Perundungan Marak, Anak Perlu Edukasi Sejak Dini dan Tumbuhkan Empati

Video perundungan anak di batam
Ilustrasi New York Times.

Batam (gokepri) – Dengan edukasi sejak dini, anak-anak mampu menghadapi perundungan. Rasa empati juga perlu ditumbuhkan agar mereka punya ikatan sosial yang kuat.

Tindakan merekam aksi perundungan atau bullying dengan kekerasan marak di Batam. Seperti video viral aksi bullying dengan kekerasan yang terjadi pada dua remaja perempuan pada Rabu sore tanggal 28 Februari 2024 di sekitar kawasan Nagoya.

“Bisa jadi itu sudah suatu kejadian yang biasa bagi mereka (melakukan kekerasan). Kebetulan ini divideokan jadi viral. Sebenarnya bullying itu sejak dulu sudah ada tapi sekarang selalu diviralkan, selalu menjadi berita yang menarik,” kata Psikolog, Yoza Azda, pada Sabtu, 2 Maret 2024.

HBRL

Baca Juga: 

Video perundungan anak di batam
Yoza Azda, psikolog di Batam. Foto: istimewa

Dalam video pertama berdurasi 30 detik, memperlihatkan seorang remaja putri yang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana berwarna kuning terduduk di depan sebuah pintu ruko berwarna coklat.

Korban kemudian ditendang di berbagai bagian tubuhnya seperti di kepala, perut dan punggung oleh ketiga rekannya sesama remaja putri. Aksi itu pun tidak hanya dilakukan sekali, namun berkali-kali hingga korban menangis histeris sambil memegang kepalanya.

Yoza menyampaikan, perilaku merekam aksi bullying dengan kekerasan itu dilakukan oleh pelaku yang mengalami gangguan hingga bisa dikategorikan sebagai psikopat.

“Tipe-tipe orang yang melakukan video, meng-upload-nya kemudian merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya, ada seperti itu. Tapi mereka ini yang mengalami suatu gangguan, puas ke orang-orang lain tersakiti. Bisa jadi dia psikopat, psikopat yang tingkat rendah,” jelas Yoza.

Menurutnya, pelaku merekam tindakan kekerasan itu biasanya merasakan kepuasan melihat orang lain merasa tersakiti. Yoza juga mengungkap, jika tidak segera ditangani pelaku bisa melakukan tindakan kekerasan yang lebih ekstrem.

“Merasa bersalahnya tidak ada, pada nantinya dia bisa berkembang dengan psikopatnya yang lebih tinggi, melakukan hal-hal tanpa ada rasa bersalah kemudian melakukan kekerasan lebih jauh lagi,” ungkapnya.

Menurut Yoza, merekam aksi bullying dengan kekerasan juga ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya, kata Yoza bisa mengatasi dengan mencegah tindakan bullying terulang kembali. Dampak buruknya, korban bullying akan menimbulkan perasaan trauma dengan ketakutan serta kecemasan bagi korban.

“Dua-duanya ada sisi baik dan buruknya. Baiknya itu tadi bagaimana kita bisa mengatasi terhadap anak-anak dengan mencegah jangan sampai terjadi bullying berikutnya,” katanya.

“Tapi efek buruknya, ada ketakutan bagi anak, ketakutan bagi orang tua untuk melepaskan anak-anaknya untuk bergaul dengan lingkungan atau teman-teman sekolahnya. Kehati-hatian ini membuat anak-anak menjadi tingkat kecemasannya lebih tinggi,” tambah Yoza.

Yoza juga menyampaikan seiring meningkatnya kasus bullying, penting bagi orang tua memberikan dukungan dan edukasi kepada anak untuk memperkuat ketangguhan mental mereka. Anak perlu diajarkan tidak hanya untuk menerima dan mengatasi masalah bullying, tetapi juga meresponsnya dengan tindakan dan tidak berdiam diri ketika terjadi bullying.

Yoza menambakan penting juga untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, serta mengajarkan mereka melihat ke bawah untuk membentuk lingkungan yang lebih baik. Menurutnya, orang tua memiliki peran krusial dalam memberikan edukasi yang baik dan menjaga kesehatan mental anak agar dapat menghadapi permasalahan dengan bijak.

“Bisa menumbuhkan rasa empati, kepedulian ke sesama, melihat ke orang-orang yang di bawah dia,” pesan Yoza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Muhammad Ravi

Pos terkait