Batam (Gokepri.com) – BP Batam akan melelang konsesi pengelolaan air selama 25 tahun pada Januari 2021 setelah kembali menunjuk swasta yakni PT Moya Indonesia untuk sementara mengelola air selama enam bulan.
PT Moya Indonesia dan BP Batam telah meneken perjanjian kerja sama pengelolaan air selama enam bulan. Sesuai kontrak, Moya efektif mengelola dan memasok air bersih di Pulau Batam mulai 15 November 2020 hingga 15 Mei 2021.
Moya mengambil alih pengelolaan air bersih dari ATB saat perjanjian konsesi berakhir 14 November 2020. Sesuai jadwal, maka mulai 16 Mei 2020 pengelolaan air bersih Batam akan dikelola pemegang hak konsesi 25 tahun.
“Januari 2021, kami akan lelang lagi secara terbuka, itu yang untuk 25 tahun ke depan,” ujar Kepala Badan Pengusahaan Batam Muhammad Rudi saat konferensi pers di BP Batam, Senin (14/9/2020).
Perjanjian pengelolaan air bersih dalam masa transisi diteken Kepala BP Batam Muhammad Rudi dan CEO Moya Indonesia Mohammad Selim pada Senin 14 September 2020.
BP Batam memiliki enam instalasi pengolahan air (IPA) yaitu IPA Nongsa kapasitas produksi 60 liter per detik, IPA Seiharapan kapasitas 210 per detik, IPA Seiladi 240 liter per detik, IPA Mukakuning kapasitas 600 liter per detik, IPA Tanjungpiayu kapasitas 300 liter per detik dan IPA Duriangkan kapasitas 2.200 liter per detik.
Hingga akhir 2019, PT ATB yang membangun infrastruktur sejak 1995 memililki pipa distribusi sepanjang 4.166 kilometer. Total pelanggan adalah 289.815 pelanngan dengan cakupan pelayanan hingga akhir 2019 sebesar 99,7%.
Anggota Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Syahril Japarin menyatakan nilai kontrak antara BP Batam dan PT Moya Indonesia terkait pengelolaan air mencapai kisaran Rp550 miliar hingga Rp600 miliar per tahun.
Perhitungan nilai kontrak tersebut tergantung pada jumlah air yang terjual ke masyarakat. Jika PT Moya Indonesia hanya akan mengelola air selama enam bulan, maka nilainya sebesar Rp 250 miliar hingga Rp 300 miliar sampai akhir masa kontrak.
“Nilai kontrak tergantung pada jumlah air yang terjual per tahunnya. Kalau PT Moya hanya enam bulan, ya dibagi setengahnya,” ujar Syahril.
Moya Indonesia saat ini mengoperasikan pengelolaan dan pendistribusian air bersih di empat wilayah yakni Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Semarang. Ada delapan perusahaan yang berada di bawah bendera Moya Indonesia yakni PT Aetra Air Jakarta (Aetra Jakarta) dengan kapasitas produksi 10.500 liter per detik, PT Aetra Air Tangerang (Aetra Tangerang) dengan kapasitas produksi 900 liter per detik, PT MOYA Bekasi Jaya (MBJ) dengan kapasitas produksi 1.450 liter per detik, PT MOYA Tangerang (MT) dengan kapasitas produksi 2.000 liter per detik, PT Acuatico Air Indonesia (AAI) dengan kapasitas produksi 85 liter per detik, PT Air Semarang Barat (ASB) dengan kapasitas produksi 1.000 liter per detik, PT Traya Tirta Cisadane (TTC) dengan kapasitas produksi 3.300 liter per detik, PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (TTCM) dengan kapasitas produksi 1.300 liter per detik.
CEO Moya Indonesia Mohammad Selim mengatakan keikutsertaannya dalam tata kelola air di Batam ini adalah wujud dukungan terhadap pemerintah khususnya BP Batam untuk melayani masyarakat. Moya mengaku senang bisa ekspansi ke Batam.
Selim enggan menyebutkan perhitungan bisnis di Batam. Namun, dia mengaku bicara bisnis pasti ada keuntungannya. “Sebagai ilustrasi di Semarang kami menang dengan harga Rp2.900, kalau harga pemerintah sebelumnya Rp3.250. Orang semua tak percaya tapi kami punya rahasianya,” kata dia.
Ilmu yang dimiliki itu, kata Selim akan ditularkan ke Batam. Sehingga akan memberikan keuntungan yang besar. “Saya kira akan menjadi luar biasa untungnya untuk BP Batam dan sedikit untuk Moya,” kata dia. (Can)
Editor: Candra
Baca Juga:
- KERJA SAMA MOYA-BP BATAM: Rudi Jamin Tarif Air Tak Naik
- INFOGRAFIS: Perjalanan Konsesi Air Batam sejak 1995
- Satu Kaki Salim di Kontrak Air Batam








