 2020 pada 19 Desember 2020.

Hasil itu kemudian digugat oleh Isdianto-Suryani namun Mahkamah Konstitusi menolak permohonan itu pada 16 Februari 2021. Lima hari kemudian, KPU menetapkan Ansar-Marlin sebagai gubernur dan wakil gubernur Kepri terpilih. Paslon terpilih ini meraup 308.553 suara atau 39,97 persen. Terpilihnya Marlin melanjutkan kemenangan Nasdem di pemilihan Kepri.

Ketika pemilihan gubernur 2019 lalu, koalisi Golkar, NasDem, PAN dan PPP berlaga melawan PDIP, Gerindra, dan Partai Kebangkitan Bangsa. Koalisi ini meraih 15 dari total 45 kursi di DPRD Kepri. Mereka mengusung Soerya Respationo dan Iman Sutiawan. Kemudian koalisi PKS, Hanura dan Demokrat. Koalisi ini mengusung petahana Isdianto dan tokoh senior PKS, Suryani.

Baca Juga Topik Politik Lainnya:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

BAGIKAN