Pakar Sebut Kerusakan Hutan Memperparah Dampak Banjir

Bencana alam di Sumatera. (internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Heri Andreas, ST, MT, dari Kelompok Keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi, mengatakan bahwa selain faktor cuaca dan siklon, kerusakan hutan yang menjadi serapan air turut memperparah dampak banjir.

Diketahui, banjir bandang dan longsor melanda beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak 24 November 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, korban jiwa di tiga provinsi telah mencapai sedikitnya 303 orang dan lebih dari 200 lainnya masih hilang.

Bencana ini menuai sorotan berbagai pihak terutama setelah banjir membawa gelondongan kayu, bahkan hingga ke laut. Gelondongan kayu terbawa banjir di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, juga di Padang.

“Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai runoff. Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah,” katanya, dikutip dari laman ITB, Minggu (30/11/2025).

Ia menjelaskan, kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. Ketika kawasan tersebut mulai hilang, maka kemampuan menyerap menurun signifikan dan menyebabkan peningkatan pelepasan air hujan yang jauh lebih besar.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” lanjutnya.

Sebuah studi yang terbit di IOP Science pada 1 Februari 2019 oleh Kemen G Austin, dan kawan-kawan, menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi faktor terbesar deforestasi atau hilangnya tutupan hutan secara permanen.

Studi tersebut menyelidiki penyebab deforestasi di Indonesia setiap tahun antara tahun 2001 dan 2016. Para peneliti menganalisis menggunakan data tahunan tentang hilangnya tutupan hutan dan citra resolusi tinggi yang tersedia di Google Earth.

Menurut hasil analisis, deforestasi terbesar pada periode tersebut terjadi di Sumatera disusul Kalimantan dengan lebih dari 40 persen (dari deforestasi nasional).

“Tingkat deforestasi yang tinggi dan terus meningkat selama tahun 2001-2016, yang mengakibatkan emisi GRK yang besar dan membahayakan jasa ekosistem yang berharga. Deforestasi ini sebagian besar terjadi di pulau-pulau besar Sumatera (47% dari deforestasi nasional) dan Kalimantan (40% dari deforestasi nasional),” papar peneliti.

Peneliti menyebut, perkebunan kelapa sawit menjadi pendorong tunggal terbesar deforestasi, yang mengakibatkan 23% (90% CI 18%-25%) deforestasi secara nasional.

Deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan kayu mencapai puncaknya pada 2010-2012. Sementara deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan skala besar lainnya meningkat menjelang akhir 2016.

Sementara itu, Global Forest Watch mencatat, dari 2001 sampai 2024, Indonesia telah kehilangan tutupan pohon yang menjadi penyebab deforestasi. Tutupan pohon mencakup vegetasi dengan tinggi lebih dari lima meter di sebuah area. *

(sumber: detik.com)

 

 

Pos terkait