Maih

Fery Heriyanto (istimewa)

Cerpen: Fery Heriyanto

Sejak dua tahun terakhir Maih jarang memberi kabar ke kakak-kakaknya. Biasanya, sekali sebulan dia pasti menelpon sekedar bertanya tentang keluarga di kampung. Namun, kini jarang. Sebelumnya, minimal sekali dua bulan dia berkirim sedikit uang jajan untuk ponakannya. Tapi akhir-akhir ini juga jarang dilakukannya.

Hal itu menjadi tanda tanya besar bagi keluarganya. Setiap ditelpon, dia mengatakan jika dirinya sehat-sehat. Akhir Ramadhan lalu, ketika ditanya apakah dia akan mudik, Maih mengatakan belum bisa pulang lebaran. Ini sudah menjadi tahun kedua dia tak berhari raya di kampung. Biasanya, hampir setiap tahun dia selalu berkumpul di rumah gadang keluarga.

HBRL

“Apakah karena sering ditanya kapan menikah yang membuat dia malas pulang?” gumam kakaknya paling besar.

**

Diamnya Maih telah menjadi perbincangan di lingkungan keluarga.

“Kenapa waang jarang memberi kabar akhir-akhir ini?” tanya kakak lelakinya.

“Ndak apo-apo Awak, Da,” jawab Maih suatu kali ditelpon.

“Apa ada masalah? Ceritalah, mana tahu kami bisa bantu.”

“Nggak, Da, awak baik-baik saja,” balasnya.

Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, keluarga pun mencari informasi apa sebenarnya yang tengah menimpa pada adik bungsu mereka itu. Diperoleh informasi, dagang yang dijalaninya tengah lesu. Kabar yang didapat, kedai yang selama ini cukup ramai, sejak beberapa waktu terakhir sepi. Disisi lain, dia harus menyicil kredit yang lumayan banyak, termasuk harus membayar dagangan yang selama ini diambil dari orang.

“Kenapa dia tidak pernah bicara persoalan itu?” tanya kakaknya yang nomor tiga.

“Kau macam tak tahu karakter adikmu itu. Kalau kondisi senang, dia selalu berkabar ke keluarga. Tapi, saat susah, dia memilah diam,” ucap kakak tertuanya.

“Namun, tak elok juga dia diam seperti itu. Apakah masalahnya akan selesai dengan diam tanpa bicara ke kita?” timpal kakak laki-lakinya itu lagi.

“Sudahlah. Persoalan pasang surut berniaga, itu hal biasa. Kau beri semangat saja dia,” tambah kakak perempuannya itu.

**

Sekira sebulan lalu, diperoleh kabar jika Maih sudah menjual rumah dan kendaraanya di rantau. Diperoleh juga informasi jika dia berencana menutup tokonya. Cerita dari orang-orang sekitarnya, sejumlah utang-utang besar sudah dilunasi dari hasil penjualan rumah. Utang lain dijanjikan akan dicicil.

“Kalau sudah tak lagi memberikan hidup tanah rantaunya, suruh saja dia pulang. Rumah amak sudah lama tak dihuni,” kata kakaknya lain.

“Cobalah bicara pada dia. Mau tak dia pulang?”

“Kalau untuk berniaga di kampung, bisalah dia bantu-bantu dahulu di kedai. Nanti kalo sudah ada modal, bolehlah dia kembali ke rantau,” tambah kakaknya yang lain.

“Iya, kalo dia di kampung, rumah amak akan bisa terawat.”

**

Permintaan keluarga yang ingin Maih pulang ke kampung sampai juga ke telinganya.

“Apa yang akan awak kerjakan di kampung, Ni?

Waang indak akan menganggur. Banyak kerjaan yang bisa dilakukan. Uda waang sudah minta untuk bantu-bantu dia di kedai. Trus, kebun yang di belakang rumah amak bisa waang kelola. Hasilnya, ambilah,” ucap kakak perempuannya.

“Dahulu amak sempat berpesan, kalo rantau waang tidak lagi memberi kehidupan, rumah amak dan kebun itu diberikan untuk waang.”

“Kini rumah amak sudah lama kosong. Kami sesekali saja ke sana. Kebun di belakang rumah sudah seperti rimba. Kalo waang di kampung, kami berharap rumah amak bisa dihuni dan kebun itu bisa dikelola.”

“Kami tak senang hati mendengar kondisi waang kini. Dahulu amak juga berpesan ke kami untuk selalu memperhatikan waang. Kini, kami minta waang pulanglah. Tak akan mengganggur waang di kampung. Percayalah.”

**

Usai komunikasi itu, Maih menimbang-nimbang saran yang diberikan keluarganya. Dia sadar, saat ini kondisinya sedang tidak baik. Hampir semua aset sudah terjual. Kini pun dia menyewa kamar di dekat tempat tinggal dahulu.

Dari diskusinya dengan sejumlah kawan-kawan sesama pedagang, ada yang menyarankan menerima tawaran untuk pulang kampung tersebut. Ada juga yang menawarkan untuk join berniaga. Dan ada juga yang menyarankan untuk mengganti usaha yang lain.

“Ni, setelah awak timbang-timbang, awak cobalah untuk pulang,” ucapnya pada kakaknya yang paling besar.

Keinginan Maih itu langsung tersebar ke seluruh keluarga. Semua menyambut positif.

“Kapan dia pulang, biar aku kirimkan ongkos,” ucap kakak lelakinya.

“Besok biarlah awak bantu bersihkan rumah amak. Biar saat dia pulang, rumah itu bersih dan nyaman,” ujar kakak perempuanya yang lain.

“Kalo dia sudah pulang, rumah amak pasti kembali semarak. Ponakannya pasti akan ada yang temani dia di sana,” ucap yang lain.

**

Malam itu, kakaknya tertua menyampaikan jika keluarga sudah menunggunya di kampung.

“Kami senang waang pulang.”

“Tak usah pula waang malu sama orang kampung. Ini bukan aib. Pasang surut berniaga itu hal lumrah. Waang pulang ke rumah keluarga besar,” ucap kakaknya itu lagi.

“Jangan pernah berpikir, apa yang terjadi pada waang kini, hanya waang yang merasakan. Tidak. Kami juga ikut merasakan,” tambahnya lagi.

Maih mendengar semua perkataan kakaknya itu.

“Terima kasih, Ni dan kakak yang lain. Awak sudah menyusahkan pikiran keluarga,” kata Maih.

“Tak ada yang disusahkan. Begitulah sesungguhnya beradik kakak,” ujar kakaknya melanjutnya.

“Kabari segera kapan waang akan pulang,” ucap kakaknya itu.

Beberapa hari setelah pembicaraan malam itu, sekitar pukul 04.02 dinihari, tiba-tiba Maih menelpon kakaknya itu kembali.

“Ada apa waang telpon pagi-pagi buta?” tanya kakaknya heran.

Maih terdiam sejenak.

“Ni, setelah awak pikir, indak usahlah awak pulang dahulu. Biarlah awak cari rantau yang baru,” ucapnya.

“Kenapa waang, Maih? Kemarin waang sudah sampaikan akan pulang kampung. Keluarga sudah senang. Kini berubah pula rencana waang.”

“Terima kasih perhatian semuanya, Ni. Awak merasa ikhtiar awak belum lagi seluruhnya awak keluarkan. Awak percaya, awak bisa bangkit seperti dahulu,” ucapnya.

“Jadi, awak mohon izin, biarlah awak cari daerah baru untuk merantau meskipun dimulai dari nol.”

Dia diam sejenak.

“Awak indak khawatir samo pandayuang patah, Ni. Soalnya sejak kecil badan ini sudah terbiasa dilamun ombak. Biarlah awak coba arungi rantau yang baru,” lanjutnya dari ujung telepon.

“Awak minta maaf tak jadi pulang. Bantu Uni sampaikan ke kakak yang lain. Doakan awak agar bisa seperti dahulu lagi,” tambahnya.

Suasana hening sejenak.

“Iyalah, kalau begitu keinginan waang.”

“Maih, kampung kita terasa sepi karena banyak anak muda pergi merantau. Walaupun tidak semua berhasil, tapi, banyak pula dari mereka tidak mau pulang.”

“Pesan kami, jangan sampai marantau cino pulo waang. Selalulah berkirim kabar,” ucap kakaknya.

Usai percakapan itu, azan Subuh menggema dari Masjid. Maih mengambil pecinya dan melangkah pergi Shalat Subuh. *

Perumahan Cendana, 15 April 2026

NB: Waang (bahasa minang) = kamu (laki-laki)

*) Fery Heriyanto, Jurnalis di Kepri

Pos terkait