Si Pencari Hujan

Fery Heriyanto. (foto: gokepri.com)

Cerpen: Fery Heriyanto

Sekitar dua tahun lalu, tak sengaja aku melihat lelaki itu tengah menggelar dagangannya di samping salah satu halte di kawasan bisnis di kota kami. Dia menawarkan dagangannya pada orang yang lalu lalang.

Seminggu kemudian, ketika aku ingin jumpa teman di kecamatan lain di kota kami, aku kembali melihat lelaki itu. Seperti biasa, aku santai saja. Dia menjaga dagangannya sambil terus menawarkannya pada orang-orang yang melintas. Sesekali pula dia tampak menghisap asap rokoknya dalam-dalam.

HBRL

Lalu, sepekan setelah itu, aku melihat dia di tengah pasar dekat komplek perumahan kami. Kali ini lelaki itu sempat menyapa dan menawarkan dagangannya kepadaku.

“Beli, Bang, murah…” ucapnya kala itu.
“Terima kasih, Bang..” balasku tersenyum sembari sedikit menunduk.

Saat itu aku berpikir, wajar saja dia ada di tempat-tempat keramaian untuk menawarkan dagangannya. Dimana dia merasa dagangannya akan dibutuhkan orang, maka lelaki itu akan menggelar dagangannya.

Sekali waktu pernah aku perhatikan, sebelum menggelar dagangan, lelaki itu minta izin pada orang di sekitar tempat dia mau jualan. Setelah dapat izin, dia mengeluarkan plastik warga hitam dari dalam tasnya. Ukurannya sekitar 1 x 1 m. Lalu menyusun dagangannya di atas plastik tersebut. Dagangannya yang ditawarkannya berupa mantel hujan dan payung lipat. Dari semua dagangannya, dia juga memasang barang untuk display masing-masing satu.

Beberapa bulan lalu, tanpa sengaja aku kembali berjumpa dia. Tapi, kali ini di kota lain, tapi masih dalam provinsi kami.

“Gigih juga abang ini berniaga,” ucapku membatin.

Kebetulan pula saat itu dia mau menutup lapaknya. Usai berkemas, dia berjalan menuju ke warung tempat aku tengah menyeruput kopi. Dia duduk tepat di depanku.

“Kopi, pak,” ucapnya pada pemilik warung.

Sejenak aku memperhatikannya. Kemudian aku menyapa dia.

“Bertemu lagi kita disini, Bang,” ucapku membuka percakapan.

Dia menatapku dengan heran.

“Kita sering jumpa, mungkin abang lupa. Saya sering melihat abang di sejumlah tempat di kota kita,” kataku.

Dia tersenyum kecil. “Ya, memang ini aktifitas Saya, Bang,” balasnya.

Kopi yang dipesannya datang. Dia mengaduk minuman berwarna hitam pekat itu.

“Minum, Bang,” ucapnya menawarkan padaku. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

“Dari mana Abang?” tanyanya sambil menyalakan rokok.

“Ada kerjaan sedikit disini, Bang,” jawabku.
“Jauh juga abang berniaga sampai disini,” balasku bertanya.
Dia kembali tersenyum kecil sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Ini hidup saya, Bang. Dimana ada hujan, saya akan datang,” ujarnya.

Aku bingung mendengar penjelasan singkatnya. Otakku berpikir tentang kalimatnya itu. Tapi, sebelum menanyakan maksud kalimatnya itu, aku memberikan keterangan kenapa aku sampai kenal dia.

“Saya sering melihat abang di kota kita,” kataku. “Abang juga pernah beberapa kali menyapa saya menawarkan dagangan,” ujarku melanjutkan. Dia kembali menatap kepadaku.

Belum aku melanjutkan bicara, tiba-tiba nasi goreng pesananku datang. Tanpa bertanya, aku minta satu lagi pada pemilik warung plus 2 gelas air putih hangat.

Ku lihat dia kembali menghisap asap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Tatapannya jauh ke depan. Tak lama, nasi goreng pesanan untuk dia datang.

“Ayok, Bang…” ajakku.

Dia tampak kaku. “Santai aja, Bang,” ujarku mencairkan suasana.

Selesai makan, dia mulai rilek. Setelah menyulut rokoknya, lelaki itu mulai buka suara.

“Saya sudah hidup dari jalanan. Buka lapak dari satu tempat ke tempat lain; dari pasar ke pasar lain; dari tempat ramai ke tempat ramai lainnya; dari satu kota ke kota lain, termasuk di tempat pesta-pesta warga. Pokoknya kalau ada keramaian dan hujan, saya pasti datang” terangnya.

