Lansia Rentan Hipertensi, Apa Solusinya?

Milenial Hipertensi
Ilustrasi. (Foto: Dribbble.com)

Perluasan skrining, penguatan layanan primer, dan pendampingan jangka panjang dinilai penting untuk menekan komplikasi hipertensi pada kelompok lanjut usia.

JAKARTA (gokepri) — Hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan menunjukkan hipertensi masih menjadi persoalan dominan pada kelompok lanjut usia. Dari 6,8 juta lansia peserta CKG, sebanyak 4,36 juta orang atau 63,5 persen tercatat mengalami tekanan darah tinggi.

Temuan itu memperlihatkan besarnya beban penyakit tidak menular pada kelompok usia lanjut. Hipertensi bukan hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan, tetapi juga berpotensi menambah beban sosial dan ekonomi keluarga karena kebutuhan perawatan jangka panjang.

HBRL

Baca Juga: Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Batam, 5.000 Kasus per Bulan

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan secara global sekitar 1,4 miliar penduduk hidup dengan hipertensi. Namun, hanya sekitar satu dari empat penderita yang mampu mengendalikan tekanan darahnya.

Menurut Imran, tren penuaan penduduk dan urbanisasi memperbesar tantangan pengendalian hipertensi, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Hipertensi pada lansia memiliki konsekuensi klinis dan sosial yang berat. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis,” ujar Imran di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan, berbagai penelitian epidemiologi juga menunjukkan hipertensi jangka panjang berkaitan dengan percepatan penurunan fungsi kognitif dan meningkatnya kebutuhan layanan perawatan jangka panjang.

Di lapangan, tingginya kasus hipertensi pada peserta skrining lansia juga muncul bersamaan dengan gangguan mobilitas. Kondisi itu membuat persoalan medis berkembang menjadi persoalan fungsional hingga ekonomi bagi keluarga dan sistem kesehatan.

Karena itu, pengendalian hipertensi dinilai tidak cukup bertumpu pada pemberian obat. Penanganan perlu diperluas melalui rehabilitasi, dukungan bagi pendamping atau caregiver, serta perlindungan pembiayaan bagi lansia dari kelompok rentan.

Imran menilai pencegahan hipertensi paling efektif dimulai sejak usia produktif melalui pemeriksaan tekanan darah rutin mulai usia 18 tahun serta pemeriksaan berkala bagi kelompok lanjut usia.

“Intervensi yang terbukti menurunkan risiko meliputi pengurangan konsumsi garam menjadi kurang dari lima gram per hari, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, pengendalian berat badan, pola makan sehat, pembatasan konsumsi alkohol, dan berhenti merokok,” kata Imran.

Ia menjelaskan deteksi dini dan penanganan di layanan kesehatan primer dapat menekan risiko komplikasi, seperti stroke, penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hingga gangguan kognitif.

Pada kelompok lansia, pendekatan penanganan perlu disesuaikan untuk menghindari hipotensi ortostatik atau penurunan tekanan darah saat perubahan posisi tubuh. Pemantauan fungsi organ dan rehabilitasi juga menjadi bagian penting penanganan.

Menurut Imran, pengendalian hipertensi membutuhkan pendekatan lintas sektor atau pentaheliks. Pemerintah berperan melalui kebijakan pengurangan garam dan pelabelan gizi, fasilitas kesehatan memperkuat layanan primer dan rujukan geriatri, akademisi menyediakan riset dan pelatihan, dunia usaha mendukung produk ramah lansia, sementara media dan masyarakat memperluas edukasi pencegahan.

“Momentum Hari Hipertensi 2026 perlu dimanfaatkan untuk memperluas skrining, memperbaiki kesinambungan pelayanan, serta mengintegrasikan rehabilitasi dan dukungan sosial bagi lansia agar mereka tetap mandiri,” ujar Imran. ANTARA

Baca Juga: Hipertensi Kini Jadi Masalah Kesehatan Remaja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait