JAKARTA (gokepri) – Ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Pemerintah Indonesia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi belum berubah sambil memantau lonjakan harga minyak global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih mencermati perkembangan konflik di kawasan tersebut. Pemerintah belum mengambil langkah menaikkan harga BBM bersubsidi sebelum melihat dampak lanjutan terhadap harga minyak dunia.
Menurut Airlangga, asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Selama harga minyak dunia belum jauh melampaui asumsi tersebut, pemerintah memilih menunggu sebelum menentukan kebijakan baru.
Baca Juga: Impor Minyak AS Bertahap, Indonesia Kejar Cadangan Minyak 90 Hari
“Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel. Jadi kita tunggu saja,” kata Airlangga saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/3).
Ia menambahkan pemerintah menyiapkan sejumlah skenario jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama. Ketidakpastian geopolitik, menurut dia, bisa berlangsung dalam berbagai kemungkinan waktu.
“Sampai kapan, ya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi masing-masing ada skenario,” ujarnya.
Di sisi lain, pakar energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai konflik tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak bahkan dapat menembus 100 dolar AS per barel jika Selat Hormuz ditutup.
Selat Hormuz merupakan jalur laut utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar global. Sekitar seperlima ekspor minyak dunia melewati jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.
Dengan posisi strategis itu, Yayan menilai Selat Hormuz menjadi titik sensitif dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Gangguan pada jalur ini berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi dunia.
“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak bisa naik hingga 50 persen,” kata Yayan. Ia menilai dampak tersebut akan terasa cepat di pasar energi global.
Ia menambahkan Indonesia berpotensi terkena dampak karena masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dari Timur Tengah. Bahkan tanpa penutupan selat tersebut, konflik yang berlangsung saat ini dapat mendorong kenaikan harga minyak sekitar 10 hingga 25 persen.
Jika harga minyak melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel, tekanan terhadap anggaran negara dapat meningkat. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi agar lonjakan harga energi tidak membebani fiskal.
Konflik di kawasan itu memanas setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari. Operasi militer tersebut disebut Washington sebagai langkah untuk meniadakan ancaman dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menjalani tiga putaran perundingan tidak langsung terkait program nuklir Teheran. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh Oman dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan. ANTARA
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 13 Persen, Pasar Cemas Selat Hormuz Terganggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