“Maaf, Abang tinggal dimana?” tanyaku. Sejenak dia diam.

“Dimana saya lelah, di situ saya tinggal,” balasnya.

Saat itu aku mau bertanya banyak tentang dirinya, tapi, rasanya tidak etis. Sejenak kami sama-sama diam. Belum sempat aku bertanya balek, tiba-tiba dia mengucapkan terima kasih dan minta izin pamit.

**

Kemarin sore, aku kembali jumpa lelaki itu di salah satu kawasan niaga. Kali ini di kota lain di luar provinsi kami.

“Bang, apa kabar?” sapaku ditengah dia berkemas menutup dagangannya. Dia sedikit kaget, namun terus memasukan mantel dan payung lipat ke dalam tas ranselnya. Tak lupa plastik hitam sebagai lapak dagangannya. Usai berkemas, langsung aku ajak ngopi.

“Ngapain abang di kota ini?”. Kali ini dia yang pertama bertanya.
“Biasa, Bang, ada sedikit tugas.”
“Enak ya, bisa kemana-mana,” lanjutnya.
Kami memesan menu masing-masing. Tak lupa aku minta tambahan rokok untuk dia. Kali ini dia terlihat rileks dan santai. Ngobrol kami mengalir. Tidak ada rasa canggung.

“Lancar, Bang?,” tanyaku.
“Lumayan, pokoknya, dimana ada hujan, Saya akan datang. Hujan adalah harapan,” ucapnya.

“Dimana Abang menginap kalau diluar kota ini?”
“Kalo tubuh ini minta istirahat, saya akan istirahat. Dimanapun itu,” jelasnya lagi. “Bagi Saya dunia ini adalah rumah. Karena itu saya selalu berjalan. Kalau ada hujan, Saya akan ada di sana. Hujan turun, saya yakin ada rezeki di situ,” tuturnya lagi.
“Kalo rumah tetap Abang dimana?” ujarku mengulang pertanyaan.
“Dunia ini adalah rumah sekaligus perjalanan saya,” jawabnya lagi.

Aku mengangkat alis mendengar jawabannya. Saat itu aku menarik kesimpulan jika lelaki di depanku ini adalah pejuang. Petarung untuk dirinya dan mungkin juga untuk orang-orang terdekatnya. Dia mau berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Dia menawarkan mantel dan payung lipat bagi orang-orang yang membutuhkan tanpa ada rasa lelah terpancar dari wajahnya.

“Usah pikirkan apa aktifitas saya, Bang…” ucapnya seolah mengetahui yang ada dalam pikiranku.
“Tidak, Bang, biasa saja,” ucapku.

Dia kemudian menyeruput kopinya.

“Aktifitas ini sudah lama saya lakoni. Saya sudah banyak berjumpa orang, wataknya, gayanya, dan sosialnya,” tuturnya lagi.

“Mungkin dagangan saya receh bagi mereka. Harganya murah. Tapi, saat hujan, mereka pasti butuh. Jika hujan reda, mungkin mereka acuh, dan mungkin juga mencampakanya,” ucapnya melanjutkan.

“Bagi saya, hujan adalah harapan. Jika ada hujan, saya pasti akan tiba di situ,” katanya lagi.

Aku mendengar setiap kalimat yang diucapkannya, mendengar semua intonasinya, raut wajahnya, hingga gestur tubuhnya. Tak terasa, lama juga kami mengobrol. Setelah itu, beberapa saat kami sama-sama terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.

Tiba-tiba lelaki itu izin pamit.

“Terima kasih, Bang, traktiran. Semoga rezeki Abang bertambah dan berkah,” ucapnya.

“Aamiin…Santai saja, Bang. Senang berbincang dengan Abang,” balasku.
“Kemana Abang sekarang?” tanyaku lagi.
“Saya akan selalu mencari hujan untuk hidup. Doakan, biar kita kembali bertemu dan cakap-cakap lagi,” balasnya.
“Oya, lama kita ngobrol, tapi saya belum tahu nama Abang?”
“Panggil saja saya ‘Si Pencari Hujan’,” ujarnya.
Usai kami berjabat tangan, dia pun langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.***

Ahad kedua Syawal 1447 H/2026 M

*) Fery Heriyanto, Jurnalis di Kepri

Pos terkait